MATA SULSEL, MAROS – Suasana di BTN Griya Maros Indah Tamarampu, Kabupaten Maros. Sulawesi Selatan, tampak ramai menjelang siang. Beberapa warga silih berganti datang ke sebuah konter sederhana bernama Anam Cell 02. Di tempat itu, transaksi perbankan dilakukan tanpa harus mendatangi kantor bank atau mesin ATM yang jarangnya cukup jauh dari pemukiman warga.
Mulai dari tarik tunai, transfer antarbank, pembayran listrik, PDAM, hingga top up ompet digital dilayani di Agen BRILink milik Muhammad Idris (45). Sudah 10 tahun terakhir, Idris menjalankan usaha tersebut sebagai sumber penghasilan bagi keluarganya.
“Later belakang saya untuk meningkatkan pendapatan keluarga, termasuk usaha sampingan di rumah,” ujar Idris saat ditemui di Maros.
Dalam sehari, setidaknya 20 transaksi dilakukan masyarakat di tempat itu. Jika diakumulasikan, jumlah pengguna layanan bisa mencapai sekitar 600 transaksi per bulan dengan nominal transaksi hingga Rp100 juta setiap bulannya.
“Paling laku tarik tunai dan transfer antar bank atau sesama BRI,” pungkasnya.
Namun di balik aktivitas itu, Idris mengaku ada hal lain yang kini menjadi perhatian seriusnya, yakni meningkatnya ancaman digital yang menyasar masyarakat, khususnya pengguna layanan keuangan digital.
Karena itu, dirinya tidak hanya berperan sebagai agen transaksi, tetapi juga ikut mengedukasi pelanggan agar lebih waspada saat melakukan transaksi keuangan.
“Memang ada aturan soal transaksi itu harus hati-hati dan waspada, kita meminimalisir penipuan,” tukasnya.
Menurut Idris, kelompok yang paling rentan menjadi korban penipuan digital adalah masyarakat lanjut usia yang belum terlalu memahami modus penipuan melalui telepon, pesan singkat, maupun tautan digital tertentu.
“Kami sering melakukan edukasi ke pelanggan karena memang sekarang marak-maraknya (penipuan) ya, jadi harus hati-hati apalagi rawan orang tua dan mereka sering transaksi,” jelasnya.
Ia mengaku sejauh ini belum pernah ada menemukan kasus penipuan di tempat usahanya. Meski demikian, kata Idris, kewaspadaan tetap dilakukan setiap hari, terutama ketika ada pelanggan yang terlihat terburu-bubu atau kurang memahami transaksi yang dilakukan.
AGEN BRILINK HADIR HINGGA PELOSOK
Keberadaan Agen BRILink sendiri kini menjadi salah satu ujung tombak layanan keuangan BRI hingga ke pelosok daerah.
Regional Chief Executivcve Officer (RCEO) BRI Region 15 makassar, D Argo Prabowo, mengatakan BRI memiliki fokus besar terhadap pemberdayaan masyarakat melalui unit mikro, salah satunya lewat Agen BRILink.
Sat ini, jumlah Agen BRILink di wilayah kerja BRI Refional Office Makassar yang meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku mencapai sekitar 70 ribu agen.
“Transaksi melalui Agen BRILink hingga Desember 2025 mencapai sekitar 130 juta transaksi. Agen-agen ini membantu masyarakat memperoleh layanan perbankan hingga pelosok,” tegas Argo.
Menurutnya, para agen tersebut bukan sekedar mitra transaksi, tetapi turut menjadi perpanjangan tangan layanan perbankan di tengah masyarakat.
“Mereka bekerja sendiri tapi memasarkan produk-produk perbankan, melayani nasabah sama seperti bagaimana kami melayani masyarakat,” beber dia.
PERLUNYA PERHATIAN PEMERINTAH DAN LEMBAGA KEUANGAN
Di tengah pesatnya digitalisasi layanan keuangan, edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi tantangan yang semakin penting.
Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar, Sutardjo Tui, menilai teknologi sebenarnya tidak berbahaya apabila masyarakat memiliki pemahaman yang cukup mengenai literasi keuangan digital.
“Terkait maraknya penipuan digital saat ini, sebenarnya teknologi itu tidak akan menjadi alat penipuan jika masyarakat diedukasi dengan benar,” tutur dia.
Menurut Sutadjo, edukasi kepada masyarakat tidak cukup hanya beberapa imbauan umum untuk berhati-hati. Masyarakat perlu diberikan pemahaman konkret mengenai berntuk-bentuk penipuan digital yang kini semakin berkembang.
“Masalah utama sekarang adalah masyarakat harus terus diberikan edukasi. Jangan hanya diingatkan dengan kalimat ‘hati-hati penipuan’, tetapi harus dijelaskan seperti apa bentuk penipuannya, bagaimana modusnya, dan bagaimana cara menghindarinya,” katanya.
Ia menilai peran perbankan, pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga aparat penegak hukum perlu duperkuat agar edukasi literasi keuangan dapat menjangkau masyarakat hingga ke tingkat bawah.
“Literasi dan inklusi keuangan menjadi sangat penting saat ini. Masyarakat harus terus diberikan pemahaman agar uang yang mereka miliki tidak mudah disalahgunakan atau menjadi sasaran penipuan,” tukasnya.
Sementara itu, bagi warga sekitar, keberadaan Agen BRILink seperti milik Idris telah menjadi solsi layanan keuangan yang dekat dan mudah dijangkau.
Tidak sedikit masyarakat yang kini lebih memilih melakukan transaksi di Agen BRILink dibanding harus pergi jauh ke ATM atau kantor bank.
Di tengah perkembangan layanan digital yang semakin cepat, Agen BRILink perlahan tidak hanya hadir sebagai tempat transaksi, tetapu juga menjadi ruang edukasi sederhana bagi masyarakat agar lebih aman dalam menggunakan layanan keuangan digital. (Farez)

Tinggalkan Balasan