oleh

Muhlis Pasakai : Sepucuk Surat di Sebuah Latsar

Opini, Matasulsel – Bahasa apakah yang dapat kita kuasai untuk mengungkapkan perasaan? Sepertinya, bahasa semacam itu tidak ada. Tulis Kartini kepada salah seorang sahabat penanya, Mandri, pada Agustus 1900.

Banyak hal yang tak dapat terungkapkan melalui lisan, maka izinkanlah aku mengutarakan seuntai kata hati melalui catatan kecil ini.

Sahabat! Tahukah apa yang paling merisaukan aku tentang sebuah perjumpaan?. Adalah ketika kebersamaan itu tidak menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya. Terhadap setiap orang yang mengenalku, bersama denganku, lalu kebersamaan itu berlalu tanpa meninggalkan jejak-jejak kemaslahatan, karena aku yakin perjumpaan itu bukanlah kebetulan. Adalah hal yang paling menakutkan dalam hidupku ketika orang-orang yang telah bersamaku itu akan menuntutku pada hari kemudian, karena aku tak dapat menjalankan misi amar ma’ruf nahi mungkar dengan baik kepada mereka. Karena itu, dengan segala kerendahan hati, saya mengetuk pintu hati sahabat sekalian untuk memberikan uzur kepadaku, untuk tidak membebaniku di akhirat kelak. Cukuplah dosa dan keburukan-keburukanku sendiri yang jumlahnya berjibun akan mematahkan tulang punggung kebaikanku untuk memikulnya, jika Allah tak mengampuniku. Perkenankanlah secuil nasehat-nasehat receh yang telah kulontarkan dalam kelas untuk menyertai amalan kita, tidak hanya menjadi kumpulan kosa kata dalam ilmu sebagai pemanis bibir, seperti kata Al Ghazali bahwa ilmu itu adalah ma yazidu fi khaufika minallahi ta’ala (ilmu itu adalah apa yang menambah rasa takut kita kepada Allah).

Sahabat! Arti sebuah persahabatan itu tidak hanya sampai di dunia ini, tapi kita akan bawa sampai ke akhirat. Air mataku seperti akan menetes ketika membaca sebuah potongan ayat di dalam Surah az-Zukhruf ayat 67, “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain”. Rupanya tidak semua orang yang menjalin persahabatan di dunia ini, akan dibawa sampai mati. Bahkan yang sangat menyakitkan, ada jenis persahabatan yang terjalin di dunia, tapi saling menyalahkan di hari kemudian. Itulah kenapa orang-orang yang menyesal di akhirat mengatakan “Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan dia itu teman akrabku” (al Furqan: 28). Ia menyesal atas persahabatan yang telah dijalinnya, karena dari persahabatan itu justru menjadi penyebab ia dilalaikan dari Allah, seperti yang dikatakan “Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an” (al-Furqan: 29).

Sahabat! Tahukah kamu? Ada kebahagiaan terbesar yang aku rasakan selama kita mengikuti Latsar, yaitu kepedulian dan perhatian penyelenggara terhadap waktu pelaksanaan shalat. Perkara yang menjadi momok menakutkan bagiku di setiap aku mengikuti kegiatan, ketika penyelenggara dan peserta secara kolektif tak mempedulikan suara azan. Sebut saja aku sok alim, tidak apa-apa. Aku hanya ingin jujur mengatakan bahwa aku merasa Allah mengabulkan doa dan dzikir yang selalu kuwiridkan di lisanku selama ini, Allahumma a’inni alaa zikrika wa syukrika wa husni ibaadatika, artinya Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir kepadaMu, bersyukur kepadaMu, dan memperbaiki ibadahku kepadaMu. Lagipula, diantara kenikmatan terbesar yang kita dapatkan di dunia ini adalah ketika kita dipertemukan dengan orang-orang yang dapat membuat iman kita lebih baik, bukan sebaliknya. Karena itu, semoga Allah mengizinkan saya bersaksi pada hari kemudian tentang kebaikan yang dilakukan penyelenggara ini.

Terkhusus untuk rekan sekamarku, jaga dan kuatkanlah prestasi besarmu selama bersamaku, yaitu shalat subuh di Masjid. Begitulah cara kita melatih kekuatan ruh kita. Ketahuilah, bahwa kekuatan manusia tidak semata-mata terletak pada kekuatan raganya. Saya pernah membaca tentang orang yang memiliki tubuh yang besar, badan dan otot yang kekar, yang di siang hari sanggup mengangkat beban berkilo-kilo, tapi ketika memasuki waktu subuh, ujung kain sarungnya yang hanya beberapa ons tak sanggup diangkatnya untuk memenuhi panggilan subuh. Sekali lagi, kekuatan kita bukan sepenuhnya terletak pada kekuatan fisik, bahkan raga kita hanya dapat berfungsi ketika ruh didalamnya masih ada. Itulah kenapa seseorang yang tubuhnya besar, badannya kekar, ketika ruh didalamnya sudah tiada, maka seekor lalat yang terbang menghinggapinya pun tak sanggup lagi diusirnya.

Sahabat! Aku malu. Saat kalian menganggapku lebih baik, dipanggil ustadlah, dan sebagainya. Kendati pun aku mengimami shalat-shalat kalian, atau memenuhi amanah ceramah, itu bukanlah alamat bahwa saya lebih shalih. Dengarkanlah! Bahwa saya tidaklah lebih baik dari kalian. Bahkan dalam beberapa sisi mungkin saya lebih buruk. Banyak hal yang sahabat tak ketahui tentang diriku. Tentang aib dan keburukan-keburukanku yang tak terhitung jumlahnya. Adakalanya raga ini dapat kita kontrol, tapi hati, pikiran dan perasaan terkadang liar tak terkendali. Sebuah perkataan ulama Lau kana yujadu lizzunubi rihun ma qadartum antadnua minni min natani rihi, secara bebas dapat diartikan bahwa seandainya dosa itu memiliki bau, niscaya kalian tak akan sanggup mendekat kepadaku karena busuknya bauku. Jika seorang salaf sekaliber Muhammad bin Wasi’ yang terkenal dengan keshalihannya saja berkata demikian, maka jauh lebih layak ucapan itu keluar dari mulut saya.

Terakhir, saya berharap kebersamaan yang telah dirajut dengan segenap manis getirnya tidak berhenti sampai disini. Rawatlah menjadi lebih sehat dan kuat. Dengan segala kekurangan yang ada padaku, izinkanlah aku tetap berada di hati dan di tengah-tengah sahabat sekalian, untuk memberikan warna dalam kehidupan kita yang lebih baik.

Semoga bermanfaat! Allahu A’lam Wa Hua Waliyyu at-Taufiq.

Kudedikasikan untuk sahabat-sahabatku peserta Latsar CPNS GOL. III Angkatan I PPSDM Kemendagri Regional Makassar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.