MATA SULSEL, JENEPONTO – Dentuman alat berat dan gemuruh pembangunan fisik mewarnai pelaksanaan TMMD ke-128 Tahun 2026 Kodim 1425/Jeneponto di Dusun Bontote’ne, Desa Arpal, Kecamatan Arungkeke. Namun, di sela-sela kesibukan membangun infrastruktur, terselip momen kecil yang justru menjadi inti dari makna pengabdian yang sesungguhnya.
Pukul 12.30 WITA. Matahari tepat di atas kepala. Seusai mengerjakan pengecoran jalan, Serda Rusli, salah satu anggota Satgas TMMD, memutuskan untuk beristirahat di bawah rindangnya pohon jambu di pinggir lokasi pembangunan. Tak disangka, dua bocah mungil Syakira (5 tahun) dan Rafkar Syaifatan (3 tahun) datang menghampiri dengan senyum ceria. Tangan kecil mereka melambai, minta ditemani bermain.
Awalnya hanya obrolan ringan. Namun, ketika Serda Rusli bertanya apakah mereka sudah belajar di PAUD, jawaban Syakira sontak membuat suasana berubah haru.
“Om, Syakira hafal Pancasila!” ucap bocah perempuan itu dengan mata berbinar.
Tak butuh waktu lama, Syakira dengan percaya diri melafalkan sila demi sila. Rafkar, meski masih terbata-bata, ikut bergantian menyebutkan “Persatuan Indonesia” dengan suara menggemaskan. Dua anak yang bahkan belum genap usia sekolah dasar itu, dengan fasih dan penuh semangat, mengucapkan lima sila Pancasila tanpa bantuan siapa pun.
Serda Rusli tertegun. Di tengah keterbatasan akses dan fasilitas desa yang masih berkembang, semangat nasionalisme telah tumbuh subur di hati anak-anak ini.
Detik itu menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan hanya soal beton dan aspal. Jauh di luar itu, TMMD adalah tentang menyentuh hati, menanamkan nilai, dan membangun masa depan.
“Anak-anak ini adalah calon pemimpin bangsa. Tugas kami bukan hanya membangun jalan yang menghubungkan desa, tetapi juga membangun mimpi dan rasa cinta tanah air di hati mereka,” ujar Serda Rusli dengan suara bergetar, sambil mengusap kepala Syakira dan Rafkar.
Sore menjelang malam. Sebelum berpamitan kembali ke markas, Serda Rusli menjanjikan sesuatu. “Besok Om akan ajak kalian bernyanyi lagu Indonesia Raya, ya?” Kedua bocah itu mengangguk riang.
TMMD ke-128 Tahun 2026 akan berakhir. Jalan-jalan baru akan diresmikan, jembatan akan diresmikan, dan fasilitas umum akan berdiri kokoh. Namun, bagi warga Dusun Bontote’ne, kenangan yang paling abadi bukanlah bangunan megah, melainkan kehadiran seorang prajurit berseragam loreng yang di sela pekerjaannya menyempatkan diri duduk berlantai tanah mengajar, mendengar, dan menyayangi anak-anak mereka.
Di balik seragam loreng yang keras, tersimpan hati yang lembut. Di balik pembangunan fisik, ada pembangunan jiwa. Dan di balik tugas negara, ada cinta untuk anak negeri. (*)

Tinggalkan Balasan