motion photo 376273667321230916

Preman yang Menemukan Surga di Dapur: Transformasi Sang Jawara Lorong Jadi Raja Nasi Kuning Berkat KUR BRI

MATA SULSEL, JENEPONTO – Di sudut Lapangan Passamaturukang  Bontosunggu, aroma rempah nasi kuning bersanding dengan cerita perubahan hidup. Setiap pagi, Irfan Dg. Kijang (38) dan istrinya, Ani Dg. Alusu (30), sibuk menyiapkan dagangan di kedai kecil mereka, Nasi Kuning Jannaya, Ala Dapur Mama Ica.

Namun, siapa sangka, di balik senyum ramah dan celemek dapur yang ia kenakan, lelaki ini menyimpan masa lalu kelam—sebagai bos preman di Lorong Macan, Kelurahan Empoang, Kecamatan Binamu. Dari gengsi lima jari hingga kini lima jari mengaduk wajan, inilah kisah transformasi yang lahir dari secangkir harapan dan setetes bantuan KUR BRI.

Dulu, nama Irfan Dg. Kijang membuat bulu kuduk merinding. Ia dikenal sebagai “bos anak lima jari” di Lorong Macan—julukan yang melekat karena ia dan kelompoknya menguasai wilayah itu dengan tangan besi. Kehidupan preman memberinya uang cepat, tetapi juga menjebaknya dalam lingkaran kekerasan dan ketidakpastian. Ani, istrinya, sering kali menangis diam-diam, takut akan masa depan suaminya.

Semua berubah saat seorang tetangga menawarkan pinjaman ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Cabang Jeneponto. “Awalnya saya ragu. Masa saya, mantan preman, bisa pinjam Bank?” kenang Irfan sambil tersenyum getir. Namun, desakan Ani dan kebutuhan menghidupi dua anak mereka membuat Irfan memberanikan diri. Dengan KUR BRI sebesar Rp20 juta, ia membeli peralatan dapur, panci besar, dan bahan baku.

Ani, yang selama ini hanya memasak untuk keluarga, kini menjadi tulang punggung rasa di dapur. “Saya ajarkan suami cara meracik bumbu. Dulu tangan dia pegang celurit, sekarang pegang sendok sayur,” ujar Ani sambil tertawa. Nama Jannaya — yang berarti “enak” dalam bahasa Makassar—diplih sebagai simbol harapan baru. Setiap pagi, mereka bangun pukul 04.00, memasak 10-15 liter beras menjadi nasi kuning dengan lauk pauk khas: ayam goreng, telur balado, dan sambal terasi.

Bukan hanya modal, pendampingan dari BRI juga membuka wawasan Irfan tentang manajemen usaha. Dari sistem pencatatan hingga promosi sederhana, ia mulai paham bahwa bisnis tak bisa dijalani dengan cara preman. “Dulu saya pikir berani ambil, berani bayar. Sekarang saya belajar: sabar, teliti, dan jujur itu kuncinya,” kata Irfan.

Kini, omzet harian mereka tembus Rp1 juta hingga Rp1,5 juta. Pelanggan setia datang tak hanya untuk nasi kuning, tapi juga cerita perubahan hidup. “Saya suka beli di sini, nasinya enak dan pemiliknya ramah. Tak kusangka beliau dulu preman,” ujar Rahmat, seorang pelanggan tetap.

Dari teror Lorong Macan hingga kehangatan Dapur Mama Ica, Irfan dan Ani membuktikan bahwa keberanian untuk berubah tidak selalu dimulai dengan doa—kadang dimulai dengan pinjaman Rp20 juta dan keyakinan untuk meninggalkan bayang-bayang masa lalu. Kini, lima jari Irfan yang dulu mengepal, kini terbuka untuk menerima rezeki halal.

“Ini bukan surga sempurna,” ujarnya menatap nasi kuning yang mengepul, “tapi setidaknya, kami sudah menemukan jalan pulang.”

Kisah Irfan dan Ani Bukti Nyata KUR Bukan Sekadar Pinjaman, Tapi Jalan Perubahan

Pimpinan Cabang BRI Jeneponto, Ari Kusmayadi, angkat bicara terkait kisah sukses Irfan Dg. Kijang dan Ani Dg. Alusu, pasangan pengusaha Nasi Kuning Jannaya, Ala Dapur Mama Ica, yang berhasil bangkit dari masa lalu kelam berkat Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.

Ari Kusmayadi mengaku bangga dan terharu saat mengetahui perjalanan hidup Irfan yang berubah total setelah mengakses KUR BRI.

“Ketika tim marketing kami menceritakan kisah Pak Irfan, saya langsung merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar angka kredit. Ini adalah bukti nyata bahwa KUR BRI bukan hanya soal bantuan modal, tapi juga instrumen perubahan sosial. Dari preman menjadi pengusaha—itu luar biasa,” ujar Ari dengan nada penuh apresiasi saat ditemui di kantornya, Jalan Pahlawan, Kabupaten Jeneponto, Senin (4/5/2026).

Menurut Ari, kisah Irfan dan Ani menjadi contoh konkret bahwa target KUR BRI tidak melulu soal peningkatan omset atau laba usaha. Lebih dari itu, program ini diharapkan mampu mengubah pola pikir dan gaya hidup debitur ke arah yang lebih produktif.

“Kami tidak hanya menyalurkan dana. Kami ingin mengubah mindset. Dulu mungkin tangan Pak Irfan terbiasa dengan hal-hal negatif, sekarang tangan itu mengaduk bumbu nasi kuning dan menghasilkan rezeki halal. Itulah dampak yang kami harapkan dari KUR,” tegas Ari.

Ari juga menyinggung peran aktif pihak BRI dalam melakukan pendampingan dan monitoring kepada debitur KUR, termasuk Irfan dan Ani.

“Setelah dana cair, kami tidak lepas tangan. Tim kami rutin melakukan kunjungan, mengecek perkembangan usaha, memberikan sains sederhana soal manajemen keuangan, hingga membantu promosi melalui media sosial. Pak Irfan dan Ibu Ani sangat cepat belajar. Mereka bukti bahwa dengan bimbingan, siapa pun bisa berubah.”

Ari Kusmayadi berharap kisah Irfan dan Ani bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat Jeneponto, khususnya mereka yang mungkin masih ragu atau memiliki latar belakang sulit untuk mengakses perbankan.

“Kami ingin bilang, tidak ada masa lalu yang terlalu kelam untuk diubah. BRI hadir untuk semua kalangan, tanpa diskriminasi. Yang penting ada niat, ada kemauan untuk berubah. Pak Irfan dan Bu Ani membuktikannya. Semoga ini menjadi pintu berkah bagi mereka dan motivasi bagi kita semua,” tutup Ari. (*)

 

 


Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *