IMG 20260518 103134

Jangan Klik Itu, Pak! Kisah Ari Kusmayadi Berkeliling Desa Menyelamatkan Nasabah dari Penipuan

MATA SULSEL, JENEPONTO – Pukul sembilan malam, Rabu (13/5/2026) telepon Ari Kusmayadi berdering. Di ujung sambungan, suara seorang ibu paruh baya terdengar gemetar.

“Pak Ari, saya baru dapat SMS. Katanya rekening saya akan diblokir. Saya disuruh transfer ke nomor tertentu. Ini benar, tidak?”

Ari menarik napas. Bukan pertama kali ia menerima telepon seperti ini. Hampir setiap minggu, nasabah-nasabahnya kebanyakan ibu-ibu dan bapak-bapak yang tidak terlalu paham teknologi menjadi sasaran penipuan perbankan.

“Ibu, jangan lakukan apa pun. Itu penipuan. Jangan transfer. Jangan klik tautan apa pun. Saya akan datang ke rumah Ibu besok pagi,” jawab Ari, tenang tapi tegas.

Setelah menutup telepon, Ari terdiam. Di usianya yang masih produktif sebagai Pimpinan Cabang BRI Jeneponto, ia sadar bahwa tugasnya tidak cukup hanya di balik meja kerja. Ada perang yang lebih besar yang harus ia menangkan perang melawan kebodohan dan kerentanan nasabah terhadap kejahatan perbankan.

Inilah kisah Ari Kusmayadi. Bukan sekadar pimpinan cabang, tetapi seorang guru, pelindung, dan sahabat bagi ribuan nasabah BRI di Jeneponto.

Kenapa Ari Turun Langsung?

Di ruangan kerjanya yang rapi, Ari duduk tenang. Di layar komputer, terpampang data kasus penipuan perbankan di wilayah kerjanya.

Modusnya beragam. SMS dan WhatsApp mengatasnamakan BRI, telepon dari oknum yang mengaku petugas bank, tautan palsu yang meminta data pribadi, hingga undangan hadiah fiktif.

Yang paling menyedihkan, korbannya hampir selalu sama masyarakat kecil yang tidak paham teknologi. Ibu-ibu pasar yang baru pertama kali punya rekening. Bapak-bapak petani yang menyimpan hasil panen setahun di tabungan.

“Saya tidak bisa diam saja. Setiap laporan nasabah yang tertipu adalah air mata yang seharusnya tidak perlu jatuh. Mereka sudah bekerja keras menabung, lalu dalam sekejap semuanya lenyap karena satu klik yang salah,” ujar Ari tegas.

Sejak saat itu, Ari memutuskan, ia harus keluar dari ruang AC dan menemui nasabah di mana pun mereka berada.

Di Pasar Karisa, Berdiri di Tengah Hiruk-Pikuk

Ari tiba di Pasar Karisa dengan kemeja putih dan jas rapi. Di tangannya, ia membawa brosur dan poster edukasi. Di tengah tumpukan sayur dan ikan, ia berdiri dan mulai berbicara.

“Ibu-ibu, Bapak-bapak, saya Ari dari BRI. Mohon waktunya sebentar. Saya ingin menyampaikan cara menjaga uang Bapak-Ibu tetap aman,” ujar Ari dengan nada tenang.

Para ibu yang sibuk memilih cabai dan bawang mulai menoleh. Awalnya mereka curiga. Tapi saat Ari menjelaskan dengan bahasa sederhana dan santai, mereka mulai mendekat.

“Kalau ada SMS yang bilang rekening Ibu diblokir, itu bohong. Bank tidak pernah minta transfer atau kirim PIN lewat SMS. Percaya saya?”, jelas Ari lagi.

Seorang ibu paruh baya mengangkat tangan. “Pak, saya kemarin dapat telepon, katanya dari BRI. Dia tahu nama saya. Dia minta OTP. Saya hampir kasih, tapi tiba-tiba teleponnya terputus,” terang ibu Kamariah.

Ari mengangguk serius. “Syukurlah, Ibu. Itu selamat. Kalau Ibu kasih OTP, tabungan Ibu bisa habis dalam lima menit. Mulai sekarang, jangan pernah percaya telepon yang minta OTP atau PIN. BRI tidak pernah melakukan itu,” kata Pak Ari.

Ari bertahan dua jam di pasar, menjawab satu per satu pertanyaan, membagikan brosur, dan mempraktikkan cara membedakan SMS resli dan palsu.

“Saya lebih suka turun ke pasar. Di sini saya bertemu langsung dengan nasabah yang paling rentan. Edukasi tatap muka jauh lebih efektif daripada sekadar brosur yang mungkin tidak dibaca,” jelasnya.

Menyusuri Kampung Demi Menyelamatkan Tabungan Petani

Tidak hanya pasar. Ari juga mendatangi para warga dikampung. Di Agangjene, ia berjalan dari rumah ke rumah dan salah satunya untuk menemui Pak Karim, seorang petani yang hampir menjadi korban penipuan.

Pak Karim hampir kehilangan Rp15 jutahasil panen setahun penuh.

“Saya terima telepon, katanya saya dapat hadiah Rp50 juta. Saya cuma diminta transfer Rp500 ribu sebagai biaya administrasi. Saya hampir transfer, untung anak saya bilang jangan dulu,” cerita Pak Karim.

Ari duduk di teras rumah, tanpa sungkan. Ia lalu menjelaskan panjang lebar tentang modus penipuan berkedok undian berhadiah.

“Pak Karim, ingat satu hal kalau ada yang menjanjikan hadiah besar dengan imbalan transfer uang, itu pasti penipuan. Tidak ada hadiah yang minta dibayar dulu. BRI juga tidak pernah menghubungi pemenang undian lewat telepon pribadi,” jelas Ari.

Pak Karim mengangguk-angguk. Lalu ia bertanya polos, “Terus, Pak, kalau mau nabung yang aman, gimana?”

Ari tersenyum. Dari pertanyaan itu, ia sadar bahwa edukasi tidak cukup hanya soal cara menghindari penipuan. Masyarakat juga perlu diajari literasi perbankan dasar, cara menabung, cara menggunakan mobile banking dengan aman, dan cara melaporkan jika ada aktivitas mencurigakan.

“Kita tidak bisa hanya mengatakan ‘jangan lakukan ini, jangan lakukan itu’. Kita harus mengajari mereka apa yang boleh dilakukan. Itu tantangan yang lebih besar,” ujar Ari.

Di Arisan Ibu-Ibu PKK Kelurahan tidak luput dari kunjungan Ari Kusmayadi

Di sebuah rumah sederhana di Kelurahan Togo-Togo, puluhan ibu-ibu PKK duduk melingkar. Ari menjadi bintang tamu di acara arisan bulanan mereka. Awalnya mereka mengira Ari akan membahas produk pinjaman atau tabungan. Ternyata, Ari membuka laptop dan menayangkan slide berjudul “Kenali Modus Penipuan Perbankan dan Cara Melindungi Diri.”

Suasana langsung berubah serius saat Ari menunjukkan contoh-contoh SMS penipuan yang nyata terjadi.

“Ibu-ibu, lihat ini. SMS ini kelihatan resmi, ada logo BRI, bahasanya formal. Tapi kalau diperhatikan, nomor pengirimnya bukan nomor resmi BRI. Dan yang paling penting SMS ini meminta Ibu klik tautan dan memasukkan nomor rekening,” tegas Ari.

Ia lalu menunjukkan tautan palsu “www.bri-update.com” yang jika diklik akan menampilkan halaman login tiruan BRI.

“Ini namanya phishing. Ibu-ibu mungkin tidak tahu istilahnya, tapi ini sangat berbahaya. Satu klik, data Ibu bisa dicuri. Tabungan bisa ludes,” jelas Ari.

Seorang ibu bernama Ibu Hasnah mengangkat tangan. Wajahnya pucat.

“Pak Ari, minggu lalu saya dapat SMS seperti itu. Saya sudah klik. Saya sudah masukkan nomor rekening. Tapi entah kenapa telepon saya mati sebelum saya masukkan password,” jelas ibu Hasnah.

Ari menegakkan badan. “Ibu beruntung. Mungkin sinyal Ibu terputus. Tapi sekarang, segera ganti password mobile banking Ibu. Datang ke kantor BRI besok, minta bantuan petugas untuk mereset akun. Jangan tunda,” tegas Ari.

Ibu Hasnah mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu kalau itu berbahaya. Mulai sekarang saya akan lebih hati-hati,” ujarnya.

Ari lalu memberikan tips sederhana yang mudah diingat: INGAT 3J, Jangan Klik, Jangan Kasih, Jangan Percaya.

1. Jangan Klik tautan yang mencurigakan
2. Jangan Kasih data pribadi, PIN, OTP, atau password
3. Jangan Percaya telepon atau SMS yang mengaku dari bank dan meminta transfer

“Ibu-ibu, tiga kata ini bisa menyelamatkan tabungan Ibu. Hafalkan, dan ajarkan ke suami, anak, dan tetangga,” pesannya.

Menggandeng Komunitas, Edukasi Lebih Luas

Ari sadar bahwa ia tidak bisa bekerja sendiri. Jangkauan edukasi harus lebih luas. Maka ia menggandeng tokoh agama, kepala desa, guru sekolah, dan komunitas pemuda.

Ari juga masuk ke sekolah-sekolah. Kepada siswa SD hingga SMA, ia mengajarkan literasi keuangan dasar dan bahaya penipuan digital. Anak-anak ini lalu diminta menjadi “Duta Anti-Penipuan” di keluarga masing-masing.

“Anak-anak lebih melek teknologi. Mereka bisa menjadi pengingat bagi orang tua mereka. Kalau ada SMS mencurigakan, anak-anak yang pertama bilang, ‘Bu, itu penipuan, jangan diklik!’”

Di setiap desa, Ari melatih pemuda karang taruna untuk menjadi relawan edukasi. Mereka dibekali pengetahuan tentang modus penipuan dan cara pencegahannya. Para relawan ini kemudian menyebar ke rumah-rumah warga, terutama yang sudah lanjut usia.

“Kami ingin edukasi ini berkelanjutan. Bukan hanya saat kami datang, tapi setiap hari. Dengan adanya relawan, pesan ini akan terus hidup di tengah masyarakat,” tegas Ari.

Upaya Ari dan tim mulai membuahkan hasil. Dalam lima bulan terakhir, laporan kasus penipuan perbankan yang berhasil dicegah meningkat tiga kali lipat. Artinya, semakin banyak nasabah yang sadar dan melapor sebelum terlambat.

Ibu Maryam, pedagang di Pasar Karisa, hampir menjadi korban penipuan. Penipu itu tahu nama lengkapnya, nomor rekeningnya, dan bahkan saldo tabungannya.

“Waktu saya terima telepon, saya hampir panik. Dia bilang rekening saya bermasalah, harus segera diverifikasi. Dia minta saya sebutkan OTP yang akan dikirim ke ponsel saya,” jelasnya.

Tapi Ibu Maryam ingat pesan Ari, “Jangan pernah kasih OTP ke siapa pun. Bank tidak akan pernah minta OTP lewat telepon.”

Ibu Maryam langsung menutup telepon. Ia lalu menghubungi Halo BRI untuk memastikan. Ternyata, memang telepon itu penipuan.

“Kalau saja saya tidak ikut sosialisasi Pak Ari di pasar, mungkin tabungan saya sudah habis. Terima kasih, Pak Ari. Anda penyelamat saya,” ujarnya, suaranya bergetar.

Pak Sabar, petani di Desa Arungkeke, pernah menjadi korban penipuan dua tahun lalu. Ia kehilangan Rp5 juta setelah mengklik tautan palsu.

“Dulu saya malu, marah, dan putus asa. Tapi sekarang saya jadi lebih waspada. Setiap ada SMS mencurigakan, saya langsung tanya ke anak saya. Atau saya telepon Halo BRI,” kenangnya.

Pak Sabar kini menjadi relawan edukasi di desanya. Ia aktif mengingatkan tetangga-tetangganya agar tidak tertipu modus serupa.

“Saya tidak ingin orang lain mengalami apa yang saya alami. Kalau Pak Ari bisa keliling desa untuk mengedukasi kita, kenapa kita tidak saling mengingatkan?”

Selain edukasi tatap muka, Ari juga mendorong timnya untuk membuat konten digital yang kreatif. Video pendek, infografis, dan meme edukatif dibagikan melalui WhatsApp, Instagram, dan Facebook.

Di akun TikTok resmi BRI Jeneponto, konten edukasi anti-penipuan dikemas dengan format menarik. Menggunakan musik populer, akting ringan, dan caption yang catchy, konten ini berhasil menjangkau ribuan anak muda.

“Generasi muda adalah jembatan informasi ke keluarga mereka. Kalau mereka paham, mereka bisa mengedukasi orang tua dan kakek-nenek mereka. Jadi target kami dua arah edukasi ke lansia dan edukasi ke anak muda yang lalu menjadi agen perubahan di rumahnya,” jelas Ari.

Setiap selesai sosialisasi, Ari membentuk grup WhatsApp dengan peserta. Grup ini menjadi wadah diskusi dan berbagi informasi terbaru tentang modus penipuan.

“Penipu selalu kreatif. Setiap hari modus baru muncul. Lewat grup ini, kami bisa memberi peringatan dini. Misalnya, hari ini ada modus baru undian palsu, besok pagi semua anggota grup sudah tahu,” ujarnya.

Sosok di Balik Jas Rapi

Di balik jas rapi dan ruang kerja yang dingin, Ari adalah sosok yang sederhana dan dekat dengan masyarakat. Ia tidak segan kotor, tidak sungkan berkeringat, dan tidak merasa lelah.

Setiap akhir pekan, ia menyempatkan diri untuk blusukan ke desa-desa. Bertemu dengan komunitas, bergabung dalam arisan, atau sekadar ngopi di warung sembari berbincang dengan warga.

“Saya ingin BRI bukan hanya dikenal sebagai bank, tetapi sebagai sahabat masyarakat. Sahabat yang mengingatkan, sahabat yang melindungi, dan sahabat yang hadir saat dibutuhkan,” imbuh Ari.

Salah satu stafnya, Bu Eni, mengungkapkan kekagumannya.

“Pak Ari itu luar biasa. Beliau tidak hanya memerintah dari belakang meja. Beliau turun langsung. Saya lihat sendiri beliau duduk lesehan di rumah warga, menjelaskan dengan sabar, kadang sampai berulang-ulang. Beliau benar-benar peduli,” ujarnya.

Ari hanya tersenyum mendengar pujian itu.

“Ini tugas saya. Saya bersyukur diberi amanah memimpin cabang BRI di Jeneponto. Tapi saya tidak ingin amanah ini hanya diukur dari angka kredit atau laba. Ukuran keberhasilan saya adalah ketika tidak ada lagi nasabah yang menangis kehilangan tabungannya karena penipuan. Itu target pribadi saya,” jelasnya.

Pesan untuk Semua Nasabah

Di penghujung perbincangan, Ari menyampaikan pesan yang ingin ia sampaikan kepada seluruh nasabah BRI, tidak hanya di Jeneponto, tetapi di seluruh Indonesia.

“Ingat 3J: Jangan Klik, Jangan Kasih, Jangan Percaya.”

“Ingat Juga 3L: Laporkan, Lindungi, Lupakan.”

1. Laporkan – Segera laporkan ke Halo BRI 1500017 jika ada aktivitas mencurigakan
2. Lindungi – Lindungi data pribadi: PIN, password, OTP, jangan pernah diberikan ke siapa pun
3. Lupakan – Lupakan tawaran hadiah yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Itu pasti penipuan.

“Satu pesan terakhir. Jangan pernah malu bertanya. Kalau Bapak-Ibu ragu dengan SMS atau telepon yang mengaku dari bank, telepon saja Halo BRI. Petugas kami siap membantu 24 jam. Lebih baik bertanya dan repot sebentar, daripada menyesal selamanya.”

Perang melawan kejahatan perbankan tidak akan pernah benar-benar usai. Setiap hari, modus baru muncul. Penipu semakin pintar, teknologi semakin canggih, dan celah selalu dicari.

Namun, berkat dedikasi Ari dan tim BRI Cabang Jeneponto, satu per satu nasabah menjadi lebih waspada. Satu per satu ibu-ibu pasar tahu bahwa SMS minta OTP adalah penipuan. Satu per satu petani tahu bahwa hadiah Rp50 juta yang meminta biaya administrasi adalah kebohongan.

“Edukasi adalah senjata paling ampuh. Penipu bisa memanfaatkan teknologi, tapi mereka tidak bisa melawan masyarakat yang cerdas dan waspada. Tugas saya adalah mencerdaskan nasabah. Dan saya tidak akan berhenti,” tegas Ari.

Ketika telepon berdering lagi di malam hari, Ari akan menjawabnya dengan senyum. Karena di ujung sambungan, ada nasabah yang sudah mulai sadar. Ada yang bertanya sebelum bertindak. Ada yang memilih aman daripada menyesal.

Dan itu satu nasabah yang selamat adalah kemenangan yang tak ternilai harganya. (*)

 


Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *