MATA SULSEL, MAKASSAR – Pernahkah anda membayangkan jika sebuah keisengan dalam membuat usaha yang awalnya kecil-kecilan dari seorang ibu rumah tangga kini dapat memberdayakan warga sekitar hingga meraup omset Rp30 juta sebulan.
Hal itu dirasakan langsung oleh salah satu pemilik Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) lokal di Kota Makassar, kue durian Vinlandak atau dikenal dengan Vina’s Kitchen, Dimitri Eka Mariana (38).
“Awal mulanya jujur saya buat hanya untuk mengisi waktu, karena kebetulan saya bukan asli sini, saya dari Jawa Tengah, Kota Semarang, ikut suami ke Makassar, belum punya teman sama sekali, jadi mau isi waktu, tapi ternyata bermanfaat buat tetangga sampai kurir, jadi saya teruskan,” ujar Dimitri saat ditemui pada kediamannya yang juga merupakan rumah produksi Vinlandak Kitchen di Kota Makassar, Rabu (29/4/2026).
Dimitri mengaku jika usaha UMKM miliknya ini diambil dari nama sang buah hati, namun saat ingin dipatenkan sayangnya nama Vina’s Kitchen tersebut telah lebih dulu ada yang mematenkan nama yang sama telah terdaftar sebelumnya.
Oleh karena itu, kata Dimitri, nama usaha miliknya harus berubah menjadi Vinlandak. Meski begitu, sebutan Vina’s Kitchen tidak ia hilangkan mengingat telah banyak yang telah mengenalinya di Kota Makassar.
“Kami menggunakan nama Vinlandak Kitchen karena sebelumnya sudah ada yang pakai Vina’s Kitchen di luar Sulawesi, dan sudah ada HAKI-nya” ujar Dimitri.
Vinlandak sendiri memiliki 3 jenis usaha food and beverage yang terkenal di kalangan penikmat setianya, mulai dari nasi bento, bungket kenari hingga kue durian.
Tentunya, kata Dimitri, usaha tersebut telah memenuhi beragam sertifikasi mulai dari NIB, sertifikat halal dan lain-lain.
Selain itu, Dimitri mengatakan jika dirinya menggunakan bahan asli untuk setiap jenis makanan tanpa campuran pengawet demi menjaga kualitas produk untuk dipasarkan ke masyarakat.
Kebermanfaatan BRInkubator Hidupkan UMKM
Usaha yang Dimitri dirikan bersama suaminya pada tahun 2020 ini awalnya merupakan penyedia jasa katering rumahan dengan sistem Pre-Order (PO) biasa melalui aplikasi Whatsapp atau pun Instagram.
Seiring dengan berjalannya waktu, dimitri mengaku rumit mengatur manajemen usahanya yang tergolong masih semrawut, di sisi lain kesibukannya dalam mengurus rumah tangga sempat membuat dia hendak memutuskan untuk berhenti menjalankan usahanya ini.
Untungnya, sebelum memutuskan untuk menghentikan total usahanya, salah satu temannya hadir bagai juru selamat pada akhir tahun 2023 lalu.
Pada salah satu momen di hari itu, Dimitri diajak untuk bergabung menjadi bagian dari program BRIncubator yang dihadirkan BRI dalam mengembangkan potensi UMKM untuk dapat lebih berkembang hingga naik kelas.
“Saya diajak teman waktu itu, karena tahun 2023 akhir itu sebenarnya usaha ini mau berhenti karena capek begitu kan, terus temanku ngajak katanya biar bisa lebih maju, ternyata bagus sekali,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu pula, suami dari Dimitri, Veri Yoyanto (50) mengaku mendukung upaya dari istrinya untuk tetap berusaha dengan menjadi bagian dari program BRI tersebut.
“Awalnya catering namun harus down akibat COVID-19 kemarin. Jadi waktu itu kami melihat karena memang produk makanan kami masih susah, persaingan juga banyak, belum lagi COVID-19, jadi kita coba beralih usaha baru, salah satunya kue kering, dan saya support,” tegas Veri.
BRIncubator sendiri merupakan program pelatihan, pendampingan serta pemberdayaan intensif dari BRI melalui Rumah UMKM bagi para pelaku usaha berkategori food & beverage, fashion and beauty, serta home decor & craft untuk dapat naik kelas lewat validasi ekspor hingga akses pembiayaan.
Merasa tertarik dengan beragam manfaat dari program tersebut, Dimitri pun memutuskan untuk menerima bantuan itu pada awal tahun 2024.
Selama mengikuti program tersebut, ia mengaku menerima beragam manfaat yang belum ia terima sebelumnya. Mulai dari membantu urusan manajemen dan pemasaran usahanya hingga pengembangan dirinya sendiri.
“Saya masuk (menerima bantuan) BRI itu 2024 awal. BRI itu betul-betul sangat membantu dalam manajemen, pemasaran sama pengembangan diri buat saya sendiri,” terangnya.
Beragam pendampingan kerap Dimitri dapatkan secara intens dalam upaya pengembangan kualitas usaha dan juga dirinya, baik secara online maupun offline.
“Pendampingannya itu digitalisasi dan ada offline juga, pendampingannya itu ada sekitar setengah tahun karena memang saya rajin ikut pelatihan waktu 2024 itu,” imbuhnya.
Dimitri pun membeberkan, bahwa beragam perubahan telah ia rasakan hingga saat ini sejak menjadi bagian dari BRIncubator, baik itu untuk usaha maupun pengembangan dirinya secara personal.
“Perubahan setelah dibina dari BRI tentu pemasaran jadi lebih luas, saya sebelumnya hanya open Pre-Order (PO) lewat online, sekarang sudah masuk di Toko Satu Sama 3 cabang, Hotel Claro, Hotel Swiss-Bell, Hotel Aryaduta, Brownies Amanda sama Hero,” tukasnya.

Bahkan, kata dia, yang awalnya dirinya masih sangat canggung dalam public speaking, melalui pelatihan ini merubahnya untuk terbiasa dalam berinteraksi dengan siapa pun atau berbicara di depan umum.
“Jujur sebelum masuk BRInkubator saya tidak bisa ngomong depan umum, takut-takut sekali, terus di sana ada pengembangan diri, itu dibantu sekali, jadi itu sedikit lebih berani,” tukasnya.
Di sisi lain, Dimitri juga merasa sangat senang jika dirinya kerap diikutsertakan oleh BRI dalam berbagai kegiatan-kegiatan penting bagi para pelaku usaha UMKM.
“Kalau ada pameran itu kami pasti dipanggil, terus kalau ada lomba-lomba nasional kami juga pasti dikabari (untuk dilibatkan) oleh BRI,” tuturnya.
Ia kemudian merasa bersyukur, jika usahanya terus dapat berjalan dengan baik hingga saat ini. Bahkan, dirinya merasa sangat senang mampu melibatkan beberapa warga sekitar untuk menjadi karyawan tetap atau pun perbantuan dalam hal produksinya.
“Kami memperjakan baru 2 karyawan, kalau yang tidak tetap itu kami berdayakan warga lokal sekitar, kita butuh tenaga 4 orang warga sekitar untuk perbantuan nasi dos itu kadang sampai pemesanan ratusan porsi,” ucap Dimitri.
“Kita juga punya kurir yang tetap itu 1 orang, tapi kalau misal lagi ramai open delivery itu sekitar 2, orang” tambahnya.
Melalui pelatihan dan pengembangan diri program dari BRI itulah Dimitri bersama sang suami mampu mengaku meningkatkan kualitas usahanya hingga mampu meraup omset tergolong besar, hingga Rp30 juta per bulan.
“Omset sebulan itu mencapai rata-rata Rp15 juta, tapi paling besar Rp30 juta paling banyak,” tuturnya.
Untuk harga kue durian Vindalandak sendiri dibandrol dengan harga mulai Rp25 ribu isi lima dan Rp50 ribu untuk isi sepuluh dalam satu kemasan.
Menu nasi bento dapat menyesuaikan range harga, mulai dari Rp25 sampai dengan Rp50 ribu. Sementara untuk kue bungket kenari dapat dibandrol seharga Rp20 ribu isi 75 gram.
Dengan bekal itu pula, Dimitri berharap bila ia bersama sang suami kedepannya akan memperluas jaringan penjualannya hingga ke luar daerah.
“Tentunya kita berharap bisa berkembang hingga keluar daerah. Rencana ekspansi untuk sementara ke Manado, yang dikirim itu kue durian,” tutupnya. (Farez)

Tinggalkan Balasan