MATA SULSEL, MAKASSAR – Siang itu, aktivitas pada salah satu outlet Agen BRILink di Jalan Pajjang, Kota Makassar, cukup ramai didatangi pelanggan. Di tengah lalu lalang suara kendaraan menderu dan warga yang datang silih berganti, hadir sosok Okta (24) berdiri di balik meja kecil tempat transaksi berlangsung.
Satu per satu pelanggan datang dengan kebutuhan berbeda. Ada yang ingin transfer uang ke keluarga di kampung, membayar tagihan listrik, hingga top up dompet digital.
Namun di balik rutinitas itu, ada hal lain yang perlahan ikut tumbuh: edukasi keuangan kepada masyarakat.
Okta, karyawan Agen BRILink Nuraziza, mengaku sudah sekitar enam hingga tujuh bulan bekerja melayani masyarakat. Menurutnya. Sebagian besar pelanggan yang datang adalah warga sekitar dengan rentang usia yang beragam.
“Yang paling sering melakukan transaksi itu orang tua. Kira-kira rentang usianya mulai tiga puluhan sampai empat puluuhan ke atas,” ujar Okta kepada Rakyat.News, Selasa (26/5/2026).
Di tengah meningkatnya transaksi digital, Okta menyebut ancaman penipuan juga menjad perhatian utama. Karena itu, dirinya bersama rekan kerja lain tidak hanya melayani transaksi, tetapu juga rutin mengingatkan pelanggan agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan digital yang marak terjadi.
“Sering kemarin kami edukasi. Kemarin sempat banyak penipuan soal bukti transaksi yang diedit-edit dan viral kan,” terangnya.
Menurut Okta, langkah sederhana seperti mengeccek transaksi secara langsung sebelum menyerahkan uang tunai menjadi bagian penting dalam mencegah potensi penipuan.
“Kalau orang mau tarik tunai, otomatis dicek dulu baru dikasih uangnya,” ungkapnya.
Meski terlihat sederhana, edukasi seperti ini dinilai penting, terutama bagi masyarajat yang belum sepenuhnya memahami keamanan transaksi digital. Apalagi sebagian pelanggan masih mengandalkan layanan tatap muka dibanding aplikasi perbankan digital.
Dalah sehari, outlet tersebut melayani sekitar 40 hingga 60 transaksi. Agen BRILink itu bahkan buka setiap hari mulai pukul 07.00 pagi hingga 23.00 malam untuk menjangkau kebutuhan masyarakat.
BRILINK: WADAH TRANSAKSI DAN EDUKASI
Bagi sebagian warga, keberadaan BRILink kini bukan lagi sekedar transaksi, tetapi menjadi solusi keuangan yang paling mudah dijangkau.
Salah satunya dirasakan Muh Selamet (25). Ia mengaku lebih sering menggunakan layanan BRILink apabila ada keperluan mendesak, apalagi terbatasi dengan akses ATM cukup jauh dari tempat tinggalnya.
“Kalau ditanya soal manfaatnya tentu BRILink sangat membantu, apalagi kalau mau transfer uang ke keluarga di kampung. Selain itu biasa juga saya pakai untuk top up E-wallet,” jelas dia.
Selamet mengatakan dirinya juga beberapa kali mendapat edukasi langsung dari petugas BRILink terkait keamanan transaksi digital. Menurutnya, hal itu penting karena masih banyak masyarajat yang muda percaya modus penipuan online.
Ia bahkan mengaku hampir selalu menemukan Agen BRILink di mana pun dirinya berpergian, baik di Kota Makassar maupun lintas daerah.
“Kalau ada keperluan mendesak itu sangat membantu karena gampang ditemukan,” imbuhnya.
Keberadaan jaringan BRILink sendiri kini menjadi salah satu ujung tombak layanan keuangan BRI hingga ke pelosok daerah.
LAYANAN BRILINK MENJANGKAU DAERAH
Regional Chief Executive Officer (RCEO) BRI Region 15 Makassar, D Argo Prabowo, mengatakan bahwa pihaknya fokus besar terhadap pemberdayaan masyarakat melalui unit mikro, salah satunya lewat Agen BRILink.
Saat ini, jumlah Agen BRILink di wilayah kerja BRI Region 15 Makassar yang meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Maluku mencapai hingga 70 ribu agen.
“Transaksi melalui Agen BRILink hingga Desember 2025 mencapai sekitar 130 juta transaksi. Agen-afen ini membantu masyarakat memperoleh layanan perbankan hingga pelosok,” tegas Argo.
Menurutnya, para agen tersebut bukan sekedar mitra trasaksi, tetapi juga menjadi perpanjangan tangan layanan perbankan di tengah masyarakat.
TANTANGAN MEMBERIKAN EDUKASI KEPADA MASYARAKAT
Di tengah pesatnya digitalisasi layanan keuangan, edukasi kepada masyarakat memang menjadi tantangan tersendiri.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Sutardjo Tui, menilai pemahaman masyarakat terhadap literasi keuangan digital harus diperkuat.
“Masalah utama sekarang adalah masyarakat harus terus diberikan edukasi. Jangan hanya diingatkan dengan kalimat ‘hati-‘hati penipuan’, tetapi harus dijelaskan seperti apa bentuk penipuannya, bagaimana modusnya dan sebagaimana cara menghindarinya,” tukas dia.
Menurut Sutardjo, literasi keuangan kini menjadi kebutuhan penting karena hampir seluruh masyarakat telah menggunakan telepon genggam dan terhubung dengan layanan digital.
“Literasi dan inklusi keuangan menajdi sangat penting saat ini. Masyarakat harus terus diberikan pemahaman agar uang yang mereka miliki tidak mudah disalahgunakan atau menjadi sasaran penipuan,” jelasnya.
Ia menilai edukasi tidak cukup hanya dilakukan pemerintah atau OJK, tetapi juga perlu melibatkan perbankan hingga layanan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, seperti contohnya BRILink.
Di tengah derasnya arus transaksi digital, keberadaan Agen BRILink perlahan berubah menjadi lebih dari sekedar transfer uang.
Di balik menja kecil tempat warga membayar listrik, menarik uang tunai atas mengirim uang ke keluarga, dengan upaya yang harus terus dilakukan: mengingatkan masyarakat agar tdak mudah menjadi korban penipuan digital.
Sebab di era ketika satu pesan singkat bisa menguras rekening seseorang, edukasi sederhana dari raung-ruang kecil seperti BRILink justru menjadi pertahanan paling dekak bagi masyarakat.
DATA PENIPUAN DAN IMBAUNAN OJK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalu Indonesia Anti Scam Centre (IASC) mengungkapkan bahwa dengan data penipuan transaksi keuangan di Provinsi Sulawesi Selatan hingga Februari 2026, angkanya cukup fantastis, mencapai 9.568 laporan.
Hal itu diungkapkan Kepala Otoritas Jasa Keuangan Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar), Moch Muchlasin saat dimintai keterangan melalui pesan singkat.
“Jumlah laporan yang diterima IASC sehubungan dengan penipuan transaksi keuangan untuk Provinsi Sulawesi Selatan sejak Nov 2024 s.d. Feb 2026 sebanyak 9.568 laporan dan untuk Sulawesi Barat 537 laporan,” beber dia.

Menurutnya, tingginya angka laporan tersebut menjadi peringatan bahwa peningkatan penggunaany layanan keuangan digital harus diimbangi dengan literasi dan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai modus penipuan.
Seiring berkembangnya transformasi digital di sektor jasa keuangan, kata dia, masyarakat memang semakin dimudahkan dalam melakukan transaksi.
Namun di sisi lain, pelaku kejahatan siber juga terus memanfaatkan celah untuk menjalankan aksi penipuan.
“Transformasi digital membawa banyak kemudahan dalam layanan keuangan, namun masyarakat juga harus semakin waspada terhadap berbagai modus penipuan,” tegas dia.
OJK pun mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hai saat melakukan transaksi, termasuk ketika menggunakan layanan agen Laku Pandai maupun layanan digital lainnya. (Farez)

Tinggalkan Balasan