MATA SULSEL, MAKASSAR – Semerbak bau kacang mete matang digoreng telah menjadi aroma yang kerap kali tercium oleh warga hingga pada beberapa petak rumah di Kompleks Perumahan Dosen (Perdos) Unhas, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar.
Bukannya tak bertuan, ternyata aroma khas yang kerap dihirup beberapa warga itu berasal dari dapur UMKM Bunly Karya Abadi, salah satu usaha olahan kacang mete yang telah menembus pasar lintas pulau nusantara.
Di balik proses masak beraroma khas hingga penjualan yang menembus pasar hingga keluar Sulawesi Selatan, hadir sosok Lily Nuryah pada usaha yang lebih dikenal dengan Bunly Cashew ini.
Memulai usahanya dari keberanian mencoba peluang itu muncul usai Lily mengikuti pelatihan Kewirausahaan yang digelar oleh salah satu kementrian Republik Indonesia pada tahun 2017 lalu.
“Usaha ini bermula setelah (saya) ikut pelatihan Gerakan Kewirausahaan Nasional Kemenkop tahun 2017. Dari situ, ilmu yang didapat kami aplikasikan ke usaha ukm kami bernama Bunly,” jelas Lily dengan penuh semangat.
Sejak awal, Lily mengaku berani membuka Bunly berkat potensi besar komiditas mete di Sulsel, tetapi menurutnya belum banyak yang mau mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi.
Lewat produksi rumahan sederhana miliknya, Bunly Cashew berkembang dan tumbuh dengan menawarkan produk perlahan ke pasar ole-oleh sampai dengan jaringan ritel.
Bermacam varian rasa dihadirkan oleh Lily, ada original, pedas, gula aren bawang putih sampai dengan rumput laut, diproduksi untuk memanjakan lidah para pelanggan.
TITIK AWAL LILY MANFAATKAN KUR
Perjalanan membangun usaha tentunya tidak selalu berjalan mulus seperti yang diharapkan. Permintaan yang melebihi dengan kapasitasnya membuat usaha miliknya harus terkendala dengan modal.
Di situlah, titik balik usaha Bunly Cashew hadir dengan memilih memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada tahun 2020 lalu.
“Saya mengambil KUR sejak tahun 2020, Mulai ambil Rp15 juta (awalnya) sampai Rp50 juta (yang kedua),” ungkapnya.
Bukan tanpa alasan, Lily mengungkapkan jika keputusannya mengambil KUR dilakukan untuk dapat membuat usahanya dapat berkembang menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya.
Dengan proses relatif cepat dan tanpa menggunakan jaminan, KUR BRI kini telah membuat usahanya naik kelas.
“KUR (kami manfaatkan) untuk mengembangkan usaha biar lebih berkembang,” imbuhnya.
Selain sangat membantu dalam menopang produksi Bunly Cashew, kata Lily, KUR BRI ini juga mampu memperluas pemasaran dari usahanya. Terbukti melalui sejak dirinya kerap dilibatkan untuk mengikuti sejumlah pameran yang digelar oleh pemerintah sampai dengan perbankan.
Berkat tambahan modal itu pula, Bunly Cashew sedikit demi sedikit memperluas jangakuan pasarnya, baik dijual secara offline maupun online. Beragam varian produk awalnya telah dipasarkan ke sejumlah hotel hingga supermarket.
Namun seiring berjalannya waktu, Lily mengaku produknya telah menjangkau pasar sampai ke luar pulau Sulawesi. Mulai dari Kota Jakarta, Surabaya Bali dan Yogyakarta. Bahkan, kini juga bisa dikirim hingga luar negeri.
“Sekarang sudah bisa dikirim sampai ke luar negeri,” tegasnya.
Sejauh ini Bunly Cashew mampu menghasilkan sekitar seribu kemasan dalam tiap kali produksi. Ukurannya variatif, mulai 50 sampai 200 gram. Dibandrol dengan harga belasan sampai puluhan ribu per kemasannya.
“Kami menjual kacang mete mulai dari harga Rp15 ribu sampai Rp ribu per kemasan,” jelas Lily.
Varian original dan pedas menjadi produk paling laku di kalangan pelanggan.
“Best seller di kami itu original dan pedas,” kata Lily.

Selain mendorong kapasitas produksi, Lily juga menerapkan sistem pembayaran digital untuk memudahkan transaksi para pelanggan.
“Selain beli langsung, (pelanggan) bisa pakai QRIS dan transfer,” ujar Lily.
Saat ini, Lily menjalankan usaha UMKM Buly Cashew bersama seorang pegawai yang membantu proses produksi hariannya.
“Saya (menjalankan usaha) bersama satu pegawai,” katanya.
BUNLY CASHEW HIDUPKAN HARAPAN
Pegawai Bunly Cashew, Sugrawati, menuturkan bahwa dirinya tentu sangat senang menjadi bagian dari Bunly Cashew milik Lily yang mengedepankan rasa kekeluargaan erat kepada ia selaku pekerja.
“Tentunya sangat senang bekerja dengan Bunly yang secara kekeluargaan dalam memperlakukan pegawai selama bekerja di sini,” pungkasnya.
Olehnya itu, ia tentu berharap jika Bunly Cashew dapat dikenal secara luas agar mampu meraup penjualan yang lebih besar.
“Harapan kedepanya pemasaran lebih luas, sehingga bisa tetap bertahan dalam menjalankan tugas,” ujar Sugrawati dengan rasa penuh harap.
Meski dimulai dari usaha kecil rumahan, bukan berarti pemasukannya juga kecil. Bukan main, omzet Bunly Cashew terus meningkat, sampai pada titik klimaksnya hingga Rp50 juta dalam sebulan.
“Omzet puluhan, sampai Rp50 juta per bulan,” beber Lily.
Ia pun berharap, jika nantinya hadir sosok Lily-lily lain di luar sana yang mau mengambil keputusan dan keberanian dalam berusaha melalui KUR demi meningkatkan perekonomian keluarga serta orang sekitarnya.
Melalui KUR ini, Lily ingin, jika BRI mampu memberikan kemudahan dan pendampingan maksimal kepada para pelaku usaha yang ingin mengambil langkah seperti dia nantinya.
“Semoga pihak Bank BRI memberikan kemudahan proses pengajuan dan pendampingan secara maksimal (kepada para UMKM),” harapnya.
KUR BRI DORONG UMKM NAIK KELAS
Regional Chief Executive Officer (RCEO) BRI Region 15 Makassar, D. Argo Prabowo, mengatakan bahwa sektor UMKM memanglah menjadi fokus utama pembiayaan pihaknya, khususnya lewat penyaluran KUR.
“BRI memiliki peran besar dalam sektor pembiyaan UMKM, khusus kredit mikri dengan plafon maksimal Rp500 juta. Secara nasional maupun di Regional Office Makassar, portofolio kredit mikro mendominasi sekitar 60 persen dari total pembiayaan,” ucap Argo.
Argo menambahkan, mayoritas aktivitas pembiayaan BRI memang diarahkan untuk mendorong UMKM naik kelas lewat akses modal yang lebih mudah, termasuk yang diterima oleh Bunly Cashew.
“Mayoritas aktivitas kami memang fokus pada pembinaan, pemberdayaan, dan mendorong UMKM naik kelas melalui pembiayaan di bawah Rp500 juta,” tukasnya.
Sejauh ini, lanjut Argo, penyaluran KUR hingga pada 2025 di wilayah Regional Office Makassar sendiri mencapai Rp16,8 trilliun. Melampaui target pemerintah yakni sebesar RP14,6 trilliun.
Menurutnya, KUR memang diproyeksikan untuk mendukung sektor produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat ekonomi masyarakat, seperti yang dilakukan oleh UMKM Bunly Cashew tersebut. (Farez)

Tinggalkan Balasan