MATA SULSEL, JENEPONTO – Langit pagi di Kabupaten Jeneponto masih berselimut embun ketika suara mesin jahit berirama cepat terdengar dari sebuah rumah sederhana di pinggir kota Jeneponto, tepatnya di Pakkaterang, Kelurahan Balang Toa, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Sulsel. Di dalamnya, Ayu Zulfa (30) tengah merampungkan jahitan terakhir baju bodo berwarna merah maroon—pesanan yang harus siap sebelum matahari naik.
Tak ada yang menyangka, di balik senyum tenangnya, tersimpan perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah lemari kecil berisi tiga stel baju bodo lima tahun lalu. Kini, di momentum Hari Jadi Jeneponto yang ke-163, yang jatuh pada hari Jum’at 1 Mei 2026 rumah Ayu menjelma menjadi pusat lalu lintas para pemesan—dari ibu-ibu pejabat hingga calon pengantin.
“Pernah saya hanya punya satu pelanggan dalam sebulan. Sekarang, seminggu bisa 20 pemesan. Apalagi jelang hari ulang tahun kabupaten ini,” kata Ayu sambil merapikan kain sutra yang ditenun dengan benang emas.
Ayu memulai usahanya “Zulfa Baju Bodo” pada 2021 dengan modal pas-pasan. Ia menjahit dan menyewakan baju bodo—pakaian adat khas Makassar—dari kamar tidurnya. Penghasilan tak seberapa, apalagi saat musim sepi. Namun keyakinan Ayu pada potensi busana adat sebagai identitas budaya tak pernah luntur.
Titik balik terjadi pada awal 2023. Melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI Cabang Jeneponto, Ayu mendapatkan pinjaman Rp25 juta. Ia tak menyangka bahwa akses permodalan yang selama ini dianggap rumit, ternyata bisa diraih dengan mudah melalui pendampingan dari pihak bank.
“Dengan KUR itu, saya bisa beli kain sutra asli, mesin bordir digital untuk ornamen khas, dan memperluas koleksi. Dulu saya hanya punya tiga ukuran, sekarang enam ukuran dengan variasi warna.”
Fenomena unik terjadi menjelang Hari Jadi Kabupaten Jeneponto. Berbagai acara resmi, pesta perkawinan, hingga sunatan massal digelar serentak. Budaya mengenakan baju bodo kembali menguat, bukan sekadar formalitas, melainkan simbol kebanggaan daerah.
“Satu hari bisa dapat 15 pemesan, dari anak kecil sampai dewasa. Harga sewa mulai Rp150 ribu hingga Rp500 ribu per stel. Pesanan jahit bisa Rp700 ribu hingga Rp2 juta,” kata Ayu sambil menunjukkan buku catatan yang penuh coretan nama dan tanggal.
Tak hanya menyewakan, Ayu juga menjual baju bodo siap pakai. Kini ia mempekerjakan tiga orang tetangganya sebagai penjahit dan pembantu administrasi.
Keberhasilan Ayu menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Jeneponto. Selain diundang dalam berbagai pameran UKM, ia kerap diminta menjadi mentor bagi perempuan muda yang ingin merintis usaha busana adat.
“Usaha Ayu ini bukti bahwa ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal punya masa depan,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jeneponto, Andi Baso Amir, dalam sambutan pembukaan pameran Hari Jadi ke-163.
Di sela kesibukan melayani pelanggan, Ayu tersenyum memandangi momen langka: ada seorang ibu muda yang datang bersama anak perempuannya yang masih balita. Mereka memesan baju bodo mini—kecil, imut, dan penuh makna.
“Ini bukan sekadar usaha. Ini soal bagaimana saya menjaga budaya tetap hidup. Kalau anak-anak sudah bangga pakai baju bodo, kita tak perlu khawatir tradisi ini akan hilang,” ujarnya lirih.
Hari itu, di bawah sinar mentari Jeneponto yang terik, ribuan orang melangkah dengan bangga—mengenakan baju bodo yang lahir dari rumah kecil, naluri usaha, dan sepercik keyakinan bernama KUR BRI.
Sementara Pimpinan Cabang BRI Jeneponto, Ari Kusmayadi, memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat dan kegigihan Ayu Zulfa dalam mengembangkan usahanya.
“Kami sangat bangga melihat Ayu Zulfa Baju Bodo yang kini semakin besar dan dikenal luas. Ini membuktikan bahwa KUR BRI bukan sekadar pinjaman, tetapi jembatan bagi pelaku UMKM untuk naik kelas. Dengan bimbingan dan pendampingan yang tepat, omzet bisa meningkat hingga berkali-kali lipat,” ujar Ari Kusmayadi saat ditemui di kantornya, Jumat (1/5).
Menurut Ari, keberhasilan Zulfa Baju Bodo menjadi contoh nyata bahwa KUR BRI yang disalurkan dengan tepat sasaran mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan. Ia menambahkan, pihaknya terus berupaya memperluas akses permodalan bagi pelaku usaha kecil di Jeneponto.
“Kami terus mendorong pelaku UMKM untuk memanfaatkan program KUR dengan baik. Bukan hanya sekadar modal, tetapi juga perlu dibarengi dengan inovasi, manajemen yang baik, dan pemasaran yang kreatif. Zulfa Baju Bodo adalah role model y
ang patut dicontoh,” tambahnya. (*)

Tinggalkan Balasan