MATA SULSEL, KOTA MAKASSAR – Di sebuah store kontainer sederhana di sudut Kota Makassar, suara sejumlah merchandise berukuran kecil dikemas dalam sebuah plastik berpadu dengan aroma cemilan dan minuman yang baru disajikan.
Pada sisi kanan ruangan, gantungan kunci anime, stiker, hingga pouch costum tergantung dengan rapi dari usaha merchandise Kira-Kira Michi. Sementara di sisi lainnya, pembeli tampak menikmati snack dan minuman ringan Shiro Tomadachi.
Namun, ada satu hal yang sama dari dua usaha kecil itu.
Sebagian besar transaksinya kini dilakukan tanpa uang tunai.
Para pelanggan hanya mengeluarkan telepon genggam, memindai QR Code yang terpajang di meja kasir, lalu pembayaran selesai dalam hitungan detik.
Store kontainer itu menjadi rumah bagi dua UMKM milik pasangan suami istri Bersama Mutia Nurafdi Diafaqi dab Yuji, yakni Shiro Tomadachi dan Kira-Kira Michi yang kini menjadi bagi menjadi bagian dari BRIncubator Rumah BUMN BRI Regional Office Makassar.
“Kita ada dua bisnis, Kira-Kira Michi khusus merchandise dan Shiro Tomadachi untuk snack dan drinknya, jadi dalam satu tempat itu ada dua bisnis yang join,” saat ditemui di tokonya yang berada di Jalan Sultan Alauddin, Kota Makassar.
Kira-Kira Michi bergerak di bidang merchandise pop culture berupa anime, mulai dari gantungan kunci, alas gelas, pouch, gelang hingga berbagai produk costum satuan sesuai permintaan pelanggan.
Sementara Shiro Tomadachi hadir dengan beragam snack dan minuman ringan yang banyak diminati anak muda. Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp8 ribu hingga Rp45 ribu.
Mayoritas pelanggan mereka berasal dari komunitas pecinta anime, K-Pop, mahasiswa, hingga anak muda yang aktif datang ke event komunitas maupun car free day.
Karena itulah, penggunaan QRIS menjadi penting dalam aktivitas usaha mereka sehari-hari.
“Pembayaran costumer kami beragam, kalau anak-anak muda biasanya pakai qris, kalau orang tua biasanya pakai cash,” kata Mutia.
Bagi pelanggan muda yang datang membeli stiker Rp5 ribu, gantungan kunci anime, atau sekedar membeli snack dan minuman di Shiro Tomadachi, pembayaran digital dianggap jauh lebih praktir dibanding uang tunai.
Apalagi transaksi kecil sering terjadi dalam jumlah banyak, terutama saat mereka mengikuti event komunitas dan bazar UMKM di Makassar.
Mutia mengatakan penggunaan QRIS semakin berkembang setelah mereka mengikuti program BRIncubator dari Rumah BUMN BRI pada 2025 lalu.
Awalnya, ia mengaku mengetahui Rumah BUMN hanya sebagai tempat pelatihan UMKM. Namun setelah ikut BRIncubator, ia mulai memahami pentingnya digitalisasi usaha, termasuk sistem pembayaran non-tunai.
“Kita diajarkan digitalisasi sama BRIncubator, karena salah satu program yang sering dipromosikan itu tentang digitalisasi,” ujar dia.
Tak hanya soal pembayaran digital, Kira-Kira Michi dan Shiro Tomadachi juga mendapat pendampingan dalam pengembangan usaha berbasis digital.
“Jadi mereka bantu UMKM digitalisasi, kita baru saja dibikinkan website. Kalau belum ada shoope atau tokopedia dibantu buatkan, begitu juga kalau belum punya WhatsApp bisnis dibantu juga,” tambah dia.
Selain promosi digital, mereka juga mulai memanfaatkan BRImo untuk berbagai kebutuhan operasional usaha.
“BRImo kami gunakan untuk keperluan operasional seperti transfer, bayar listrik, bayar sewa, dan juga top up listrik juga,” jelasnya.
Sebelum mengikuti BRIncubator, sebagian besar pengelolaan usaha mereka dilakukan secara manual dan otodidak.

“Ternyata setelah masuk BRIncubator ternyata ada form yang lebih detail dan terarah. Jadi yang tadinya masih manual, setelah masuk BRIncubator jadi lebih tertata,” tuturnya.
Melalui pengalaman dan pelatihan-pelatihan itu pula lah, Mutia mengaku mampu meraih omzet hingga Rp10 juta dalam sebulan melalui kedua usahanya, baik dengan menggunakan pembayaran cash maupun QRIS.
MEMUDAHKAN PEMBAYARAN
Digitalisasi pembayaran melalui QRIS juga dirasakan langsung manfaatnya oleh seorang karyawan dua UMKM ini dalam proses operasional berlangsung.
Ialah Ishak (23) yang mengaku penggunaan QRIS membuat proses transaksi menjadi jauh lebih cepat dan praktism terutama ketika outlet sedang ramai pembeli.
“Iya saya beberapa kali membantu proses pembayaran via QRIS dan menurut saya pembayaran melalui via QRIS sangat memudakan dalam proses transaksi bagi produsen atau konsumen,” ungkapnya.

Menurut Ishak, transaksi digital membantu mempercepat pelayanan sekaligus memudahkan proses pencatatan transaksi.
“Karna menggunakan nya dalam media android atau smartphone menjadikannya cukup simple dan tidak rumit serta dalam proses perhitungannya jga cukup mudah,” tambah dia.
FOKUS TINGKATKAN PENGGUNAAN CASHLESS
Penggunaan QRIS sendiri memang menjadi salah satu fokus pengembangan layanan BRI kepada para pelaku UMKM.
Regional Chief Executive Officer BRI Region 15 Makassar, D Argo Prabowo, mengatakan pihaknya terus mendorong penggunaan transaksi non tunai melalui QRIS dan BRImo.
“Jadi memang tenaga kerja kami (di lapangan) itu punya KPI dan kami mewajibkan untuk meningkatkan transaksi penggunaan QRIS,” kata Argo beberapa waktu lalu kepada Rakyat.News.
Argo juga mengaku menginstruksikan para tenaga pemasarannya agar aktif mengedukasi pelaku usaha yang memiliki transaksi harian maupun mingguan untuk menggunakan QRIS.
“Kami juga menginstruksikan kepada seluruh tenaga marketing kami instruksikan kalau ada nasabah yang punya transaksi harian atau mingguan kami mereka memasang QRIS di situ,” terangnya.

Menurut Argo, QRIS tidak hanya menjadi alat transaksi, tetapi juga bagian dari edukasi keuangan masyarakat menuju sistem pembayaran cashless.
“Selain wadah transaksi juga untuk edukasi,” ucap dia.
Argo kemudian menegaskan bahwa pihaknya mencatat tren penggunaan QRIS terus mengalami peningkatan signifikan dari tahun ke tahun.
“Kalau kita melihat trennya, peningkatannya itu luar biasa, tahun ke tahun luar biasa dari sisi transaksi juga luar biasa bahkan secara nasional juga BRI dapat apresiasi positif karena transaksi dan alat akseptasi yang meningkat tajam,” papar dia.
Oleh karena itu, Argo menekankan agar penggunaan transaksi non tunai atau cashless dapat menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat yang dapat menguntungkan dari sisi pelanggan dan juga pelaku usaha.
“Jadi ini kita dorong ke masyarakat untuk cashless atau transaksi non tunai. Salah satu tugas kita di inklusi itu bagaimana menekan meminimalisir penggunaan uang tunai atau cashless, salah satunya dengan QRIS, BRImo dan cara-cara lain yang ada kita siapkan,” tutupnya. (Farez)

Tinggalkan Balasan