Rakyat.News - Rumah BUMN BRI

Rumah BUMN Makassar: Wadah Mimpi Ribuan Pelaku UMKM Tumbuh Jadi Bisnis Nyata

MATA SULSEL, MAKASSAR – Suasana di Rumah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Makassar siang itu tampak berbeda. Sejumlah pegawai dan juga puluhan peserta magang dari beragam almamater duduk berderet sambil membuka laptop dan telepon genggam mereka.

Ada yang sedang mendalami penyusunan laporan keuangan, ada yang mencari referensi desain kemasan produk, sementara sebagian lainnya sibuk mendiskusikan strategi pemasaran digital.

Bukan untuk kepentingan mereka, melainkan untuk merajut mimpi-mimpi kecil para pelaku usaha kecil mikro menengah (UMKM) yang perlahan mulai dibentuk menjadi bisnis yang lebih tertata.

Semenjak dibangun pada 2017 lalu, Rumah BUMN yang dikelola BRI Regional Office (RO) Makassar ini telah menjelma menjadi ruang belajar sekaligus tempat bertumbuh bagi ribuan UMKM.

Leader Project Rumah BUMN Makassar, Ayu Anisela, mengungkapkan bahwa hingga saat ini total UMKM yang telah dibina oleh pihaknya mencapai 6.100 pelaku usaha.

“Rumah BUMN ini dibangun sejak tahun 2017. Total UMKM sekarang yang (telah) dibina ada 6.100,” ujar Ayu kepada Rakyat.News beberapa waktu lalu.

Menurutnya, para pelaku UMKM yang dibina berasal dari berbagai sektor usaha, mulai dari food and beverage, fashion hingga craft atau home decor.

Tidak sedikit di antara mereka yang kini telah berkembang, memiliki toko sendiri, sampai dengan berhasil engikuti berbagai kompetisi UMKM.

“UMKM binaan kami ada yang sudah naik kelas atau mandiri, ada beberapa sudah ikut lomba atau sudah punya ruko,” pungkasnya.

Bagi Ayu, Rumah BUMN telah membantu UMKM tidak hanya dari segi pelatihan sesaat. Pendampingan dilakukan mulai dari tahap dasar, bahkan ketika seseorang baru memiliki niat untuk memulai suatu usaha.

“Jadi bagi kami syarat utama hanya mulai ari niat berusaha, dari administrasi hanya KTP, tabungan BRI hingga nantinya kita buatkan QRIS,” imbuhnya.

Melalui pendampingan itu kemudian diperkuat melalui program BRIncubator, sebuah program inkubasi bisnis yang mulai berjalan sejak tahun 2023.

Dalam program ini, UMKM tidak hanya belajar soal pemasaran, namun juga dibekali pemahaman mengenai mindset berusaha, manajemen keuangan, hingga operasional bisnis.

“Para pelaku usaha diajak untuk bagaimana membangun mindset berusaha, manajemen keuangan dan manajemen operasionalnya,” tuturnya.

Ayu kemudian menjelaskan, UMKM yang ikut BRIncubator lokal nantinya akan dikurasi untuk mengikuti lomba di tingkat nasional hingga masuk dalam program lanjutan bernama Grownpreneur.

Rakyat.News - Rumah BUMN BRI
Potret sejumlah produk dari UMKM yang ditampilkan di Rumah BUMN Makassar. (Foto: Andi Fatur Rezky AAR/Rakyat.News).

KEPEDULIAN PESERTA MAGANG UNTUK UMKM

Salah satu peserta Magang Rumah BUMN, Riswan Ramadhan memaparkan alasan dirinya mau menjadi bagian dari wadah inkubasi bagi para pelaku usaha di Kota Makassar tersebut.

“Sebagai mahasiswa informatika, saya tentu pengen digitalisasi UMKM juga, dan ini yang membawa saya magang di Rumah BUMN Makassar, karena memang tempat inkubasi UMKM di sini,” jelas Riswan dengan penuh semangat.

Bersama dengan 40 pemagang lainnya untuk batch 17 di Rumah BUMN Makassar, pada divisi digital marketing, dengan penuh bangga dirinya mengaku telah membantu beberapa UMKM untuk dibuatkan website secara gratis.

“Saya di divisi digital marketing, saya membuatkan beberapa website beberapa UMKM secara gratis,” tegas dia.

Selain pembuatan website, berbagai keuntungan lainnya juga disajikan bagi para pelaku usaha yang ingin naik kelas tersebut lewat akses digitalisasi, mulai dari pembuatan akun marketplace sampai dengan edukasi penggunaan sosial media.

“Melalui website ini tentu akan meningkatkan engagement UMKM, kemudian membantu membuatkan beberapa marketplace digital, kemudian edukasi penggunaan sosial media besar lainnya,” sambungnya.

Oleh karena itu, mahasiswa program studi Teknik Informatika Universitas Hasanuddin angkatan 2022 itu berharap jika muncul sosok-sosok lain seperti dirinya yang mau bergabung dengan Rumah BUMN Makassar untuk membantu UMKM dalam meningkatkan kapasitasnya demi membantu perekonomian, baik bagi para pelaku usaha maupun negara.

“Saya berharap melahirkan anak-anak muda yang punya tujuan dan visi seperti saya yang bisa memberdayakan UMKM, karena kita tau bahwa UMKM menjadi salah satu penyumbang perputaran ekonomi di Indonesia adalah UMKM, jadi itu harus kita manfaatkan,” hararpnya.

DAMPAK NYATA BAGI 3 UMKM MAKASSAR

Dampak langsung dari pendampingan tersebut kini mulai dirasakan oleh para sejumlah pelaku UMKM di Kota Makassar.

Salah satunya datang dari Vinlandak Kitchen, usaha kuliner milik Dimitri Eka Mariana yang dikenal lewat produk kue durian hingga nasi bento karakter untuk anak-anak.

Dimitri mengaku, sebelum bergabung dengan Rumah BUMN, usahanya hanya berjalan secara sederhana melalui sisterm pre-order online.

Tetapi usai mendapat pendampingan, pemasarannya kini berkembang jauh lebih luas, kini produknya dapat ditemukan mulai dari toko retail sampai dengan loby hotel ternama.

“Perubahan setelah dibina tari BRI tentu pemasaran jadi lebih luas, saya sebelumnya hanya open pre-order lewat online, sekarang sudah masuk di Toko Satu Sama tiga cabang, Hotel Claro, Hotel Swiss-Bell, Hotel Aryaduta, Brownies Amanda sama Hero,” bebernya.

Tidak hanya soal pemasaran, Dimitri juga meraskan perubahan besar dalam kepercayaan dirinya sebagai pelaku usaha, termasuk dalam hal pengembangan publik speakingnya.

“Jujur sebelum masuk BRincubator saya tidak bernai ngomong depan umum, takut-takut, terus di sana ada pengembangan diri, itu membantu sekali, jadi sekarang sedikit lebih berani,” katanya.

Berkat hal itu pula, kini Vinlandak Kitchen mampu mencatat omzet hingga Rp30 juta per bulan pada momen ramai, dengan penjualan produk unggulan seperti bento karakter, kue durian hingga pancake kenari.

BRI Antar UMKM Vinlandak Kitchen Tembus Pasar Retail hingga Hotel
Potret momen salah satu karyawan Vinlandak Kitchen melakukan pengemasan untuk kue durian khas Vinlandak Kitchen. (Foto: Andi Fatur Rezky AAR/Rakyat.News).

Tidak hanya Vindlandak Kitchen, kisah serupa juga datang dari Lombok Kuning Simpati, UMKM sambal khas dari Kota Makassar milik RIdwan Wahyudi Chandra.

Usaha yang awalnya hanya sambal pelengkap bakmi keluarga itu kini berkembang menjelma menjadi produk retail modern yang masuk ke berbagai jaringan minimarket hingga supermarket.

Meliana, istri pemilik Lombol Kuning Simpati, menjelaskan bahwa pendampingan dari Rumah BUMN BRI memberikan perubahan besar terhadap bisnis mereka, terutama dalam hal branding dan digital marketing.

“Pastinya pertama pelatihan, kita belajar bagaimana memasarkan yang baik, kemudian logonya dibantu BRI awal-awal itu, pergantian kemasan juga diajarkan BRI, kemudian ada pelatihan-pelatihannya bagaimana digital marketing itu juga kita dapat dari BRI,” paparnya.

Ketika pandemi COVID-19 melanda, kata Meliana, ilmu digitalisasi yang mereka dapatkan justru menjadi titik balik usaha tersebut.

“Kita masuk tahun 2018 ya dan COVID-19 masuk saat itu tahun 2020-2021, dan pada saat pandemi itu masuk ternyata digital marketing kita itu yang naik, belajar setelah menjadi binaan BRI bagaimana digitalisasi dan sebagainya dan ternyata produk kita makin dikenal,” jelas Meliana.

Berkat upaya itu, kini produk Lombok Kuning Simpati tidak hanya dipasarkan di Kota Makassar, tetapi juga telah masuk ke retail modern seperti Indomaret, Alfamart, hingga Alfamidi.

Rakyat.News - Lombok Kuning Simpati dan BRI
Potret momen proses produksi oleh salah satu karyawan dari Lombok Kuning Simpati. (Foto: Andi Fatur Rezky AAR/Rakyat.News).

Selain sektor kuliner, dampak Rumah BUMN juga dirasakan UMKM kreatif anak muda seperti KIra-Kira Michi.

Usaha merchandise bertema pop culture milik Mutia Nurafni Diafaqi itu bahkan terlah berhasil meraih Juara 3 BRIncubator tingkat lokal di Makassar.

Berawal dari hobi desain hingga kecintaannya terhadap beragam karakter anime, Tia sapaan akrabnya, dengan keteguhannya membuka usaha merchandise costum yang menyasar komunitas anak muda pecinta pop culture.

Namun selama menjalankan bisnisnya secara otodidak Tia mengaku banyak hal yang belum tertata dengan baik, hingga kemudian dirinya menemukan titik balik usahanya dengan masuk BRIncubator.

“Ternyata setelah masuk BRIncubator ternyata ada form yang lebih detail dan terarah. Jadi yang tadinya masih manual, setelah masuk BRIncubator jadi lebih tertata,” tukasnya.

Tia lalu menegaskan bahwa berkat BRIncubator, kini dirinya jauh lebih memahami sistem operasional bisnis secara lebih profesional.

“BRIncubator itu lebih detail ke operasional bisnis tentang bagaimana mengatur tentang finance, manajemen staff, distribusi, pengembangan beberapa tahun ke depan itu bagaimana, jadi tentu mempersiapkan UMKM lebih ready,” tegasnya.

Tidak hanya itu, Kiri-Kira Michi juga mendapat dukungan digitalisasi, mulai dari promosi, pembuatan konten, sampai dengan website usaha.

“Selama masuk BRIncubator kita telah dibantu promosi dibuatkan konten, bantu flyering produk kami, buat kartu nama dan paling terbaru dibantu buatkan website,” kata Tia.

Dari Hobi Jadi Bisnis Kreatif, Kira-Kira Michi Tumbuh Bersama BRIncubator BRI
Pemilik bisnis UMKM merchandise Kira-Kira Michi, Mutia Nurafni Diafaqi (36) saat menunjukkan beberapa produknya. (Foto: Andi Fatur Rezky AAR/Rakyat.News).

Dari dapur kecil pembuat kue durian, sambel khas Makassar hingga merchandise pop art buatan anak muda, Rumah BUMN perlahan menjelma menjadi ruang lahir dan berkembangnya usaha baru yang masing-masing punya mimpi besar di dalam setiap kerja kerasnya.

DUKUNGAN PENUH BRI RO MAKASSAR UNTUK UMKM

Regional Chief Executice Officer (RCEO) BRI Region 15 Makassar, D. Argo Prabowo, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 pihaknya telah berhasil mendorong lebih dari 6.000 UMKM naik kelas sekaligus melahirkan lebih dari 6.000 usaha baru melalui program Rumah BUMN.

“BRI juga menggelar lebih dari 1.100 pelatihan UMKM sepanjang 2025 yang dilakukan di delapan titik Rumah BUMN di wilayah Regional Office Makassar.

Saat ini, Rumah BUMN BRI RO 15 sendiri membawahi tiga kabupaten/kota di wilayah Sulawesi Selatan, yakni Makassar, Bulukumba hingga Pinrang.

Selain pelatiahn, kata Argo, BRI juga memberikan pembinaan lewat program klaster usaha yang kini telah mencakup sekitar 2.800 klaster UMKM.

“Program klaster usaha juga terus diperkuat. Hingga saat ini terdapat sekitar 2.900 klaster usaha binaan BRI, mulai dari pedagang bakso, penjual dawet di Malino, hingga berbagai usaha kecil lainnya,” paparnya.

Karena menurut Argo, fokus utama BRI memang berada pada sektor mikro karena UMKM memiliki peran besar dalam menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Dari total portofolio pembiayaan yang kami kelola, sekitar 60 persen berada di sektor mikro. Artinya mayoritas aktivitas kami memang fokus pada pembinaan, pemberdayaan dan mendorong UMKM naik kelas,” tutup Argo. (Farez)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *