MATA SULSEL, JENEPONTO – Kabupaten Jeneponto sejak lama dikenal sebagai daerah yang keras. Angin panas berembus hampir sepanjang hari, menyapu hamparan tanah kering di wilayah selatan Sulawesi Selatan itu. Namun, di balik kerasnya alam *Butta Turatea, masyarakatnya hidup dengan keteguhan dan semangat bekerja yang tak pernah padam.
Di antara bentangan perbukitan dan lahan pertanian yang tandus, berdiri sebuah desa bernama Arungkeke Pallantikang—atau akrab disapa Arpal—di Kecamatan Arungkeke. Desa kecil yang tenang, namun menyimpan banyak cerita tentang perjuangan hidup masyarakatnya.
Bagi warga Desa Arpal, jalan rusak bukan lagi hal baru. Ketika musim hujan tiba, akses berubah menjadi lumpur yang sulit dilewati. Saat kemarau datang, debu beterbangan menutupi jalan desa. Di beberapa sudut, rumah-rumah tua berdiri rapuh dimakan usia. Air bersih pun menjadi kebutuhan yang kadang harus diperjuangkan setiap hari.
Warga menjalani semuanya dengan sederhana. Pasrah, tetapi tak pernah benar-benar kehilangan harapan.
Pagi yang Berbeda di Desa Arpal
Tanggal 22 April 2026 menjadi hari yang berbeda bagi Desa Arpal.
Suara kendaraan militer memecah keheningan desa. Pasukan berbaju loreng perlahan memasuki wilayah itu. Mereka datang bukan membawa senjata perang, melainkan cangkul, sekop, gerobak, dan peralatan bangunan. Anak-anak berlarian mengikuti iring-iringan kendaraan TNI. Orang tua berdiri di depan rumah, menyaksikan kedatangan para prajurit dengan tatapan penuh harapan.
Hari itu, TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-128 Tahun 2026 Kodim 1425/Jeneponto resmi dimulai.

Tidak ada jarak antara prajurit dan rakyat. Itu bukan sekadar slogan. Sejak hari pertama, personel Satgas TMMD langsung menyatu bersama masyarakat. Mereka tidur di rumah warga, makan bersama masyarakat, dan bekerja di bawah panas matahari Jeneponto yang menyengat.
Di Desa Arpal, loreng tidak lagi terlihat garang. Loreng menjadi simbol pengabdian.
Batu, Semen, dan Keringat yang Menyatukan
Pagi dimulai dengan suara campuran semen dan dentingan alat kerja. Perlahan, jalan tanah yang selama bertahun-tahun menjadi keluhan masyarakat mulai berubah menjadi rabat beton. Batu demi batu disusun. Semen demi semen diratakan.
Keringat personel Satgas TMMD Ke-128 Tahun 2026 Kodim 1425/Jeneponto bercampur dengan semangat warga yang ikut membantu pekerjaan. Di lokasi pembangunan, tak ada yang paling tinggi ataupun paling rendah. semua bekerja dalam satu tujuan: menghadirkan perubahan bagi desa.
Wakil Bupati Jeneponto, Islam Iskandar, S.H., M.H., menilai program TMMD bukan hanya menghadirkan pembangunan, tetapi juga memperlihatkan kuatnya kebersamaan antara TNI dan masyarakat.
“TMMD adalah bentuk nyata kepedulian TNI terhadap masyarakat. Kehadiran program ini sangat membantu percepatan pembangunan desa dan manfaatnya benar-benar dirasakan langsung oleh warga,” ujar H. Islam Iskandar saat meninjau lokasi.
Hari demi hari berlalu. Jalan yang sebelumnya sulit dilalui perlahan mulai tampak kokoh. Senyum masyarakat mulai terlihat ketika kendaraan sudah bisa melewati akses tersebut dengan lebih mudah.

Namun, TMMD bukan hanya tentang jalan.
Di Bawah Cahaya Lampu, Pengabdian Tak Pernah Padam
Di sudut lain Desa Arpal, suara palu terdengar dari rumah-rumah warga yang direhabilitasi. Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang sebelumnya nyaris roboh mulai berubah menjadi tempat tinggal yang nyaman.
Yang paling menarik, pekerjaan sering kali berlanjut hingga malam hari. Di bawah cahaya lampu seadanya, personel Satgas TMMD tetap bekerja. Sebagian mengangkat kayu, sebagian lainnya memasang dinding rumah warga. Malam di Desa Arpal tak lagi sunyi. Ada semangat pengabdian yang terus menyala.

Tokoh masyarakat Desa Arpal, Mu’is Patu, mengaku warga merasa sangat terbantu dengan kehadiran program TMMD.
“Kami melihat sendiri bagaimana bapak-bapak TNI bekerja tanpa mengenal waktu. Mereka membantu masyarakat dengan tulus. Ini sangat berarti bagi kami,” tutur Mu’is Patu dengan suara bergetar.
Bukan hanya pembangunan fisik yang dirasakan masyarakat. Kehadiran personel Satgas TMMD perlahan menghadirkan suasana kekeluargaan di desa itu. Anak-anak mulai akrab dengan para prajurit. Warga yang sebelumnya hanya mengenal TNI lewat seragam, kini mengenal mereka lewat kerja keras dan kepedulian.
Ketika waktu istirahat tiba, personel Satgas duduk bersama masyarakat di teras rumah sederhana. Mereka berbincang, minum kopi, dan tertawa bersama. Pemandangan yang sederhana, tetapi penuh makna.
Air yang Mengalir, Harapan yang Tumbuh
TMMD juga menghadirkan sumur bor bagi masyarakat. Di desa yang kerap mengalami kesulitan air bersih, kehadiran sumber air menjadi kebahagiaan yang sulit digambarkan.
Air yang mengalir dari sumur bor itu bukan sekadar kebutuhan. Bagi masyarakat Desa Arpal, itu adalah harapan baru. Ibu-ibu yang biasa berjalan jauh untuk mengambil air kini tersenyum lega. Anak-anak yang dulu kesulitan mandi dan mencuci kini bisa menikmati air bersih setiap hari.

Selama satu bulan pelaksanaan TMMD Ke-128 Tahun 2026 Kodim 1425/Jeneponto, Desa Arpal terasa hidup. Jalan desa ramai oleh aktivitas gotong royong. Masyarakat yang sebelumnya sibuk dengan urusan masing-masing kini kembali berkumpul membantu pekerjaan bersama. TMMD perlahan menghidupkan kembali budaya kebersamaan yang mulai jarang terlihat.
Perpisahan yang Menyisakan Haru
Hingga akhirnya, tanggal 21 Mei 2026 tiba.
Hari penutupan TMMD Ke-128 Tahun 2026 Kodim 1425/Jeneponto berlangsung penuh haru. Jalan telah selesai dikerjakan. Rumah warga berdiri lebih layak. Air bersih sudah bisa dinikmati masyarakat.
Namun, ada satu hal yang paling dirasakan warga Desa Arpal: kehadiran pasukan berbaju loreng selama satu bulan telah meninggalkan ikatan batin yang begitu kuat. Beberapa warga tampak tak kuasa menahan haru ketika personel Satgas bersiap meninggalkan desa.
Bagi masyarakat Desa Arpal, TMMD bukan sekadar program pembangunan. TMMD adalah cerita tentang kepedulian, pengabdian, dan harapan.
Tentang bagaimana TNI hadir bukan hanya menjaga kedaulatan negara, tetapi juga menjaga harapan masyarakat kecil di pelosok desa.
Jejak yang Takkan Pernah Hilang
Kini, jalan rabat beton itu membelah Desa Arpal dengan kokoh. Anak-anak melintasinya menuju sekolah. Petani membawa hasil panennya dengan lebih mudah. Warga menikmati air bersih yang dulu sulit didapatkan.

Sementara di titik nol jalan, berdiri sebuah tugu TMMD sebagai penanda bahwa di desa kecil di ujung selatan Sulawesi itu, pernah hadir pasukan berbaju loreng yang datang membawa kehidupan.
Mereka datang dengan cangkul dan sekop. Mereka pergi meninggalkan senyum dan air mata haru. Namun yang terpenting, mereka telah mengubah akses dan kehidupan warga ke arah yang lebih baik.
Dan di hati masyarakat Desa Arpal, nama mereka takkan pernah terlupakan. (*)

Tinggalkan Balasan