LAZ Hadji Kalla Hidupkan TPQ di Pinrang Lewat Pelatihan Guru Mengaji Tilawati

LAZ Hadji Kalla Hidupkan TPQ di Pinrang Lewat Pelatihan Guru Mengaji Tilawati

MATA SULSEL, MAKASSAR – Dari masjid-masjid kecil di Desa Rajang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, gerakan membangun kembali pendidikan Al-Qur’an perlahan tumbuh.

Selama ini, banyak anak di desa tersebut belajar mengaji secara sederhana tanpa pola pembelajaran yang terstruktur. Sebagian besar masjid bahkan belum memiliki Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) aktif.

Kondisi itu mendorong LAZ Hadji Kalla melalui program Tebar Dai Desa Bangkit Sejahtera (DBS) menghadirkan pelatihan standardisasi guru mengaji menggunakan Metode Tilawati Level 1.

Program ini menjadi langkah awal membangun sistem pembelajaran Al-Qur’an yang lebih terarah di wilayah pedesaan.

Pendamping Dai DBS LAZ Hadji Kalla, Abdurrahman Laica, mengatakan persoalan utama yang dihadapi masyarakat bukan hanya minimnya TPQ, tetapi juga terbatasnya tenaga pengajar dengan metode mengajar yang seragam.

“Selama ini anak-anak belajar mengaji secara tradisional dan tidak rutin. Karena itu kami mulai dari membangun TPQ-nya sekaligus menyiapkan guru-guru mengajinya agar pembelajaran lebih terstruktur,” ujarnya.

Sejak awal bertugas di Desa Rajang, Abdurrahman aktif menghidupkan kembali aktivitas mengaji di masjid-masjid desa.

Dari pendampingan tersebut, terbentuk empat titik TPQ baru yang kemudian menjadi basis pelaksanaan program pelatihan guru mengaji.

Sebanyak 31 peserta dari empat masjid mengikuti Diklat Standardisasi Guru Mengaji Metode Tilawati yang dilaksanakan secara daring bersama lembaga pelatihan di Surabaya.

Dari jumlah tersebut, 28 peserta dinyatakan menyelesaikan seluruh rangkaian pelatihan dan mulai menerapkan metode pembelajaran di TPQ masing-masing.

Peserta berasal dari Masjid Nurul Huda Buttu-buttu, Masjid Nurul Yaqin Buttu Rajang, Masjid An Nur Buttu, dan Masjid Al Ikhlas Kampung Suka.

Program Officer Islamic Care LAZ Hadji Kalla, Muh Syafei Karsali, menyebut program ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan Al-Qur’an yang berkelanjutan di desa.

“Harapannya, TPQ yang mulai tumbuh ini bisa terus berkembang karena ditopang oleh guru-guru mengaji yang memiliki standar pembelajaran yang sama dan lebih mudah diterapkan kepada anak-anak,” katanya.

Metode Tilawati sendiri dikenal sebagai metode pembelajaran Al-Qur’an yang menekankan pendekatan klasikal dan individual secara seimbang, sehingga dinilai lebih efektif membantu anak-anak memahami bacaan Al-Qur’an dengan baik.

Kepala Desa Rajang, Muhammad Abu, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan LAZ Hadji Kalla di wilayahnya. Menurutnya, program tersebut memberi dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam penguatan pendidikan keagamaan anak-anak desa.

“Kehadiran program ini sangat membantu masyarakat kami. Guru-guru mengaji sekarang lebih siap membina anak-anak dengan metode yang lebih terarah dan teratur,” ujarnya.

Melalui program Tebar Dai DBS, LAZ Hadji Kalla tidak hanya menghadirkan dai untuk berdakwah di desa, tetapi juga mendorong lahirnya pusat-pusat pembelajaran Al-Qur’an yang dapat tumbuh mandiri di tengah masyarakat. (*)


Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *