MATA SULSEL, MAKASSAR – Warga Sulawesi Selatan tentu tidak asing dengan sambal khas berwarna kuning yang dikemas dalam sebuah botol hingga kerap menjadi pelengkap hidangan makanan mereka sehari-hari.
Sambal yang lebih dikenal dengan sebutan “lombok” oleh warga Sulawesi Selatan ini memiliki perpaduan rasa pedas, asin dan gurih yang menjadi satu sehingga sangat cocok dirasakan para penikmat setianya.
Tidak hanya sebagai pelengkap sajian makanan gorengan hingga hidangan berkuah, lombok kuning ini juga bisa menjadi pilihan masyarakat sebagai sebuah ole-ole untuk diberikan kepada keluarga atau pun orang tercinta jika berpergian ke luar Kota Makassar.
Namun dibalik kenikmatan yang disuguhkan serta kemasan yang terpajang di sejumlah toko retail, ada cerita perjuangan serta hasil kerja keras didalamnya. Salah satunya dari pemilik Lombok Kuning Simpati, Ridwan Wahyu Chandra bersama sang istri, Meliana.
Bahkan, saat ini usaha Ridwan bukan hanya sekedar memasok produknya ke pasar retail atau pun menjual di toko yang sekaligus menjadi rumah produksi dan pribadinya, namun juga telah diekspor ke Jepang hingga New Zeland.
“Kita bahkan sudah ekspor ke jepang sudah dua tahunan, kalau new Zeland sekitar 3 tahunan,” pungkasnya kepada Rakyat.News beberapa waktu lalu.
Hal itu tentu tidak terlepas dari peran para pekerjanya yang saat ini telah mencapai 8 orang dalam melakukan proses produksi mulai dari bahan baku awal, pengemasan hingga dapat dipasarkan ke pasar retail serta diekspor ke negara luar.
Untuk harganya dapat dibandrol berdasarkan ukuran botol, mulai dari Rp15 ribu untuk 140ml, Rp25 ribu untuk 330ml, hingga 600ml seharga Rp35 ribu dan 5 liter harga Rp220 ribu
PUNYA PELANGGAN KHUSUS SEJAK 1998
Ridwan mengaku bahwa dirinya adalah generasi kedua dari usaha Lombok Kuning Simpati ini.
“Penggunaan nama Simpati sendiri ayah yang buat mereknya, dan saya generasi kedua, pertama tahun 1998,” jelasnya.
Awal mula sambel ini disukai sendiri, kata Ridwan, adalah ketika dirinya membatu ayahnya berjualan bakmi, namun seiring berjalannya waktu, racikan sambel keluarganya memiliki pelanggan tersendiri untuk kemudian dijual secara khusus.
“Jadi dulu tahun 1998 itu kami jual bakmi di sini, sambelnya kita buat sendiri, kemudian langganan datang hanya mau beli lomboknya saja, jadi kita jual, lama-lama saya berfikir kenapa tidak membuat brand baru saya menawarkan keluar,” tukasnya.

PERJUANGAN MASUK PASAR RETAIL
Melihat potensi besar hadir di dalamnya, Ridwan kemudian memutuskan untuk memasukkan usahanya tersebut ke pasar retail modern dan memilih menggunakan nama Lombok Kuning Simpati agar mudah dikenali masyarakat.
“Kami masuk retail itu sejak tahun 2017. Saya melihat bagus sekali pangsa pasarnya, kemudian saya (memutuskan) masuk retail modern,” ujar Ridwan.
Tentunya perjalanan Ridwan bersama sang istri dalam memasukkan produksnya ke toko retail tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus melalui beragam penolakan di lapangan.
Sehingga Ridwan pun memilih jalan dengan opsi take or return kepada sejumlah tempat, mulai toko retail biasa hingga ole-ole.
Dengan tekad dan kegigihannya itulah yang kemudian menjadi titik awal bagi Ridwan, karena seiring berjalannya waktu, penjualannya pada toko-toko tersebut ternyata meningkat, sehingga kian mendapatkan kepercayaan di pasaran.
“Awalnya itu saya masukkan ke toko ole-ole dengan sistem titip jual. Awalnya tidak mudah karena stigma toko itu karena ini produk baru, jadi bagaimana kalau tidak laku (di pasaran), saya bilang tidak apa-apa return aja, saya titip nomor telpon, puji syukur ada respon dari toko jadi saya mulai percaya diri sehingga saya berani main ke ritel,” jelas Ridwan dengan nada penuh rasa bangga.
Oleh kepercayaan itu pula yang membuat Lombok Kuning Simpati sangat mudah ditemui mengingat distribusinya yang telah menembus pasar retail modern seperti Lotte, Alfamart dan Indomart, bahkan merambah ekspor Impor ke Papua hingga Jepang dan New Zeland.
KETERLIBATAN BRI LEWAT RUMAH BUMN
Dibalik kesuksesan Lombok Kuning Simpati milik Ridwan bersama sang istri sekarang, ternyata ada sentuhan langsung dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui Rumah BUMN yang menjadi wadah bagi para pelaku-pelaku usaha di Kota Makassar.
Meliana, istri dari pemilik Lombok Kuning Simpati, mengaku sangat terbantu dengan segala kemudahan yang telah didapatkan dari program Rumah BUMN BRI sejak mendaftar dari tahun 2018 lalu.
Tak hanya satu, beragam kelebihan yang Meliana dapatkan sejak pertama kali dirinya dapatkan untuk membuat usaha miliknya menjadi “naik kelas” hingga seperti saat ini.
Mulai dari pelatihan pengembangan diri, pemasaran atau digital marketing, pengemasan sampai dengan pembuatan logo juga dibimbing langsung oleh pihak BRI demi meningkatkan kualitas Lombok Kuning Simpati.
“BRI kita dari 2018, tentunya banyak kelebihan yang didapatkan. Mulai dari pelatihan, pemasaran, kemudian logonya dibantu BRI awal-awal itu, pergantian kemasan juga diajar BRI, kemudian ada pelatihan-pelatihannya bagaimana digital marketing itu juga kita dapat dari BRI,” urainya.
Koordinator Rumah BUMN Makassar, Muh Asuddin A, mengungkapkan bahwa Lombok Kuning Simpati merupakan salah satu dari ribuan UMKM yang telah menjadi penerima manfaat.
“Saat ini kita sudah punya UMKM itu kita punya 6.100 lebih, salah satunya ini (Lombok Kuning Simpati),” kata Asuddin.
Rumah UMKM sendiri diperuntukkan bagi pelaku usaha berkategori food & beverage, fashion and beauty, serta home decor & craft untuk dapat naik kelas lewat validasi ekspor hingga akses pembiayaan.
“Ada pun yang kita bantukan itu mulai dari pelatihan, kita survey pelatihan apa yang dia butuhkan oleh UMKM,” pungkasnya.
Asuddin menambahkan, bahwa tidak butuh banyak persyaratan agar menjadi bagian dari Rumah BUMN Makassar, hanya butuh memiliki usaha yang minimal sebulan berjalan, tekad berusaha tinggi hingga mau belajar untuk dapat “naik kelas”.
“Minimal sebulan sudah bisa daftar di Rumah BUMN Makassar,” ucapnya.
PROSES PRODUKSI YANG DISIPLIN
Produksi sambal Lombok Kuning Simpati berjalan dalam ritme yang disiplin dan terukur setiap hari.
Pada setiap botolnya, proses produksi dilakukan melalui tahapan yang cukup panjang dan tersandar.
Begitu pun dengan seluruh bahan baku yang didatangkan dari petani lokal di Jeneponto, Takalar, hingga Enrekang, menegaskan komitmen usaha ini untuk menggunakan 100 persen cabai lokal tanpa campuran bahan lain seperti wortel atau singkong.

Tidak heran jika hasil keteguhan dan proses panjang itu pula lah yang membuat Lombok Kuning Simpati berhasil meraih sejumlah penghargaan hingga menjadi salah satu ole-ole sambal pilihan terbaik dari Kota Makassar.
Pula tidak menutup kemungkinan jika Lombok Kuning Simpati “Khas Makassar” ini tidak hanya berlabuh pada Jepang dan New Zeland saja, namun juga bisa terpajang pada sejumlah retail-retail modern yang ada pada negara-negara lainnya. (Farez)

Tinggalkan Balasan