MATA SULSEL, MAKASSAR – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Selatan (Kanwil DJBC Sulbagsel) menegaskan komitmennya memperluas pemberian fasilitas kepabeanan dan cukai untuk mendorong pertumbuhan industri, investasi, serta perekonomian kawasan Sulawesi Selatan dan sekitarnya.
Hal itu disampaikan Kepala Kanwil DJBC Sulbagsel, Djaka Kusmartata, saat memaparkan kinerja Bea Cukai Sulbagsel di Gedung Keuangan Negara (GKN) II Makassar, Senin (26/1/2026).
Djaka menyatakan, meski fasilitas tersebut berdampak pada pengurangan potensi penerimaan Bea Masuk (BM), kebijakan fiskal dan nonfiskal terbukti mampu memperkuat kinerja ekspor, investasi, serta penyerapan tenaga kerja.
“Meskipun ada potensi penerimaan yang ditangguhkan, dampak ekonominya jauh lebih besar karena mampu mendorong ekspor, investasi, dan pertumbuhan ekonomi, terutama di sekitar perusahaan pengguna fasilitas,” ujar Djaka.
Hingga saat ini, Bea Cukai Sulbagsel telah memberikan fasilitas 10 kawasan berikat dengan potensi BM ditangguhkan Rp53,07 miliar, PPN ditangguhkan Rp153,09 miliar, dan PPh ditangguhkan Rp36,50 miliar, yang menyerap 2.436 tenaga kerja.
Selain itu, terdapat satu fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) dengan potensi BM ditangguhkan Rp69,1 miliar, PPN ditangguhkan Rp124,3 miliar, serta menyerap 249 tenaga kerja.
Secara keseluruhan, pemberian fasilitas tersebut telah menambah nilai investasi sebesar USD17,814 juta dan memberikan dampak ekonomi ke wilayah sekitar perusahaan berupa tumbuhnya 216 unit usaha rumah tangga, 173 usaha kecil, 51 usaha menengah, dan 25 usaha besar di sektor perdagangan, akomodasi, makanan, dan transportasi.
Djaka menegaskan, pihaknya siap menambah pemberian fasilitas kepabeanan dan cukai, bergantung pada usulan dan kesiapan pelaku usaha.
“Kami siap menambah fasilitas tersebut, namun semuanya bergantung pada kesiapan dan pengajuan dari dunia usaha,” tegasnya.
Pada 2025, kinerja impor-ekspor pengguna fasilitas kawasan berikat tercatat mencapai USD386 juta. Komoditas ekspor terbesar berasal dari produk nikel dengan nilai devisa USD295,6 juta, disusul karaginan USD72,08 juta, dan kepiting USD15,32 juta.
Di sisi penerimaan negara, kinerja Bea Cukai Sulbagsel di wilayah Sulawesi Selatan sepanjang 2025 melampaui target dengan realisasi 122,33 persen, atau sebesar Rp392,7 miliar dari target Rp320,5 miliar.
Penerimaan tersebut terdiri dari Bea Masuk Rp233,7 miliar, Bea Keluar Rp51,2 miliar, dan Cukai Rp107,2 miliar.
Djaka juga menyampaikan bahwa neraca perdagangan Sulawesi Selatan menunjukkan tren positif. Devisa ekspor kumulatif tercatat USD1,98 miliar, sementara devisa impor kumulatif sebesar USD1,04 miliar, ditopang peningkatan ekspor kakao dan komoditas industri pengolahan.
“Komoditas ekspor masih didominasi produk konvensional seperti nikel matte, fero nikel, kakao, rumput laut, dan karaginan. Meskipun nikel terkontraksi dibanding 2024, tetap menjadi penyumbang devisa terbesar,” jelasnya.
Sementara itu, komoditas impor utama meliputi gandum, gula, bungkil dan residu kedelai, minyak petroleum, serta aksesoris dan perangkat telepon seluler.
Bea Cukai Sulbagsel menegaskan bahwa perluasan fasilitas kepabeanan dan cukai akan terus diarahkan untuk memperkuat struktur industri, meningkatkan ekspor, memperluas kesempatan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi regional yang berkelanjutan. (Farez)

Tinggalkan Balasan