MATA SULSEL, MAKASSAR – SMP Negeri 1 Makassar menghadirkan pendekatan berbeda dalam membangun budaya belajar.
Lewat filosofi “Porenadi’”, sekolah ini tidak sekadar mengusung slogan, tetapi menjadikannya sebagai fondasi yang menjiwai seluruh aktivitas pendidikan, mulai dari ruang kelas hingga pengembangan guru.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Anwar, menjelaskan bahwa Porenadi’ merupakan singkatan dari Potensi Berliterasi Anak Secara Digital.
Konsep ini dirancang sebagai filosofi pergerakan yang mengarahkan seluruh program sekolah agar selaras dengan kebutuhan pendidikan modern.
“Dalam pelaksanaannya, Porenadi’ terejawantahkan dalam dua bentuk. Pertama, menjadi nama podcast sekolah, yaitu Porenadi’. Kedua, menjadi bentuk inovasi sekolah,” ujarnya, Rabu (29/4).
Implementasi Porenadi’ tidak berhenti pada simbol. Program ini telah diuji melalui berbagai ajang inovasi pendidikan, termasuk masuk nominasi tingkat Kota Makassar pada 2025.
Capaian tersebut dinilai sebagai indikator bahwa pendekatan berbasis literasi digital ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Lebih jauh, Anwar menegaskan bahwa filosofi menjadi elemen penting dalam menjaga arah sebuah institusi pendidikan.
“Kami percaya bahwa sebuah organisasi tanpa filosofi akan terasa kering. Oleh karena itu, kami ingin semua aktivitas di sekolah memiliki arah dan nilai yang jelas,” katanya.
Selain Porenadi’, sekolah juga mengembangkan program “Semata” (Sekolah Memuliakan Tamu) yang menitikberatkan pada pelayanan.
Program ini menghadirkan ruang transit dan sistem penerimaan tamu yang lebih humanis, baik untuk orang tua siswa maupun pengunjung umum.
Dalam praktiknya, Porenadi’ telah berjalan sekitar empat tahun dan terus berkembang.
Pada level siswa, konsep ini diterapkan melalui beragam kegiatan, termasuk 11 hingga 12 pilihan ekstrakurikuler untuk mengasah potensi secara optimal.
Sementara itu, penguatan kapasitas guru dilakukan melalui program rutin seperti Hari Belajar Guru setiap Jumat dan komunitas kolaboratif “Guru Pore”.
Dalam komunitas ini, para pendidik saling berbagi metode pembelajaran, mendiskusikan tantangan di kelas, hingga merumuskan solusi bersama.
“Masalah yang dihadapi satu guru menjadi masalah bersama yang diselesaikan secara kolaboratif,” jelas Anwar.
Istilah “Pore” sendiri diangkat dari bahasa Makassar yang diberi makna baru sebagai representasi guru yang profesional, adaptif, dan mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman.
Paradigma ini sekaligus menggeser peran guru dari figur otoritatif menjadi fasilitator dan mitra belajar bagi siswa.
“Guru tidak lagi diposisikan sebagai sosok yang berkuasa penuh di kelas, melainkan sebagai fasilitator, mitra, dan teman bagi siswa,” tambahnya.
Melalui Porenadi’, SMP Negeri 1 Makassar berupaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih kolaboratif, inovatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Filosofi ini tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga arah strategis dalam mencetak generasi yang adaptif dan berdaya saing di era digital. (*)

Tinggalkan Balasan