oleh

Catatan Andi Mudzakkar Tentang Syahrul Yasin Limpo

Satu dekade mengabdikan diri pada negeri
Mengukir prestasi tanpa membanggakan diri. Bekerja semata abdi, pantang surut meskipun dihadang badai….

Entah saya harus memulainya darimana. Saya bukanlah pujangga, yang penanya mengalir deras setiap kali merangkai kata, hingga indah dibaca.

Tapi biarlah ! Izinkan saya sekali ini saja menulis secarik catatan kecil ini. Biarkan rasa terima kasih dan banggaku menuntun penaku. Izinkan saya menulis dengan memuji, yang memang pantas diuji. Goresan penaku jangan diharap indah, tapi semoga berhikma.

Bismillahirahmanirrahim…..

Hal yang paling menyedihkan dalam hidup adalah ketika saya dan kita semua diperhadapkan pada satu kata ; pisah. Semua kenangan menyeruak, memenuhi langit-langit pikiran hingga satu kata itu masuk menusuk menyesakkan dada. Ada ketidakrelaan berpisah, ikatan genggaman tangan seolah berat saling melepaskan, ada cerita tertunda. Semua ingin terulang, tapi apa daya. Tuhan dengan kuasa waktunya telah menetapkan batas, yang dengan itu kita sadar, bahwa pada dasarnya semua akan berakhir.

Itulah yang saya rasakan dalam kapasitas saya sebagai seorang adik dan bupati, ketika harus berpisah dengan kakak sekaligus seorang atasan saya, Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo yang telah mengakhiri baktinya sebagai Gubernur pada tanah Sulawesi Selatan yang begitu dicintainya. Saya pun boleh berkata satu dekade sepertinya tak cukup untuk menceritakan bagaimana sosok Syahrul membangun Sulawesi Selatan dengan memegang kuat prinsip “Kualleangi tallang na towaliya” artinya sekali layar terkembang pantang biduk surut ke pantai.

Syahrul tak bisa dipungkiri bahwa ia berprestasi. Sejarah telah menulis, 200 lebih penghargaan nasional menjadi tanda bahwa ia benar bekerja demi rakyatnya. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan di atas rata-rata nasional, bukti Syahrul bekerja keras mengabdikan dirinya ibarat membawa perahu ke lautan dalam.

Layar boleh terkoyak badai, tapi perahu mestilah sampai. Biarlah kebaikan yang dikerjakan Syahrul itu, menjadi buih-buih di lautan setelah ombak meninggalkannya pergi, menjadi sejarah baik, menjadi kenangan manis yang tersimpan apik di hati rakyatnya terlepas kesalahan-kesalahannya sebagai manusia biasa.

Satu hal yang terekam baik dalam memori pikiran saya adalah teladan Syahrul yang mencerminkan sifat karakter Bugis Makassar, yang melekat kuat pada dirinya hingga dicontohkan dalam membawa sebuah pemerintahan.

Syahrul tak suka basa-basi, yang saya analogikan seperti badik yang selalu diselipkan pada pakaian di depan perut. Diperlihatkan, langsung pada inti pembicaraan, “silangsungang” orang Luwu bilang.

Kalau marah, maka nada marahlah yang keluar. Sebaliknya, ketika Syahrul memuji, percayalah itu murni. Mukanya akan menampakkan totalitas. Dan itu akan menjadi hal yang saya rindukan, seorang atasan dan kakak yang senantiasa membimbing dengan terlebih dahulu memberi tauladan bukan pencitraan.

Waktu telah mengakhiri dan kita tak kuasa menghindari kehendak ilahi. Seorang kakak akan pergi mengarungi bahtera baru. Kalaulah “komandan” menitip kerinduannya pada jejak buih di lautan, aku pun menitip rindu pada rinai hujan yang tak bisa kubendung ketika datang.

Terima kasih Komandan untuk satu dekade yang membanggakan.

Dariku Adikmu…
Andi Mudzakkar

 width=

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed