MATA SULSEL, JENEPONTO — Di sela-sela hiruk pikuk pembangunan desa, di antara debu jalan cor yang baru dituang dan keringat para prajurit yang tak pernah kering, seorang komandan menerima kabar yang tak terduga.
Letkol Inf Abdul Muthalib Tallasa — Dansatgas TMMD ke-128 Kodim 1425/Jeneponto — tengah bergelut dengan segudang tugas di lapangan. Sehari-hari ia mengawasi pengecoran rabat beton, meninjau pembangunan sumur bor, memastikan rehabilitasi rumah tidak layak huni berjalan sesuai jadwal. Tak ada waktu untuk lengah. Setiap detik adalah pengabdian.
Namun, Jumat, 8 Mei 2026, sebuah rezeki tak terduga menghampirinya di tengah kesibukan yang membelit.
Pagi itu, Mentari di Makodim 1425/Jeneponto bersinar terang. Namun, sang Komandan tak sempat menikmati hangatnya. Pikirannya masih melayang ke Desa Arpal, ke lokasi-lokasi TMMD yang harus rampung tepat waktu.
Lalu, sebuah pesan masuk. Pimpinan Cabang BRI Jeneponto, Ari Kusmayadi, akan datang.
Bukan untuk rapat koordinasi. Bukan untuk urusan kredit. Melainkan untuk memberikan satu unit mobil ambulance bagi Kodim 1425/Jeneponto.
Pimpinan Cabang BRI Jeneponto Ari Kusmayadi tiba di Markas Kodim. Ia datang dengan senyum untuk menyerahkan Corporate Social Responsibility (CSR) Mobil Ambulance. Di belakangnya, terparkir satu unit ambulance putih dengan logo BRI Peduli yang siap dioperasikan.
“Pak Dandim, ini adalah bentuk kepedulian BRI terhadap tugas mulia yang Bapak dan jajaran laksanakan. Semoga ambulance ini menjadi kendaraan berkah yang membawa keselamatan bagi banyak jiwa,” ucap Ari Kusmayadi saat menyerahkan kunci ambulance secara simbolis.
Letkol Inf Abdul Muthalib Tallasa menerima kunci itu dengan tangan yang masih sedikit berdebu — sisa-sisa kunjungannya ke lokasi TMMD. Ia tersenyum. Sebuah senyum yang lahir bukan dari kebahagiaan semata, melainkan dari keharuan.
“Di tengah kesibukan kami membangun desa, BRI justru mengingat kami. Ini bukan sekadar ambulance. Ini adalah bukti bahwa perjuangan kami tidak sendiri. Ada banyak pihak yang peduli,” ujar Dandim dengan suara dalam.
Ambulance putih itu bukan sekadar kendaraan. Ia adalah simbol bahwa kemanusiaan tidak pernah berjarak. Bahwa di tengah padatnya agenda pembangunan fisik, kesehatan dan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas.
Dandim menambahkan, ambulance ini akan menjadi sapaan bagi yang sakit, harapan bagi yang terluka, dan jalan bagi yang membutuhkan pertolongan.
“Kami akan gunakan ambulance ini untuk melayani masyarakat, bukan hanya personel TNI. Karena pada akhirnya, kami hadir untuk rakyat,” tegasnya.
Bantuan ini merupakan bagian dari Program BRI Peduli melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI. Sebuah program yang tidak hanya bicara tentang laba, tetapi juga tentang memberi makna bagi sesama.
Ari Kusmayadi menjelaskan bahwa BRI berkomitmen hadir di setiap lini kehidupan masyarakat.
“Kami tidak ingin hanya menjadi bank. Kami ingin menjadi sahabat masyarakat. Bersama TNI, kami ingin memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal, tidak ada yang terabaikan,” ujarnya.
Setelah acara penyerahan selesai, Letkol Inf Abdul Muthalib Tallasa kembali ke ruang kerjanya. Di meja, segudang laporan TMMD menanti. Namun, ada energi baru yang mengalir di nadinya.
Ambulance putih itu akan segera dikemudikan oleh prajurit-prajurit terbaiknya. Melintasi jalanan Jeneponto, menyusuri desa-desa, menjemput mereka yang membutuhkan uluran tangan.
“Rezeki ini bukan untuk saya,” bisiknya dalam hati.
“Rezeki ini untuk rakyat.”
Di luar, ambulance putih itu berkilau diterpa cahaya mentari. Ia berdiri tegak, siap melaju kapan pun dipanggil. Ambulance menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak pernah sendiri. Selalu ada tangan-tangan yang terulur, selalu ada hati yang peduli. (*)

Tinggalkan Balasan