MATA SULSEL, JENEPONTO — Di sebuah sore yang terik, Daeng Baso melangkah keluar dari rumah panggungnya di Desa Jombe, Kecamatan Binamu. Dengan langkah ringan, ia menyusuri jalan setapak menuju sebuah warung kecil di ujung gang. Tak butuh waktu lama, dalam hitungan menit, petani berusia 45 tahun itu sudah kembali dengan setumpuk uang tunai di tangan.
Dulu, perjalanan yang sama bisa memakan waktu hampir setengah hari. “Harus naik angkutan umum ke kota, antre di bank, lalu pulang lagi. Belum lagi ongkosnya yang lumayan,” kenang Daeng Baso sambil menggeleng.
Kini, semua berubah drastis sejak hadirnya Agen BRILink di wilayah Butta Turatea, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Layanan keuangan digital dari Bank BRI ini telah menjadi denyut nadi baru bagi perekonomian masyarakat setempat, terutama di daerah yang sebelumnya terisolasi dari akses perbankan konvensional.
Wilayah Butta Turatea yang dikenal dengan hamparan sawah dan lautnya, selama ini menjadi saksi betapa sulitnya masyarakat mengakses layanan perbankan. Jarak tempuh yang jauh, minimnya infrastruktur, serta keterbatasan jam operasional bank konvensional menjadi kendala utama.
Kehadiran Agen BRILink menjawab semua keluhan itu. Layanan yang tersebar di berbagai titik strategis di Jeneponto ini memungkinkan warga melakukan berbagai transaksi keuangan mulai dari tarik tunai, transfer uang, pembayaran tagihan listrik dan PDAM, pembelian pulsa, hingga pembayaran digital lainnya.
“Kami hadir bukan sekadar menyediakan layanan, tapi juga memberikan kemudahan yang nyata bagi masyarakat,” ungkap Pimpinan Cabang BRI Jeneponto, Ari Kusmayadi, saat ditemui di kantornya, Rabu (6/5/2026).
“BRILink adalah wujud nyata komitmen BRI dalam mendorong inklusi keuangan di seluruh pelosok negeri, termasuk di daerah-daerah yang selama ini belum tersentuh layanan perbankan optimal,” jelas Ari.
Dari Petani Hingga Pedagang Kue: Semua Merasakan Manfaat
Siti Fatimah (38), seorang pedagang kue tradisional di Pasar Gantinga, Kecamatan Turatea, tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya. Perempuan yang sehari-hari berjualan kue lapis dan pisang goreng ini mengaku dulu sangat kesulitan mengirimkan uang untuk anaknya yang kuliah di Makassar.
“Saya yang tadinya takut pegang ATM, sekarang sudah bisa transfer sendiri,” ujar Siti Fatimah dengan mata berbinar. “Agen BRILink di sini sangat sabar mengajari saya cara menggunakan aplikasi. Sekarang, setiap minggu saya bisa kirim uang ke anak tanpa harus repot ke bank.”
Cerita serupa datang dari Daeng Kulle, nelayan di pesisir Pabiringa. Mereka kini tak perlu lagi menyimpan uang tunai dalam jumlah besar di rumah. Cukup dengan menyetorkan ke agen BRILink terdekat, uang hasil melaut bisa langsung ditransfer ke rekening tabungan.
“BRILink seperti jembatan yang menghubungkan kami dengan dunia perbankan. Dulu, aktivitas ekonomi kami terbatas karena sirkulasi uang lambat. Sekarang, semua lebih cepat,” tambah Daeng Kulle.
Muhammad Arif, aparatur Desa Kassi, menilai kehadiran BRILink telah memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal. Menurutnya, layanan ini sejalan dengan program pemerintah dalam mendorong digitalisasi ekonomi desa.
“Transaksi menjadi lebih lancar. Uang beredar di lokal, tidak terus mengalir keluar daerah. Aktivitas ekonomi warga semakin hidup,” jelas Arif. “Petani bisa langsung membayar pupuk dan kebutuhan pertanian lainnya tanpa harus ke kota. Pedagang kecil pun bisa menerima pembayaran non-tunai dari pembeli.”
Data dari BRI Cabang Jeneponto mencatat, volume transaksi BRILink di wilayah ini terus meningkat setiap bulannya. Hal ini menunjukkan tingkat adopsi layanan keuangan digital yang semakin tinggi di kalangan masyarakat.
Meskipun telah memberikan dampak positif, bukan berarti perjalanan BRILink di Butta Turatea tanpa tantangan. Masih banyak wilayah pelosok yang belum terjangkau jaringan internet, sehingga menyulitkan transaksi secara real-time.
“Kami terus berupaya memperluas jangkauan layanan. Kami juga bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memastikan infrastruktur pendukung tersedia,” jelas Ari Kusmayadi.
Sementara itu, masyarakat berharap agar jaringan layanan serupa dapat diperluas hingga ke pelosok desa lainnya. Tak hanya itu, fitur layanan yang lebih beragam juga dinantikan, sehingga semakin banyak kebutuhan keuangan warga yang bisa dipenuhi oleh satu agen saja.
“Saya berharap BRILink bisa hadir di setiap desa. Agar orang tua saya di kampung tak perlu repot-repot lagi kalau mau ambil uang atau bayar listrik,” harap Siti Fatimah.
Kehadiran BRILink di Butta Turatea merupakan bagian dari komitmen besar BRI dalam mendorong inklusi keuangan di Indonesia. Melalui layanan ini, BRI tak hanya menjadi bank, tetapi juga menjadi agen perubahan yang membawa kemudahan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
“BRILink adalah bukti bahwa perbankan bisa hadir di tengah-tengah masyarakat dengan cara yang sederhana namun bermakna,” pungkas Ari Kusmayadi. “Kami ingin setiap warga Indonesia, di mana pun mereka berada, bisa merasakan manfaat dari layanan perbankan yang modern, cepat, dan aman.”
Di sudut Desa Jombe, Daeng Baso tersenyum puas. Tak perlu lagi menempuh perjalanan jauh hanya untuk urusan bank. Cukup dari warung agen BRILink, semua urusan keuangan selesai dalam sekejap. Ekonomi keluarganya pun semakin membaik.
“BRILink benar-benar mengubah hidup kami,” ujarnya dengan penuh rasa syukur. “Semoga layanan ini terus ada dan semakin berkembang.”
Begitulah BRILink di Butta Turatea—lebih dari sekadar layanan keuangan, ia adalah jembatan yang menghubungkan mimpi dan kesejahteraan masyarakat Jeneponto. (*)

Tinggalkan Balasan