Kepala BGN Resmikan Dapur MBG Unhas, Jadi Laboratorium Gizi Terpadu

Kepala BGN Resmikan Dapur MBG Unhas, Jadi Laboratorium Gizi Terpadu

MATA SULSEL, MAKASSAR – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamalanrea 14 di lingkungan Universitas Hasanuddin, Selasa (14/4/2026).

Fasilitas tersebut tidak hanya difungsikan sebagai dapur program Makanan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga dikembangkan sebagai laboratorium terpadu untuk riset nutrisi, ketahanan pangan, dan kesehatan masyarakat.

SPPG yang dikelola Yayasan Metavisi Akademik Nusantara ini menjadi bagian dari dukungan terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi, sekaligus memperkuat implementasi program MBG sebagai salah satu prioritas nasional dalam agenda pembangunan pemerintah.

Peresmian turut dihadiri Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung, serta anggota DPR RI Nurdin Halid bersama para rektor PTN-BH dari berbagai daerah.

Rektor Unhas Jamaluddin Jompa menegaskan fasilitas tersebut tidak dibangun sebagai dapur produksi biasa. Menurutnya, SPPG Tamalanrea 14 dirancang sebagai sistem terintegrasi yang menghubungkan layanan gizi masyarakat dengan pendidikan, penelitian, serta inovasi kampus.

“Ini adalah laboratorium gizi, pusat studi, dan ruang riset untuk mengembangkan berbagai model intervensi pemenuhan gizi bagi anak-anak, ibu hamil, hingga kelompok masyarakat rentan lainnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pendekatan berbasis kampus memungkinkan setiap proses pemenuhan gizi dapat diukur, dievaluasi, dan dikembangkan melalui data ilmiah.

Model tersebut juga mendorong keterlibatan lintas disiplin, mulai dari kesehatan masyarakat, teknologi pangan, hingga kebijakan publik.

Unhas juga mendorong sektor internal kampus, khususnya pertanian dan peternakan, untuk menjadi pemasok bahan baku program.

Skema ini dinilai mampu membentuk rantai pasok pangan sehat yang lebih pendek, efisien, dan terkontrol kualitasnya, sekaligus membuka peluang lahirnya inovasi berbasis agritech dan kewirausahaan sosial.

Gubernur Andi Sudirman Sulaiman menyebut intervensi gizi memiliki dampak langsung terhadap tumbuh kembang anak. Berdasarkan pengamatan di sejumlah daerah, program makan bergizi mampu mendorong perubahan perilaku dan kondisi fisik anak.

“Anak-anak menjadi lebih bersemangat, nafsu makan meningkat, dan mulai terbiasa makan secara teratur,” katanya.

Ia juga menilai program MBG memiliki efek ekonomi karena melibatkan petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM dalam rantai pasok bahan pangan.

Menurutnya, ketika kebutuhan bahan baku dipenuhi dari ekonomi lokal, maka program gizi juga turut mendorong peningkatan pendapatan masyarakat.

Sementara itu, Dadan Hindayana menilai model SPPG yang dikembangkan Unhas dapat menjadi contoh nasional. Ia menekankan bahwa status gizi yang baik berkorelasi langsung dengan produktivitas ekonomi dan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, kampus memiliki posisi strategis untuk menghadirkan solusi berbasis sains dalam persoalan gizi nasional.

Melalui SPPG Tamalanrea 14, Unhas dinilai tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga berperan aktif menghadirkan inovasi nyata bagi peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. (*)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *