Compress 20260506 113545 5628

Potong Rambut, Potong Kesusahan: Kisah Andris, Gunting Tua, dan Pinjaman KUR BRI yang Mengubah Segalanya

MATA SULSEL, JENEPONTO — Di sudut Jalan Lanto Dg. Pasewang, berhadapan tepat dengan kubah putih Masjid Agung Jeneponto, terdengar suara ritmis yang tak pernah absen setiap hari. Krik… krik… krik…

Itulah suara gunting rambut milik Andris (50). Seorang pria paruh baya dengan senyum hangat dan tangan yang tak pernah lelah menggunting rambut pelanggannya. Namun, di balik suara gunting yang kini terdengar merdu itu, tersimpan kisah panjang perjuangan yang nyaris membuatnya menyerah.

Tahun 1997. Indonesia masih dilanda krisis ekonomi. Harga bahan pokok meroket. Lapangan pekerjaan menyempit. Di tengah situasi sulit itu, seorang pemuda bernama Andris memutuskan untuk memulai usaha cukur rambut.

Tidak ada modal. Tidak ada pelatihan. Yang ia miliki hanyalah sebatang gunting bekas, sisir patah, dan cermin retak. Ia menata sebuah kursi plastik di emperan toko, dan mulailah ia menanti pelanggan.

“Saya dulu hanya punya satu gunting dan kursi plastik. Pelanggan datang kadang-kadang, karena tempatnya kurang nyaman. Tapi saya tidak mau menyerah,” kenang Andris, Jumat (8/5/2026).

Hari-harinya diisi dengan menunggu. Kadang satu pelanggan, kadang tidak sama sekali. Penghasilannya pas-pasan. Untuk makan sehari-hari saja ia harus memutar otak. Namun, semangatnya tidak pernah padam. Ia yakin, suatu hari nanti, gunting di tangannya akan mengubah hidupnya.

Tahun berganti tahun. Andris masih bertahan. Namun, usahanya berjalan di tempat. Ia tidak punya modal untuk memperbaiki tempat cukurnya. Kursi plastik masih setia menopang pelanggan. Cermin retak masih jadi saksi bisu setiap potongan rambut.

Hingga suatu hari, ia mendengar kabar tentang Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BRI. Sebuah program pinjaman dengan bunga ringan yang diperuntukkan bagi pelaku UMKM. Tanpa berpikir panjang, Andris mengajukan pinjaman sebesar Rp20 juta.

Ia tidak menyangka. Dalam waktu singkat, pinjamannya disetujui.

“Saya tidak percaya. Prosesnya cepat, bunganya ringan. Saya langsung gunakan untuk merombak tempat cukur saya,” ujarnya dengan mata berbinar.

Dengan dana Rp20 juta, Andris merombak total tempat cukurnya. Kursi plastik diganti dengan kursi cukur hidrolik yang nyaman. Cermin retak diganti dengan cermin besar yang memantulkan semangat baru. Alat-alat cukur modern ia beli. Dinding-dinding ia cat ulang. Tempat cukur yang dulu kumuh, kini tampak profesional dan mengundang.

Ia memberi nama tempat cukurnya “Pangkas Rambut Turatea,” sebuah nama yang diambil dari bahasa daerah, bermakna diatas.

Sejak saat itu, pelanggan mulai berdatangan. Bukan hanya warga sekitar, tetapi juga dari luar kecamatan. Dengan tarif Rp15.000 untuk dewasa dan Rp10.000 untuk anak-anak, Andris menawarkan harga yang terjangkau namun dengan kualitas yang tidak main-main.

Kini, suara gunting di Turatea tidak pernah sepi. Dari pagi hingga malam, kursi cukurnya selalu terisi. Omzetnya naik tiga kali lipat dari sebelumnya.

“Saya ingin tempat ini bukan sekadar tempat cukur, tapi juga ruang silaturahmi. Di sini saya dan pelanggan bisa saling berbagi cerita, saling menguatkan,” kata Andris tersenyum.

Compress 20260506 113546 6833
Rumah Pangkas Rambut Turatea milik Andris yang terletak di Jalan Lanto Dg. Pasewang Jeneponto

Namun, pencapaian terbesar Andris bukanlah kursi cukur baru atau omzet yang meningkat. Pencapaian terbesarnya adalah pendidikan anak-anaknya.

Tiga anak Andris kini tengah berkuliah di Makassar. Dua di antaranya duduk di bangku perguruan tinggi negeri, satu lagi di politeknik. Semua biaya kuliah mereka — Uang Kuliah Tunggal (UKT), biaya kos, uang saku — semuanya berasal dari hasil guntingan rambut Andris.

“Saya sangat bersyukur. Dulu saya tidak pernah bermimpi anak-anak saya bisa kuliah. Sekarang, mereka semua sedang menempuh pendidikan tinggi. Ini semua berkat KUR BRI,” ucap Andris dengan suara bergetar.

Ia menambahkan, “Saya tidak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah setiap semester. Alhamdulillah, usaha saya cukup untuk membiayai mereka semua.”

Mata Andris berkaca-kaca saat mengatakannya. Di belakangnya, cermin besar memantulkan bayangan seorang ayah yang berjuang tanpa lelah. Gunting di tangannya tidak hanya memotong rambut. Gunting itu telah memotong garis kemiskinan keluarganya.

Kisah Andris bukanlah sekadar cerita sukses individu. Ia adalah representasi dari ribuan pelaku UMKM di Kabupaten Jeneponto yang bermimpi bangkit dan berkembang.

Pimpinan Cabang BRI Jeneponto, Ari Kusmayadi, mengapresiasi semangat Andris. Menurutnya, kisah ini adalah bukti nyata bahwa program KUR BRI tepat sasaran.

“Kisah Pak Andris adalah bukti nyata bahwa KUR BRI bisa menjadi solusi bagi pelaku UMKM yang ingin mengembangkan usahanya. Bunganya cukup ringan, prosesnya mudah, dan tenornya panjang. Ini sangat membantu masyarakat kecil,” jelas Ari Kusmayadi saat ditemui di kantornya, Jumat (8/5/2026).

Ia pun mengajak masyarakat Jeneponto untuk tidak ragu memanfaatkan program ini.

“Jangan takut memulai. BRI siap mendampingi dan memberikan solusi keuangan terbaik bagi masyarakat Jeneponto. Seperti Pak Andris, dari gunting sederhana, kini ia bisa mewujudkan mimpi besar. Ini adalah semangat yang patut ditiru,” pungkasnya.

Matahari mulai condong ke barat. Jalan Lanto Dg. Pasewang mulai sepi. Namun, di dalam Pangkas Rambut Turatea, gunting masih terus berbunyi. Andris masih melayani pelanggan terakhirnya.

Ia tersenyum. Pelanggan itu adalah seorang anak muda yang minggu lalu baru pertama kali datang. Kini ia kembali. Mungkin minggu depan ia akan datang lagi. Mungkin ia akan menjadi pelanggan setia.

Andris tidak tahu. Yang ia tahu, setiap guntingan rambut membawanya selangkah lebih dekat ke mimpi-mimpinya. Setiap helai rambut yang jatuh adalah kenangan masa lalu yang tertinggal. Setiap pelanggan yang puas adalah kebahagiaan yang tak ternilai.

Di luar, lampu Masjid Agung mulai menyala. Andris mematikan alat cukurnya. Ia memandang sekeliling: kursi cukur hidrolik, cermin besar, alat-alat modern, dan foto ketiga anaknya yang tersemat di dinding.

“Dulu, saya hanya punya satu gunting,” bisiknya pada dirinya sendiri.

“Sekarang, saya memiliki apa yang saya impikan. Alhamdulillah.” (*)

 

 

 


Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *