Dari Hobi Jadi Bisnis Kreatif, Kira-Kira Michi Tumbuh Bersama BRIncubator BRI

Dari Hobi Jadi Bisnis Kreatif, Kira-Kira Michi Tumbuh Bersama BRIncubator BRI

MATA SULSEL, MAKASSAR – Pada sebuah store kontainer sederhana dekat dari sejumlah kampus di Jalan Alauddin Kota Makassar, gantungan kunci beragam karakter, pouch bergambar tokoh favorit, hinga alas gelas bernuansa pop culture anime Jepang hingga idol K-Pop memenuhi sudut ruangan.

Tempat itu menjadi ruang berkumpul kecil bagi para pecinta anime dan K-Pop yang ingin memiliki sejumlah merchandise dengan tampilan beragam karakter favoritnya lewat harga lebih terjangkau.

Selain Kira-Kira Michi, dalam store kontainer yang berbentuk segi empat itu juga terdapat jenis usaha lain jenis food and beverages yakni Shiroi Tomadachi.

Mulai dari ice cream, risoles, churros hingga donat anime dibalut dengan pengemasan menarik beragam karakter anime yang tentunya dapat dibandrol dengan harga terjangkau.

Di balik usaha-usaha kreatif itu, ada pasangan suami istri, Mutia Nurafni Diafaqi (36) dan Yuji (41), yang perlahan membangun bisnis mereka dari hobi menjadi sebuah peluang usaha.

“Kita ada dua jenis usaha dalam satu store, Shiroi Tomadachi untuk food and beverage dan Kira-Kira Michi untuk merchandise. Kami highlight Kira-Kira Michi karena spesialisasi costume per pcs, dan kita bawa pop culture, khususnya anime, karena memang saya dari dulu sangat suka anime,” kata Tia kepada Rakyat.News, Kamis (14/5/2026)

Tidak seperti toko merchandise pada umumnya, Kira-Kira Michi justru tumbuh dari kedekatan Tia, sapaan akrab Mutia, dengan komunitas pecinta pop culture Jepang hingga Korea. Ia memahami bagaimana mahalnya merchandise resmi yang kerap kali sulit dijangkau anak muda.

“Dasarnya saya membuat ini karena saya dulunya seperti mereka, dan saya mengerti perasaan mereka pengen merchandise itu,” ujarnya.

Menurutnya, banyak penggemar anime dan K-Pop hanya bisa melihat produk-produk favorit mereka di media sosial tanpa mampu membeli karena harga yang tinggi.

“Sementara teman-teman penyuka pop culture anime kada mereka mau tapi punya budget terbata, jadi lahirlah usaha kam seperti ini, mewadahi khusus ke komunitas kita dulu,” jelas Tia.

Tia lanjut menjelaskan, bahwa usahannya ini sendiri bermula dari keputusan besar dalam hidupnya. Usai melahirkan anak pertamanya, ia memilih berhenti bekerja kantoran dan mulai mencari aktivitas yang tetap bisa membuatnya profuktif sambil mengurus keluarga.

“Inspirasi membuat Kira-Kira Michi pertama karena setelah melahirkan saya tidak bekerja lagi di kantoran, jadi berpikir bisa menjalankan bisnis sambil mengurus suami dan anak tapi tetap menghasilkan,” imbuhnya.

Berbekal hobi desain dan kecintaannya terhadap pop culture, ia mulai membuat merchandise costume secara mandiri. Perlahan, pesanan mulai datang dari komunitas anime, mahasiswa hingga anak muda pecinta anime dan K-Pop di Kota Makassar.

Rakyat.News - UMKM Kira-Kira Michi
Salah satu contoh produk UMKM Kira-Kira Michi. (Foto: Andi Fatur Rezky AAR/Rakyat.News).

“Kebanyakan dari komunitas penyuka pop culture, utama pemasarannya fokus di komunitas, selebihnya di mahasiswa dan dewasa muda,” pungkasnya.

TITIK BALIK USAHA LEWAT BRINCUBATOR

Selama tiga tahun Kira-Kira Michi berjalan, usaha ini berkembang secara otodidak. Kata Tia, hampir semua proses dipelajari sendiri, mulai dari produksi, pencatatan keuangan, hingga pengelolaan usaha sehari-hari.

Namun perjalanan usaha mereka tidak selalu mulus. Pada tahun 2025, Kira-Kira Michi sempat mengalami masa sulit ketika harus pindah lokasi usaha dari salah satu ruko pada kawasan Tanjung Bunga, Kota Makassar.

“Tahun 2025 itu kita sempat hiatus karena proses pindah tempat,” tukasnya.

Perpindahan lokasi itu membuat aktivitas usaha melambat. Kata Tia, mereka bahkan sempat berhenti untuk beberapa lama sembari mencari lokasi baru yang lebih strategis dan dekat dengan pasar anak muda.

“Sembari mencari tempat, selama setahun tidak terlalu banyak aktivitas, hingga saya dapat info dari ada kegiatan BRIncubator jadi akhirnya ikut,” katanya.

Informasi tentang BRIncubator dari Rumah BUMN sendiri pertama kali ia dapatkan dari sesama pelaku UMKM.

“Kita dapat info dari teman UMKM lain kalau ada kegiatan BRI namanya BRIncubator, semacam pelatihan dan kompetisi UMKM, kenapa tidak kita coba aja kan?, dan saya daftarkan Kira-Kira Michi,” jelas Tia dengan penuh semangat.

Awalnya Tia hanya ingin mencoba mengisi waktu sambil kembali membangun usaha yang sempat vakum. Namun keputusannya bergabung dengan BRIncubator justru menjadi titik bali penting bagi perkembangan bisnis mereka.

“Kalau pertama kali join mungkin lebih ke pelatihan, tentang bagaimana upgrading bisnis dari segi finance, operasional, dan banyak ilmu-ilmu baru,” katanya.

Bagi Tia, selama mengikuti BRIncubator, ia mulai memahami bahwa membangun usaha tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas produk.

“BRIncubator itu lebih detail ke operasional bisnis tentang bagaimana mengatur finance, manajemen staff, distribusi, pengembangan beberapa tahun ke depan itu bagaimana,” tegasnya.

Ia mengaku sebelumnya semua proses bisnis dijalankan berdasarkan pengalaman pribadi tanpa sistem yang jelas.

“Sebelumnya kita berdua itu otodidak, belajar sendirri tidak pakai konsultan,” tuturnya.

Mulai dari pencatatan keuangan hingga pengelolaan karyawan dilakukan secara sederhana. Namun setelah mengikuti BRIncubator, ia mulai mengenal pola bisnis yang lebih terstruktur.

“Ternyata setelah masuk BRIncubator ada form yang lebih detail dan terarah. Jadi yang tadinya masih manual, setelah masuk BRIncubator jadi lebih tertata,” sahutnya.

Saat ini, Kira-Kira Michi memiliki satu orang karyawan yang telah membersamai Tia dan suami dalam mengembangkan usaha merchandise tersebut selama beberapa tahun belakangan ini, yakni Ishak.

KIRA-KIRA MICHI HIDUPKAN ASA KARYAWAN

Karyawan Kira-kira Michi, Ishak (23), mengaku sangat senang telah menjadi bagian daripada UMKM yang bergerak dalam bidang usaha merchandise tersebut.

“Awal bergabung dengan Kira-kira Michi di tahun 2024 bermula dari informasi yang diberitahukan oleh teman dan mengikuti beberapa tes dengan teman-temain lain sampai akhirnya diterima oleh Kira-kira Michi menjadi bagian staf dari perusahaan tersebut,” paparnya.

Beragam manfaat Ishak telah dapatkan selama menjadi bagian dari Kira-Kira Michi, mulai dari wawasan, relasi, pengalaman kerja hingga insentif yang menyokong dirinya sebagai mahasiswa dari salah satu kampus negeri di Kota Makassar.

“Saya memperoleh banyak manfaat setelah bergabung dengan tim Kira-kira Michi salah satunya memperoleh lingkungan kerja yg baik, memperoleh banyak pengalaman, menambah wawasan dan teman, serta memperoleh insentif salah satunya,” tutur Ishak.

Rakyat.News - UMKM Kira-Kira Michi dan Shiroi Tomadachi
Beberapa produk food and beverage UMKM Shiroi Tomadachi dikemas dengan menarik yang juga menjadi bagian dari Kira-Kira Michi. (Foto: Andi Fatur Rezky AAR/Rakyat.News).

DIGITALIASI DAN HARAPAN DI TINGKAT NASIONAL

Tidak hanya tentang manajemen bisnis, Kira-Kira Michi juga mulai diperkenalkan pada pengembangan digitalisasi usaha.

“Kita diajarkan digitalisasi sama BRIncubator,” tandanya.

Melalui program tersebut, Tia dibantu membuat website, promosi digital, hingga penguatan identitas usaha.

“Melalui program BRIncubator kita dibantu promosi dibuatkan konten, bantu flyering produk kami, buat kartu nama dan terbaru dibantu buatkan website,” cetusnya.

Dampak dari pendampingan itu pun mulai terasa. Produk Kira-Kira Michi kian dikenal, bisnis yang sebelumnya berjalan sederhana kini telah memiliki arah pengembangan yang lebih jelas.

Puncaknya, Kira-Kira Michi berhasil meraih Juara 3 dalam kompetisi BRIncubator tingkat lokal Rumah BUMN BRI Makassar.

Kini, usaha merchandise anime tersebut sedang dalam tahap kurasi kompetisi UMKM tingkat nasional di Jakarta.

“Sekarang kami dalam tahap kurasi Rumah BUMN untuk registrasi diikutkan lomba UMKM tingkat nasional,” ucap Tia.

Ia pun optimis usahanya ini mampu bersaing lebih jauh apabila terpilih bersaing dengan para pelaku usaha di tingkat nasional nanti.

“Tentu kami optimis jika lolos ke nasional target kami juara satu,” tutupnya.

PELATIHAN BRINCUBATOR RUMAH BUMN BRI

Leader Project Rumah BUMN Makassar, Ayu Anisela, mengatakan BRIncubator memang dirancang membantu UMKM lokal agar siap berkembang secara bisnis maupun manajemen.

“Aktivitas kami itu kita fokuskan pada incubator lokal yang baru,” ujar Ayu.

BRIncubator sendiri adalah program pelatihan, pendampingan serta pemberdayaan intensif dari BRI melalui Rumah UMKM bagi para pelaku usaha berkategori food & beverage, fashion and beauty, serta home decor & craft untuk dapat naik kelas lewat validasi ekspor hingga akses pembiayaan.

Melalui BRIncubator, kata Ayu, nantinya para peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga proses kurasi panjang dan pendampingan agar mampu naik kelas.

“Untuk beberapa UMKM yang terlibat di BRIncubator nanti kita akan kurasi dan ikutkan lomba (di lokal), dan pemenangnya nanti di sini kita akan ikutkan BRIncubator nasional,” jawabnya.

UMKM NAIK KELAS DENGAN PROGRAM BRI

Sementara itu, Regional Chief Executif Orficer (RCEO) BRI Region 15 Makassar, D. Argo Prabowo, menyebutkan jika Rumah BUMN menjadi salah satu upaya pihaknya dalam memperkuat ekosistem UMKM di daerah.

Rumah BUMN Makassar sendiri membawahi 3 kabupaten atau kota di Sulawesi Selatan, antara lain Makassar, Bulukumba hingga Pinrang.

“Melalui program RUmah BUMN, pada 2025 BRI berhasil mendorong lebih dari 6.00 UMKM naik kelas serta melahirkan lebih dari 6.000 UMKM baru,” beber Argo.

Bagi seorang Tia, BRIncubator bukan hanya kegiatan pelatihan bisnis biasa. Program ini telah menjadi ruang belajar baru bagi para pelaku UMKM kecil untuk memahami bagaimana membangun usaha secara lebih profesional.

Berawal dari sebuah hobi desain anime di sudut kecil Kota Makassar, usaha ini telah dan tetap perlahan tumbuh menjadi mimpi besar bagi Mutia dan sang suami Yuji. (Farez)


Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *