Pramuka dan HKTI Perkuat Swasembada Pangan Lewat Tanam Kedelai, Kadin Dorong Intervensi Harga. (Ist)

Pramuka dan HKTI Perkuat Swasembada Pangan Lewat Tanam Kedelai, Kadin Dorong Intervensi Harga

 

MATA SULSEL, CIBUBUR – Gerakan Pramuka bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia terus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui program penanaman kedelai yang masih menjadi komoditas impor utama di Indonesia.

Kolaborasi ini ditandai dengan panen perdana kedelai di kawasan Buperta Cibubur, Jakarta Timur, dengan luas tanam mencapai 5 hektare dan produktivitas sekitar 2–3 ton per hektare. Hasil panen tersebut akan digunakan sebagai bibit unggul yang akan disertifikasi oleh Kementerian Pertanian guna mendukung kebutuhan nasional.

Selain di Cibubur, program ini juga dikembangkan lebih luas, termasuk penanaman kedelai di lahan 200 hektare di Lebak serta kerja sama dengan dunia usaha di berbagai daerah.

Upaya ini menjadi bagian dari strategi besar menuju swasembada kedelai sebagaimana diarahkan Presiden Prabowo Subianto.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pemberdayaan petani. Petani mendapatkan dukungan berupa bibit, pupuk, pendampingan, hingga jaminan pembelian hasil panen oleh pemerintah, sehingga meningkatkan motivasi dan kesejahteraan mereka.

Di sisi lain, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia), Andi Yuslim Patawari sapaan AYP, menegaskan bahwa upaya swasembada pangan harus dibarengi dengan kebijakan yang konkret, terutama dalam menjaga stabilitas harga pangan lokal.

Menurutnya, intervensi harga diperlukan agar produk pangan dalam negeri mampu bersaing dengan produk impor. “Program swasembada pangan harus dibarengi langkah konkret, salah satunya dengan menekan harga pangan produksi lokal,” ujarnya.

Ia menilai, kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat seperti Pramuka, kelompok tani melalui HKTI, serta sektor swasta menjadi kunci keberhasilan. Pendekatan sektoral dinilai tidak lagi relevan dalam menghadapi tantangan pangan nasional.

Lebih lanjut, AYP menekankan pentingnya perlindungan terhadap produk pangan lokal agar tidak kalah bersaing dengan produk impor yang seringkali lebih murah. Ia mengingatkan bahwa tanpa kebijakan yang tepat, petani lokal berpotensi dirugikan.

Program kolaboratif ini juga sejalan dengan target pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor kedelai secara bertahap hingga mencapai swasembada dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan sinergi lintas sektor dan dukungan kebijakan yang tepat, Indonesia diharapkan mampu membangun kedaulatan pangan, sekaligus menjadikan produk lokal sebagai tuan rumah di negeri sendiri.


Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *