MATA SULSEL, MAKASSAR – Suasana ruang tunggu di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin ke depan tak hanya dipenuhi pengumuman jadwal penerbangan dan lalu-lalang penumpang.
Alunan musik tradisional dan tarian khas Sulawesi Selatan bakal ikut menyambut para penumpang yang datang maupun hendak terbang dari Makassar.
Bandara terbesar di kawasan timur Indonesia itu mulai membuka ruang bagi sanggar dan komunitas seni budaya dari berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Selatan untuk tampil langsung di area bandara secara gratis.
Program panggung budaya tersebut dirancang menjadi agenda rutin yang menghadirkan pertunjukan tari dan musik tradisional di area ruang tunggu penumpang.
General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Ruly Artha, mengatakan bandara ingin menjadi ruang yang lebih hidup sekaligus ikut memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas.
“Kami ingin memberikan spot bagi teman-teman sanggar maupun kelompok seni budaya dari seluruh kabupaten agar bisa tampil di bandara,” ujar Ruly kepada wartawan di ruang tunggu bandara, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, konsep tersebut bukan sekadar hiburan bagi penumpang, tetapi juga upaya menghadirkan pengalaman berbeda saat berada di bandara.
Di tengah aktivitas perjalanan yang padat, pertunjukan seni diharapkan menciptakan suasana yang lebih hangat dan khas Sulawesi Selatan.
“Tentunya kami ingin memberikan warna di bandara agar menciptakan kenyamanan dan ambience bagi pengguna jasa,” katanya.
Yang menarik, seluruh sanggar seni diberikan kesempatan tampil tanpa dipungut biaya. Pihak bandara bahkan menyiapkan panggung dan area khusus sebagai etalase budaya daerah.
Sanggar yang ingin tampil hanya perlu berkoordinasi dengan tim Customer Experience Bandara Sultan Hasanuddin.
“Kami sangat terbuka. Siapa pun yang ingin tampil di bandara akan kami siapkan panggungnya,” jelas Ruly.
Meski jadwal rutin masih dalam tahap penyusunan, pihak bandara berharap setiap bulan ada perwakilan daerah berbeda yang tampil membawakan seni khas masing-masing.
Dengan begitu, penumpang yang datang ke Makassar dapat langsung merasakan keberagaman budaya Sulawesi Selatan sejak pertama menginjakkan kaki di bandara.
Tak hanya membuka ruang pertunjukan, pengelola bandara juga menyalurkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) senilai Rp15 juta kepada komunitas seni budaya sebagai dukungan terhadap pengembangan kesenian lokal.
Bantuan tersebut diterima salah satunya oleh Lembaga Seni Budaya Pajaga Ada yang berbasis di Kabupaten Maros.
Ketua Umum Pajaga Ada, Syarifah Silviana, mengatakan bantuan itu akan digunakan untuk pengadaan kostum dan perlengkapan seni.
“Bantuan dana CSR ini akan digunakan untuk pengadaan kostum kembali dan alat untuk menunjang karya-karya selanjutnya,” ujarnya.
Ia menyebut komunitasnya memiliki sekitar 50 anggota aktif dan dijadwalkan tampil rutin setiap bulan di Bandara Sultan Hasanuddin.
Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi VIII, Sri Wulan, mengapresiasi langkah bandara menghadirkan panggung budaya di area publik.
Menurutnya, konsep tersebut dapat menjadi media promosi wisata sekaligus menjaga eksistensi budaya daerah di tengah modernisasi transportasi udara.
“Ini bisa jadi penarik wisata sehingga orang luar tahu bahwa kita punya banyak budaya yang harus ditampilkan,” katanya.
Bagi Bandara Sultan Hasanuddin, ruang tunggu kini bukan lagi sekadar tempat transit. Perlahan, area keberangkatan itu disiapkan menjadi wajah pertama budaya Sulawesi Selatan bagi siapa pun yang datang. (Farez)

Tinggalkan Balasan