Dari Tidak Suka Sarabba hingga Jadi Cuan: Kisah Sukses Rita dengan UMKM Sukma Jahe

Dari Tidak Suka Sarabba hingga Jadi Cuan: Kisah Sukses Rita dengan UMKM Sukma Jahe

MATA SULSEL, MAKASSAR – Pada sudut rumah produksi sederhana di Kota Makassar, aroma jahe dan gula aren menyeruak dari tungku pengolahan. Aktivitas para pekerja tampak sibuk menyiapkan bubuk sarabba instan yang nantinya akan dikirim ke berbagai daerah, hingga dibawa ke luar negeri.

Namun siapa sangka, usaha bernama Sukma Jahe oleh PT Monity Jaya Bersama ini justru lahir dari seseorang yang awalnya tidak menyukai minuman sarabba yang menjadi tradisional khas Kota Makassar. Ialah Rita Suryaningsih, bersama sang suami, Zukri.

“Saya suka minum minuman herbal tapi saya tidak begitu suka dengan sarabba, tapi wedang atau bandrek saya suka,” ujar Rita sembari tersenyum saat ditemui di rumah produksinya, Jalan Borong Indah Kompleks Pondok Asri, Kota Makassar, Rabu (20/5/2026).

Rita mengaku, kerap kali ia mencoba sarabba tradiosional, dirinya justru merasa tidak nyaman.

“Pas saya coba sarabba itu saya selalu diare, saya fikir karena saya beli. Jadi pas saya beli juga ternyata juga diare, jadi mungkin saya ada masalah dengan santannya atau lainnya,” katanya.

Pengalaman itulah yang kemudian memicu sang suami, Zukri, seorang sarjanawan Teknologi Pertanian, mencoba membuat racikan sarabba sendiri dengan formula berbeda namun dalam bentuk bubuk instan.

“Tapi karena saya suami saya alumni Teknologi Pertanian (Tekper), nah biasa dia bikin sarabba dalam bentuk instan. Dia kasih coba saya dan ternyata aman tidak seperti sebelumnya,” lanjut Rita.

Dari dapur kecil dan rasa penasaran itu pun, yang kemudian menjadi titik balik lahirnya Sukma Jahe Sarabba Makassar.

Usaha tersebut sudah dirintis sejak tahun 2008 di Kota Bekasi, Jawa Barat, sebelum akhirnya pindah ke Makassar pada 2012.

Rakyat.News - UMKM Sukma Jahe Sarabba Makassar
Potret momen proses produksi UMKM Sukma Jahe Sarabba Makassar yang dikerjakan oleh dua orang pegawainya. (Foto: Andi Fatur Rezky AAR/Rakyat.News).

Saat itu, Rita dan sang suami melihat peluang besar dari minuman khas Makassar yang belum banyak dikemas secara modern.

“Awalnya produksi itu hanya 500 sachet, itu pun kita jual di sekitar kompleks tempat kita tinggal di Bekasi dengan sistem titip jual,” tuturnya.

Tak disangka, respons pasar cukup baik. Bahkan warga di Bekasi justru penasaran dengan nama “Sarabba” yang asing di telinga mereka.

“Warga di Bekasi merasa unik karena kita pakai kata Sarabba. Jadi secara tidak langsung kita edukasi warga di Bekasi dan Jakarta kalau Sarabba itu adalah bandrek atau wedang versi Makassar,” jelas Rita.

Berbeda dengan sarabba pada umumnya, Sukma Jahe hadir dalam kemasan bubuk instan praktis yang bisa dibawa ke mana saja.

Rita dan Zukri juga sengaha membuat kemasan lebih modern agar tampil menonjol di rak penjualan.

“Pembedanya dari yang lain itu kita dari varian, model kita itu beda, kita model instan berbentuk bubuk yang bisa dibawa dan konsumsi kapan saja,” imbuhnya.

Kini mereka memiliki tiga varian, yakni original, ekstra pedas dan coklat moka. Produknya bahkan mampu bertahan hingga satu tahun.

Dengan harga tergolong efisien, hanya Rp20 ribu sampai Rp25 ribu per box isi 5 sachet, Sukma Jahe Sarabba tentunya sangat cocok untuk dapat dikonsumsi pribadi hingga dijadikan ole-ole bagi orang terkasih.

MASUK BRINCUBATOR DARI BRI

Di balik berkembangnya usaha tersebut, ada peran BRIncubator yang menjadi bagian dari Rumah BUMN BRI Makassar.

Rita mengaku sebenarnya sudah mengenal program binaan BRI ini sejak tahun 2015. Namun baru pada 2025 mereka benar-benar mengikuti program BRIncubator usah beberapa kali mencoba mendaftar.

“Kami masuk tahun 2025 usai beberapa tahun mendaftar. Pertama taunya hanya pelatihan-pelatihan, tapu ternyata ada BRIncubator yang setiap tahun ada, dan tahun 2025 bisa ikut,” tukasnya.

Rakyat.News - UMKM Sukma Jahe Sarabba Makassar
Potret momen proses produksi UMKM Sukma Jahe Sarabba Makassar. (Foto: Andi Fatur Rezky AAR/Rakyat.News).

Selama mengikuti program tersebut, Rita meraca cara pandangannya terhadap bisnis berubah. Ia tidak lagi sekedar memproduksi dan menjual, tetapi mulai memahami bagaimana mengembangkan usaha secara lebih terstruktur.

“Pelatihannya itu selama tiga hari, selang seling, offline dan online, materinya dari pagi sampai sore,” paparnya.

Menurut RIta, manfaat terbesar yang dirasakan bukan hanya pelatihan, tetapi juga jaringan dan pendampinga yang terus diberikan langsung oleh BRI melalui Rumah BUMN.

“Alhamdullah banyak relasi sejauh ini dari BRI dan kita dipantau dan disemangati untuk ikut tingkat nasional BRIncubator,” cetusnya.

Bahkan tak terbayangkan oleh Rita, melalui pelatihan-pelatihan itu pula lah yang membuat usahanya menjadi Juara 1 untuk Program BRIncubator Local Tahun 2025 lalu, mengungguli peserta-peserta UMKM Makassar lainnya.

Harapan Rita kini sederhana. Ia ingin sarabba tidak hanya dikenal sebagai minuman tradisional lokal, tetapi bisa menjadi identitas kuliner Makassar yang diterima lebih luas.

Dalam waktu dekat, Rita akan kembali melanjutkan perjalanannya di BRIncubator, namun kali ini di tingkat nasional.

Apabila terpilih mewakili Makassar, Sukma Jahe akan bersaing dengan para pelaku usaha lainnya untuk menjadi yang terbaik dalam program BRIncubator 2026 se-Indonesia.

“Harapan dari ikut BRIncubator tingkat nasional untuk pemasaran bisa lebih luas lagi, setidaknya bisa memperkenalkan sarabba secara nasiional, dan kita memang cari dari skala promosi lebih luas lagi,” jelasnya.

TEMBUS PASAR GLOBAL HINGGA BERDAYAKAN WARGA SEKITAR

Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Itulah gambarang pengalaman dan perjalan panjang Sukma Jahe yang mulai menembus pasar luar negeri.

Tak ayal, Rita pun menegaskan bahwa produk mereka beberapa kali dibawa ke Singapura, Jepang, Malaysia, Arab Saudi, Amerka Serikta (AS) hingga Australia. Cara belinya pun beragam, melalui sistim titip (jastip) atau pun pembelian langsung.

“Alhamdulillah kita punya pasar internasional, tapi belum kapasitas besar, karena rata-rata hand carry, jadi kalo ada orang pesan atau jastip, atau paling tidak ada yang mau dikirimkan ke luar negeri,” katanya.

Rakyat.News - UMKM Sukma Jahe Sarabba Makassar
Potret momen proses pengemasan UMKM Sukma Jahe Sarabba Makassar. (Foto: Andi Fatur Rezky AAR/Rakyat.News).

Dari usaha ini pula, usaha mereka ikut menghidupkan ekonomi warga sekitar. Rita dan Zukri kini mempekerjakan hingga lima orang, mayoritas ibu rumah tangga di sekitar lokasi produksinya.

“Pegawai totalnya ada 5, kita berdayakan orang-orang sekitar, terutama ibu-ibu sekitar sini,” lanjut Rita.

Tak hanya itu, mereka juga pernah memberdayakan mahasiswa perantauan hingga marbot masjid untuk membantu proses usahanya.

JADI PILIHAN PELANGGAN

Di tengah geliat usaha tersebut, pelanggan setia mulai berdatangan dari begbagai kalangan. Salah satunya Nazwa, warga Kota Makassar, yang mengaku awalnya bukan penikmat sarabba.

“Saya pribadi awalnya kurang suka minuman semacam sarabba,” tutur Nazwa.

Namun persepsinya berubah saat mencoba Sukma Jahe.

“Saya rasa sangat berbeda dari sarabba biasa saya minum, lebih smooth dan tidak begitu keras untuk jahenya,” beber dia.

Menurut Nazwa, produk tersebut juga praktis dijadikan ole-ole karena lebih muda dibawa.

“Saya mulai minumnya sudah mulai 6 bulan berjalan. Selain untuk konsumsi pribadi, tentu ini sangat mudah dibawa, apalagi untuk ole-ole,” tutup dia.

Rakyat.News - UMKM Sukma Jahe Sarabba Makassar
Potret produk UMKM Sukma Jahe Sarabba Makassar yang telah dikemas dan dijual di masyarakat. (Foto: Andi Fatur Rezky AAR/Rakyat.News).

BRI HADIR UNTUK UMKM

Regional Chief Executif Officer (RCEO) BRI Region 15 Makassar, D Argo Prabowo mengungkapkan bahwa sejauh ini telah memberikan dampak kepada 6.000 bagi para pelaku UMKM.

“Melalui program Rumah BUMN, pada 2025 BRI berhasil mendorong lebih dari 6.000 UMKM naik kelas serta melahirkan lebih dari 6.000 UMKM baru,” katanya.

Ia menuturkan bahwa pihaknya telah melakukan ribuan pelatihan hingga 1.100 kepada UMKM pada tahun 2025 lalu.

Sejauh ini, kata Argo, BRI  punya 2.800 klaster usaha binaan BRI, yang terdiri dari beragam jenis usaha mikro kecil menengah.

“Kami selalu hadir dalam tumbuh kembangnya UMKM,” tutup Argo. (Farez)

Rakyat.News - UMKM Sukma Jahe Sarabba Makassar
Ilustrasi Infografis BRI Makassar. (Foto: dok Andi Fatur Rezky AAR).

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *