Sempat Memanas, Sengketa Akses Jalan Mushola di Cikarang Barat Berakhir Damai Lewat Musyawarah

Sempat Memanas, Sengketa Akses Jalan Mushola di Cikarang Barat Berakhir Damai Lewat Musyawarah

MATA SULSEL, KAB. BEKASI – Persoalan pembongkaran akses jalan menuju Mushola Nurfalah di Kampung Kamurang, Desa Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, yang sempat memicu ketegangan warga akhirnya diselesaikan secara musyawarah.

Akses jalan yang dipersoalkan diketahui berada di atas tanah hak milik salah satu warga setempat. Minimnya sosialisasi terkait pembongkaran jalan membuat warga terkejut hingga sempat terjadi perdebatan panas di lokasi.

Untuk meredam konflik, musyawarah warga digelar pada Jumat (22/5/2026) pukul 09.00 WIB di lokasi kejadian. Sejak pagi, warga telah berkumpul menunggu kehadiran perangkat desa dan pihak terkait guna mencari solusi bersama.

Musyawarah tersebut dihadiri Ketua RT 002 Amat, Ketua RW 005 Bonyan, Kepala Dusun Usna Supriatna, Ketua BPD Misar, Ketua Kesra Mian, tokoh masyarakat, perwakilan warga, pemilik tanah Masna dan Lia Siliwati, serta tokoh pemuda setempat, Dalih.

Kepala Seksi Pemerintahan Desa Cikedokan, Dede K. Amir, mengatakan persoalan warga, khususnya terkait pertanahan dan lingkungan, sebaiknya diselesaikan melalui dialog bersama agar tidak berkepanjangan.

“Kalau ada masalah warga atau masalah pertanahan memang sebaiknya kita duduk bersama antara warga dan perangkat desa agar mendapatkan solusi terbaik dan cepat terselesaikan. Jangan sampai masalah berlarut-larut,” ujarnya.

Dalam musyawarah tersebut, Masna dan Lia Siliwati selaku pemilik lahan sepakat secara sukarela memberikan sebagian tanahnya untuk kepentingan akses jalan lingkungan menuju mushola.

Kesepakatan itu dituangkan dalam berita acara tertulis yang disaksikan aparatur desa, tokoh masyarakat, dan warga setempat.

Masna mengaku lega persoalan yang sempat memanas akhirnya dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

“Saya lebih baik seperti ini daripada kemarin saya dikerumuni warga dan terjadi perdebatan. Saya memang memberikan akses jalan, apalagi ini ada tempat ibadah,” katanya.

Ia menegaskan dirinya memahami pentingnya akses jalan bagi warga sekitar, namun persoalan tersebut sempat dipicu kesalahpahaman.

“Saya juga tahu kalau jalan itu penting untuk warga sekitar. Hanya saja ada kesalahpahaman warga terhadap saya,” tambah Masna.

Salah seorang warga menyebut ketegangan sempat muncul karena kurangnya informasi kepada masyarakat terkait pembongkaran akses jalan tersebut.

Namun setelah dilakukan musyawarah, warga akhirnya menerima keputusan bersama dan situasi kembali kondusif. (Dirham)


Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *