128 Atlet Ramaikan Urban Billiard Dalton Makassar, POBSI Soroti Pentingnya Regenerasi Atlet

128 Atlet Ramaikan Urban Billiard Dalton Makassar, POBSI Soroti Pentingnya Regenerasi Atlet

MATA SULSEL, MAKASSAR – Turnamen Urban Billiard 2026 di Urban Billiard & Cafe by Dalton Hotel Makassar tak sekadar menjadi ajang adu kemampuan para pebiliar.

Kompetisi yang berlangsung sejak 17 hingga grand final pada 24 Mei 2026 itu juga menjadi ruang pembinaan atlet sekaligus bukti perkembangan olahraga biliar di Sulawesi Selatan yang semakin kompetitif.

Sebanyak 128 peserta dari berbagai daerah di Indonesia ambil bagian dalam turnamen tersebut.

Atlet datang dari Kalimantan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat hingga hampir seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan.

Sekretaris Umum Persatuan Olahraga Billiard Seluruh Indonesia (POBSI) Makassar, Agus Salim, mengatakan tingginya antusiasme peserta menunjukkan olahraga biliar kini semakin diminati lintas usia dan daerah.

“Turnamen biliar ini terbuka untuk semua umur dan diikuti para atlet dari berbagai daerah. Peserta datang dari Kalimantan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, serta hampir seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan,” ujarnya saat ditemui di lokasi turnamen, Minggu (24/5/2026).

Dalam kompetisi tersebut, pertandingan mempertandingkan kelas handicap mulai HC4 hingga HC6. Agus mengungkapkan tantangan terbesar panitia justru berada pada proses verifikasi kemampuan atlet agar pertandingan berjalan adil.

“Tantangan dalam penyelenggaraan cukup banyak, terutama dalam mendata atlet dan memastikan klasifikasi handicap mereka. Untuk HC5 dan HC6 kami harus sangat hati-hati karena ada atlet yang tidak jujur terkait peringkatnya,” katanya.

Menurutnya, pengurus POBSI harus aktif melakukan pengecekan kemampuan atlet untuk mencegah manipulasi level pertandingan.

“Kami sebagai pengurus harus aktif mencari tahu apakah seorang atlet benar berada di HC5 atau HC6. Itu penting demi menjaga fair play dalam pertandingan,” lanjut Agus.

Turnamen tersebut menjadi event perdana berskala besar yang digelar di Dalton Hotel Makassar. Agus mengaku sebelumnya pihak pengelola venue sempat ragu karena belum pernah menyelenggarakan turnamen besar.

“Awalnya pihak rumah biliar sempat ragu menggelar turnamen karena belum pernah membuat event besar. Tetapi kami dari POBSI siap mendukung penuh, bahkan jika harus mengambil alih penyelenggaraan,” ungkapnya.

Meski hanya menggunakan 10 meja pertandingan, Agus menilai fasilitas venue sudah cukup representatif untuk menggelar kompetisi.

“Kalau di hotel seperti ini memang baru pertama kali. Namun fasilitasnya cukup baik dan masuk kategori layak untuk turnamen,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam standar event nasional idealnya tersedia 16 meja pertandingan. Namun keterbatasan tersebut tidak mengurangi kualitas pelaksanaan turnamen.

“Awalnya ada keraguan karena jumlah meja hanya 10, tetapi saya yakin event tetap bisa berjalan. Untuk event nasional idealnya memang 16 meja, tetapi dengan fasilitas yang ada sekarang sudah cukup bagus,” jelasnya.

Menurut Agus, keberadaan turnamen rutin sangat penting untuk menjaga perkembangan olahraga biliar di daerah. Sebab, kualitas atlet tidak akan berkembang tanpa kompetisi yang konsisten.

“Sebagai cabang olahraga, biliar tidak bisa berkembang tanpa pertandingan. Event seperti ini penting untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas atlet, khususnya di Sulawesi Selatan,” katanya.

Perkembangan biliar Sulawesi Selatan sendiri dinilai semakin menjanjikan. Agus menyebut daerah ini kini telah memiliki atlet yang mampu bersaing di level nasional hingga internasional.

“Kami sudah memiliki atlet peringkat satu Indonesia, yakni Ismail Qadir, yang juga sudah masuk level dunia. Saya sendiri membinanya sejak usia 14 tahun,” ungkapnya.

Selain Ismail, Agus juga menilai kemunculan atlet muda lain seperti Idris Qadir menjadi sinyal positif berkembangnya pembinaan biliar di Sulsel.

“Artinya, biliar di Sulawesi Selatan sudah maju dan memiliki ikon di level dunia,” lanjutnya.

Agus menambahkan, semakin banyaknya rumah biliar di Makassar dan daerah lain menjadi modal penting dalam menciptakan regenerasi atlet ke depan.

“Kami berharap olahraga biliar terus berkembang. Rumah-rumah biliar sekarang juga semakin banyak dan itu menjadi modal penting pembinaan atlet,” ujarnya.

Terkait dukungan pemerintah, Agus mengaku memahami keterbatasan anggaran pembinaan olahraga daerah. Karena itu, menurutnya, cabang olahraga harus mampu mandiri menghadirkan ruang kompetisi bagi atlet.

“KONI sebenarnya mendukung, tetapi terkendala keterbatasan anggaran. Karena itu kami sebagai pengurus tidak bisa hanya berharap penuh kepada KONI,” katanya.

“Kami harus mencari jalan sendiri agar atlet tetap bisa berkembang dan berprestasi. Karena kalau event terus berjalan, atlet Sulsel juga akan terus lahir,” tutup Agus. (Farez)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *