Cerita Camat Sukatani Buka Usaha Bubur, Lahir dari Hobi Masak Sang Istri

Cerita Camat Sukatani Buka Usaha Bubur, Lahir dari Hobi Masak Sang Istri

MATA SULSEL, KAB. BEKASI – Pagi di kawasan Villa Mutiara Cikarang kini terasa sedikit berbeda. Aroma kaldu hangat dan suwiran ayam berbumbu perlahan menyambut warga yang melintas di kawasan Desa Ciantra, Cikarang Selatan.

Di balik kepulan uap bubur itu, ada cerita sederhana tentang keberanian memulai usaha dari dapur rumah.

Adalah Agus Dahlan, Camat Sukatani Kabupaten Bekasi, yang kini mencoba peruntungan baru lewat usaha kuliner bernama “Bubur Ayam Kang Jimat alias Haji Camat”.

Usaha tersebut resmi dibuka sejak awal April 2026. Namun siapa sangka, ide membuka usaha bubur ayam itu justru berawal dari kebiasaan sederhana sang istri yang gemar memasak di rumah.

“Memang istri hobi masak. Kita coba bikin resep bubur ayam ini sendiri,” ujar Agus sambil tersenyum.

Tak langsung dijual ke publik, resep bubur itu terlebih dahulu diuji secara sederhana. Agus dan istrinya mengundang jamaah majelis taklim untuk mencicipi racikan bubur ayam buatan mereka. Respons yang datang ternyata di luar dugaan.

“Kita undang majelis taklim untuk cicipi. Alhamdulillah, kata jamaah enak banget,” katanya.

Dari pujian sederhana itulah keberanian mulai tumbuh. Agus kemudian memutuskan membuka usaha kuliner tersebut secara serius. Meski sehari-hari dikenal sebagai pejabat pemerintahan, ia tak ragu turun langsung membangun usaha kecil bersama keluarga.

“Dengan memberanikan diri buka usaha bubur jimat ini,” ucapnya.

Nama “Jimat” sendiri perlahan menjadi identitas unik yang mudah diingat pelanggan. Bukan soal mistis, tetapi lebih pada harapan agar cita rasa bubur tersebut bisa “melekat” di hati pembeli.

Bagi Agus, mempertahankan rasa menjadi tantangan utama. Ia memahami bahwa usaha kuliner bukan hanya soal membuka lapak, tetapi menjaga konsistensi agar pelanggan mau kembali datang.

Karena itu, ia berkomitmen mempertahankan resep khas yang diracik langsung bersama istrinya.

Di tengah kesibukan sebagai camat, usaha bubur ini menjadi ruang lain bagi Agus untuk lebih dekat dengan masyarakat. Bukan lagi lewat forum resmi pemerintahan, melainkan melalui semangkuk bubur hangat yang disantap bersama warga setiap pagi.

Cerita “Bubur Ayam Kang Jimat” menjadi gambaran bahwa usaha besar sering lahir dari hal-hal sederhana: hobi memasak, dukungan keluarga, dan keberanian mencoba sesuatu yang baru. (Dirham)


Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *