MATA SULSEL, MAKASSAR – Kepulan asap putih memaksa keluar dari ventilasi dapur di pagi hari menandakan proses produksi pembuatan kue kering hingga catering rumahan khas Vinlandak Kithcen telah berlangsung.
Kebiasan itu sudah menjadi hal berulang untuk melayani puluhan hingga ratusan pesanan pre-order (PO) para pelanggan melalui aplikasi Whatsapp atau pun Instagram dari Vinlandak Kitchen yang dikenal dengan olahan kue kering seperti cake durian, bungket kenari sampai dengan nasi bento.
Namun tak terhindarkan bagi Dimitri Eka Mariana (38), sang pemilik pemilik Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) Vinlandak Kithcen, menerima pesanan pelanggan yang datang membeli langsung untuk menukarkan kertas uang pecahan Rp100 ribu dari dompetnya dengan satu atau dua buah kemasan kue kering Vinlandak Kitchen.
Sontak, Dimitri yang berjibaku dengan adonan kue bersama kedua pegawainya, harus mengelap tangannya lebih dulu untuk menerima hingga kemudian menukarkan uang kembalian pelanggan.
Namun apa jadinya jika uang kembaliannya itu tidak tersedia ? Dimitri tentunya terpaksa harus menukarkannya dulu ke tetangga atau pun warung kelontong kenalannya yang sudah terbuka sejak pagi hari. Dan itu kerap sebelumnya ia rasakan selama bergelut dalam dunia UMKM.
Tetapi semuanya berubah semenjak QRIS masuk menjadi bagian dari usaha Vinlandak yang juga dikenal dengan Vina’S Kithcen tersebut.
Cukup datang, melakukan pesanan lalu scan QR Code, dan pelanggan sudah bisa pulang dengan membawa tentengan belanjaannya tanpa harus mengotak atik kantong atau dompet lagi.
Bahkan, penjualan Vinladak Kitchen mengaku meningkat hingga 25 persen semenjak adanya penggunaan QRIS yang terintegrasi dengan aplikasi BRImo di usahanya ini.
“Kami memanfaatkan BRImo dengan QRIS BRI. Untuk presentase penggunaan QRIS ini mencapai 25 persen,” kata Dimitri beberapa waktu lalu.
Hal yang sama juga dirasakan oleh pemilik usaha Lombok Kuning Simpati, Ridwan Wahyu Chandra yang merasa sangat terbantu dengan hadirnya QRIS di tokonya.
Selain dengan tidak perlu ribet dengan uang kembalian, pelanggan juga tidak perlu lagi memikirkan biaya admin jika melakukan transfer berbeda bank apabila orang ingin membeli produknya secara offline.
“QRIS pasti sangat memudahkan, di sini kita tinggal pajang QRIS, ada costumer datang tingal QRIS aja gapake susah, apalagi rata-rata sekarang sudah tidak bawa uang cash,” jelas Ridwan.
CERITA DUA UMKM MAKASSAR
Vinlandak atau juga dikenal dengan Vina’s Kitchen sendiri telah berdiri sejak tahun 2020. Memiliki 3 jenis usaha food and beverage yang terkenal di kalangan penikmat setianya, mulai dari nasi bento, bungket kenari hingga kue durian.
Harga yang dipasarkan pun tentu beragam dan tentu masih tergolong sangat efisien, mulai dari Rp20 ribu sampai dengan Rp50 ribu.
“Untuk harga kue durian itu mulai Rp25 ribu isi lima dan Rp50 ribu untuk isi sepuluh, kemudian kue bungket kenari harga Rp20 ribu isi 75 gram, harga bento itu menyesuaikan range harga mulai dari Rp25 sampai dengan Rp50 ribu,” jelas Dimitri.
Tak ayal, Dimitri yang mengaku sempat hanya iseng membangun usaha ini telah mencapai omset bahkan menembus Rp30 juta dalam sebulannya.
“Omset sebulan itu mencapai rata-rata Rp15 juta, tapi paling besar Rp30 juta paling banyak,” ucapnya.

Di sisi lain, Lombok Kuning Simpati menjadi salah satu dari salah satu usaha sambel botol yang terbaik di Kota Makassar.
Berdiri sejak tahun 1998, diawali dengan berjualan bakmie bersama sang ayah, hingga punya penikmat sendiri atas sambel racikannya.
Sambal yang lebih dikenal dengan sebutan “lombok” oleh kalangan masyarakat Sulawesi Selatan ini memiliki perpaduan rasa pedas, asin dan gurih menjadi satu hingga sangat cocok dirasakan para penikmat setianya.
Tidak hanya menjadi pelengkap sajian makanan gorengan hingga hidangan berkuah, sambel ini juga kerap jadi pilihan masyarakat sebagai sebuah ole-ole.
Bukan sekedar sambel biasa, kini Ridwan sudah memasarkan Lombok Kuning Simpati hingga merambah ke pasar mancanegara, sampai ke Jepang dan New Zeland.
Cukup murah, Lombok kuning dijual dengan harga terjangkau mulai Rp15 ribuan bagi masyarakat yang ingin memesan secara online via handphone mau pun membeli secara langsung di toko Ridwan.
“Untuk harganya dapat dibandrol berdasarkan ukuran botol, mulai dari Rp15 ribu untuk ukuran 140ml, Rp25 ribu bagi 330ml, 600ml seharga Rp35 ribu dan 5 liter harga Rp220 ribu,” urainya.

Menariknya, kedua UMKM ini merupakan binaan dari Rumah BUMN oleh BRI Makassar, yang telah melewati beragam pelatihan untuk menerima berbagai masukan hingga arahan sebagai upaya peningkatan kapasitas individu maupun usaha milik mereka, termasuk dalam hal digitalisasi pembayaran melalui QRIS.
DAMPAK NYATA QRIS BAGI USAHA
Sejak QRIS dihadirkan sebagai alat transaksi yang memudahkan masyarakat, Ridwan merasakan dampak yang tak biasa penjualannya. Omsetnya meningkat, bahkan hingga 25 persen.
“Ada peningkatan omset penggunaan QRIS, karena sekitar 20-25 persen, dan kita pakai QRIS sejak dari awal ada QRIS,” tegasnya.
Tidak hanya Ridwan, yang merasakannya, pun demikian dengan Dimitri. Selain memudahkan proses transaksi, hingga menghindari biaya admin transfer antar bank, dirinya juga merasa terbantu dalam hal pencatatan atau pembukuan keuangan usahanya.
“Sekarang mayoritas menggunakan QRIS tidak mau kena admin, karena kalau kena admin Rp. 2.500 per sekali transaksi, jadi sangat memudahkan,” pungkasnya
“Transaksi QRIS juga sangat memudahkan dalam hal pembukuan keuangan kami,” tambahnya.
QRIS MUDAHKAN PELANGGAN
Salah satu pengguna setia QRIS, Rahayu (37), mengaku sangat terbantu dengan hadirnya layanan QRIS tersebut.
Rahayu yang juga merupakan penikmat setia Lombok Kuning Simpati ini menyatakan jika sejak hadirnya qris dirinya sudah jarang membawa uang cash kemana-mana, karena rawan hilang.
“Sekarang sudah jarang bawa uang cash, karena rawan hilang, apalagi saya sering simpan di kantong. Jadi semenjak ada qris ya sekarang keseringan (pakai) qris. Kalau uang cash paling nominal kecil,” bebernya.
Beragam jenis platform yang mendukung qris telah Rahayu gunakan saat ini, salah satunya melalui aplikasi BRImo.
Cukup buka handphone, scan, lalu transaksi selesai. Kemudahan itulah yang membuat Rahayu betah menggunakan qris berulang-ulang di sejumlah toko atau warung langganannya, termasuk saat membeli Lombok Kuning Simpati.
“Kalau ditanya manfaatnya (QRIS) tentu bermanfaat sekali, karena efisien waktu dan juga tidak ribet lagi saat berbelanja. Saya harap semua toko atau warung sekarang bisa pakai qris,” harapnya.
DIGITALISASI PEMBAYARAN OLEH RUMAH BUMN BRI
Leader Project Rumah BUMN, Ayu Anisela, mengaku salah satu syarat wajib bagi UMKM yang mau bergabung adalah membuka rekening BRI hingga pembuatan qr code untuk QRIS.
“Persyaratan utama di sini baik yang sudah punya usaha atau yang baru mau mulai usaha. Adapun persyaratannya juga di sini (Rumah BUMN) kami wajibkan atau bantu buat tabungan hingga (qr code) qris,” imbuh Ayu.
Bukan tanpa alasan, bagi Ayu pembukaan buku tabungan hingga membuatkan qr code bagi usaha UMKM mereka adalah untuk memudahkan para pelaku usaha memisahkan rekening pribadi dengan uang hasil usahanya.
“Kenapa kita wajibkan buatkan rekening BRI, karena kami mau mereka bisa memisahkan rekening pribadi sama uang usahanya, dan nantinya itu juga sudah dibantu qris usahanya,” katanya.
Ia pun mengajak bagi para pelaku UMKM lain yang ingin bergabung bersama Rumah BUMN, caranya mudah, hanya cukup punya usaha berkategori food & beverage, fashion and beauty, serta home decor & craft, Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai syarat administrasi dan mau membuka buku tabungan BRI.
“Syarat utama hanya dari niat untuk berusaha, dari administrasi hanya KTP, tabungan BRI hingga nantinya kita buatkan qris,” tutupnya.

QRIS SEBAGAI GERAKAN CASHLESS
Regional Chief Executive Officer (RCEO) BRI Region 15 Makassar, D. Argo Prabowo, menjelaskan bagaimana tentang dorongan pihaknya dalam pemasangan QRIS untuk memudahkan transaksi oleh para pelaku usaha.
“Kami menginstruksikan kepada seluruh tenaga marketing, kami instruksikan kalau ada nasabah yang punya transaksi harian atau mingguan kami mereka memasang QRIS di situ,” ujar Argo
Bagi Argo, digitalisasi pembayaran melalui QRIS adalah langkah bagi pihaknya yang selain menjadi wadah transaksi, namun juga langkah inklusi berupa edukasi bagi masyarakat.
“Salah satu tugas kita di inklusi itu bagaimana menekan meminimalisir penggunaan uang tunai atau cashless, salah satunya dengan QRIS, BRImo dan cara-cara lain yang ada kita siapkan,” tambahnya.
Ia menambahkan, bahwa BRI sejauh ini telah mendukung penggunaan digitalisasi pembayaran berupa non-tunai atau cashless sejak lama, baik itu alat akseptasi, mesin edc, qris, apilakasi BRImo dan juga Qlola.
Sejauh ini, kata Argo, melalui kehadiran digitalisasi pembayaran tersebut telah sangat membantu para pelaku usaha dalam menjalankan usahanya, terbukti melalui jumlah transaksi dan alat akseptasi yang meningkat tajam lewat data mereka telah himpun.
“Kalau kita melihat trennya, peningkatannya itu luar biasa, tahun ke tahun luar biasa dari sisi transaksi juga luar biasa bahkan secara nasional juga BRI dapat apresiasi positif karena transaksi dan alat akseptasi yang meningkat tajam,” sebutnya. (Farez)

Tinggalkan Balasan