MATA SULSEL, JENEPONTO – Di sebuah pelaminan sederhana namun penuh hiasan bunga berwarna pastel di Togo-togo, Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, Sulsel, Kamis (30/4/2026), terpampang pemandangan yang jarang ditemui dalam resepsi pernikahan pada umumnya.
Di samping kedua mempelai yang duduk anggun, bukan amplop putih atau kotak kayu yang disediakan. Sebagai gantinya, selembar kertas kecil bertuliskan kode QRIS menempel di papan dekoratif di dekat tangan sang pengantin.
Seluruh mata tertuju pada pasangan pengantin, Nurjiah dan H. Johansah. Namun, yang menjadi perbincangan hangat di antara para tamu bukanlah gaun atau riasan, melainkan papan QRIS yang dipegang langsung oleh kedua mempelai.
Suasana haru dan bahagia menyelimuti area resepsi. Para tamu undangan yang datang, sebagian besar adalah rekan sesama agen BRILink dan warga sekitar, tampak antusias. Mereka tidak lagi sibuk menyiapkan amplop atau mencari uang pas di saku. Cukup dengan membuka aplikasi dompet digital di ponsel masing-masing, mereka mengarahkan kamera ke kode QR yang tersedia, memasukkan nominal hadiah, dan dalam hitungan detik, saldo berpindah.
“Ini pertama kalinya saya datang ke pesta pernikahan pakai QRIS. Biasa kan kita sibuk cari amplop, sekarang tinggal scan aja. Lebih simpel, lebih bersih,” ujar Hasan, salah satu tamu undangan yang terlihat antusias mempraktikkan cara baru tersebut.
Ide Kreatif yang Lahir dari Persahabatan dan Semangat Digitalisasi
Di balik inovasi unik ini, ada sosok Wawan Sentul, sahabat sekaligus rekan sesama agen BRILink dari Nurjiah. Wawan adalah orang yang mencetuskan ide mengganti amplop fisik dengan scan QRIS di pelaminan.
Menurutnya, langkah ini bukan sekadar tren, melainkan bentuk nyata dukungan terhadap gerakan transaksi non-tunai yang selama ini digaungkan oleh perbankan, khususnya BRI.
“QRIS bukan hanya untuk kebutuhan sehari-hari seperti belanja di warung atau bayar parkir. Saya pikir, kenapa tidak digunakan juga di momen sakral seperti pernikahan? Lebih praktis, efisien, dan sesuai dengan semangat cashless society yang sedang kita bangun bersama,” ungkap Wawan saat ditemui di sela-sela acara.
Wawan menambahkan bahwa ide ini juga untuk mengurangi risiko kehilangan uang tunai di tengah keramaian pesta. Dengan QRIS, hadiah langsung masuk ke rekening secara aman dan tercatat rapi.
Nurjiah, sang mempelai wanita yang juga seorang agen BRILink andalan di wilayah Batang, mengaku bangga dengan konsep pernikahannya. Baginya, ini adalah cara untuk menunjukkan bahwa teknologi bisa berpadu harmonis dengan tradisi.
“Saya sebagai agen BRILink sehari-hari mengajak masyarakat untuk bertransaksi secara digital. Maka di hari bahagia saya, saya ingin memberi contoh langsung. Ini bukan sekadar pesta, tapi juga edukasi bagi tamu bahwa transaksi non-tunai itu mudah dan bisa dilakukan di mana saja, bahkan di pelaminan,” ujar Nurjiah tersenyum.
Sang suami, H. Johansah, pun mendukung penuh keputusan istrinya. “Saya bangga istri saya kreatif dan berani tampil beda. Semoga ini jadi berkah dan bisa ditiru oleh pasangan lain,” timpalnya.
Konsep pernikahan dengan QRIS ini langsung menuai respon positif dari para tamu. Banyak yang mengaku terkesan dan ingin menerapkan hal serupa di acara pernikahan keluarga mereka. Selain mengurangi kerepotan, cara ini dianggap lebih modern, higienis, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Pernikahan Ibu Nurjiah dan H. Johansah pun menjadi buah bibir di kalangan agen BRILink dan masyarakat Jeneponto. Warung kopi, grup WhatsApp, hingga medsos lokal ramai membahas “pernikahan QRIS” yang dinilai unik dan inspiratif.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, pernikahan Nurjiah dan H. Johansah di Togo-togo menjadi pengingat bahwa tradisi tidak harus kaku. Amplop sebagai simbol pemberian tetap ada, hanya wujudnya yang berubah: dari kertas menjadi gelombang data.
Momen ini menjadi bukti bahwa inovasi bisa lahir dari mana saja, bahkan dari pelaminan seorang agen BRILink. Dan ketika cinta bersanding dengan teknologi, yang lahir bukan sekadar kebahagiaan, melainkan sebuah gerakan kecil yang bisa mengubah kebiasaan banyak orang.
Sementara itu, Pimpinan Cabang BRI Jeneponto Ari Kusmayadi menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap inisiatif yang lahir dari para agen BRILink di lapangan. Menurutnya, momen sakral seperti pernikahan justru menjadi sarana edukasi yang paling efektif untuk memperkenalkan dan membiasakan masyarakat dengan transaksi non-tunai.
“Ini adalah sebuah terobosan yang luar biasa. Saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Ibu Nurjiah dan suami serta saudara Wawan Sentul selaku penggagas ide. Mereka telah membuktikan bahwa inovasi digital tidak harus lahir dari ruang rapat, tetapi bisa muncul dari akar rumput, dari momen kebahagiaan seperti pernikahan,” ujar Ari Kusmayadi dengan nada bangga saat ditemui di kantor Cabang BRI Jeneponto, Jumat (1/5/2026).
Ari menegaskan bahwa langkah yang diambil oleh Nurjiah dan kawan-kawannya sejalan dengan visi besar BRI untuk mendorong inklusi keuangan dan percepatan digitalisasi di seluruh lapisan masyarakat, termasuk di daerah-daerah pedesaan.
“Kami selalu mendorong agen BRILink untuk menjadi agen perubahan. Dan apa yang dilakukan oleh Ibu Nurjiah adalah contoh nyata bahwa agen BRILink tidak hanya melayani transaksi, tetapi juga menjadi pelopor gaya hidup cashless di lingkungannya,” tambahnya.
Ari Kusmayadi juga menyoroti bahwa konsep QRIS di pelaminan memiliki nilai edukasi yang tinggi. Menurutnya, masyarakat seringkali merasa asing atau ragu dengan transaksi digital. Namun, ketika teknologi dikemas dalam momen yang penuh emosi dan kebahagiaan seperti pernikahan, pesan digitalisasi akan lebih mudah diterima.
“Dengan cara yang kreatif dan menyenangkan, para tamu undangan tanpa sadar telah belajar bertransaksi digital. Ini jauh lebih efektif daripada seminar atau sosialisasi formal. Mereka merasakan langsung kemudahan, kecepatan, dan keamanannya. Ini adalah langkah nyata menuju cashless society,” jelas Ari.
Ia juga menambahkan bahwa BRI akan terus mendukung inovasi-inovasi serupa yang lahir dari para agen dan masyarakat. Pihaknya siap memberikan pendampingan teknis maupun promosi agar ide-ide kreatif seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain.
Lebih lanjut, Ari Kusmayadi menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi bukti bahwa para agen BRILink adalah ujung tombak digitalisasi perbankan di daerah. Mereka tidak hanya menjadi perpanjangan tangan BRI dalam melayani transaksi, tetapi juga menjadi role model dalam mengadopsi dan menyebarluaskan teknologi keuangan.
“Kami berharap kisah Ibu Nurjiah ini bisa menginspirasi agen BRILink lainnya untuk terus berinovasi. Jangan takut mencoba hal baru. BRI akan selalu berada di belakang mereka, memberikan dukungan penuh,” pungkas Ari.
Selamat menempuh hidup baru, Ibu Nurjiah dan H. Johansah. Semoga cinta dan QRIS kalian terus mengalir tanpa batas. (*)

Tinggalkan Balasan