Rakyat.News - UMKM dan BRImo

Digitalisasi Menyatukan: QRIS di Gerobak Cendol, BRImo di Tangan Mahasiswa

MATA SULSEL, MAKASSAR – Suara dentingan gelas plastik dan kuah santan murni yang dituang terdengar bersahutan pada depan salah satu kampus swasta di Kota Makassar. Tepat di bawah rindangnya pepohonan pada Jalan Prof Abdurrahman Basalamah, seorang pria paruh baya tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.

Dialah Sammang.

Sudah empat tahun terakhir ia menjajakan cendol khas Makassar melalui usahanya yang diberi nama Cendol Abi Sam, terinspirasi dari nama sang cucu.

Dahulu, salah satu persoalan yang paling sering ia hadapi bukan soal rasa minuman atau mencari pelanggan, melainkan uang kembalian.

Ketika pagi hari baru dimulai, tak jarang pelanggan datang membawa uang pecahan besar. Di sisi lain, ada pula calon pembeli yang hanya memiliki saldo digital di telepon genggamnya.

“Sebelum pakai (scan kode QR) QRIS itu kadang saya kewalahan soal uang kembalian, apalagi kalau pagi-pagi. Kadang juga ada mau beli tapi tidak punya cash hanya mau qris, tapi belum ada sebelumnya kan, jadi batal beli,” kenang Sammang saat ditemui di tempat usahanya berjualan.

Kini, usaha itu pun berubah.

Di samping gerobak sederhana miliknya, terpajang sebuah kode QR yang siap dipindai siapa saja. Kehadiran QRIS membuat proses transaksi jadi jauh lebih mudah, baik bagi dirinya maupun pelanggan.

Sammang mengaku mulai menggunakan QRIS hampir tiga tahun lalu, bahkan ketika belum banyak pedagang kecil yang memanfaatkannya.

Awalnya ia sempat menggunakan QRIS milik seorang temannya. Namun setelah temannya pindah keluar daerah, ia memutuskan membuat QRIS sendiri agar usahanya tetap bisa melayani pelanggan yang ingin bertransaksi secara digital.

“Sekarang sudah buat qris sendiri, Alhamdulillah sangat terbantu. Saya sudah pakai qris itu sejak hampir 3 tahun lalu, saya pakai jauh sebelum penjual-penjual lain pakai scan barcode,” jelas dia,

Rakyat.News - UMKM Cendol Makassar
Pengusaha es dawet atau Cendol Makassar, Sammang. (Foto: Andi Fatur Rezky AAR/Rakyat.News).

Keputusan itu ternyata membawa dampak nyata bagi usahanya.

Dalam sehari, sekitar 30 persen hingga 40 persen transaksi di gerobaknya kini dilaukan secara digital. Dari omzet harian yang rata-rata mencapai Rp1 juta, sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu berasal dari pembayaran melalui QRIS.

Menariknya lagi, sebagian besar pelanggan yang melakukan pembayaran digital itu menggunakan aplikasi BRImo.

“Kalau yang pakai qris itu tentu banyak, semua jenis qris bisa, dan termasuk membayar menggunakan aplikasi BRImo, itu paling banyak membayar di BRImo,” terang dia.

Bagi Sammang, QRIS bukan lagi sekedar alat pembayaran. QRIS membuat pelanggan tidak lagi membatalkan pembelian hanya karena tidak membawa uang tunai. Semakin mudah pelanggan bertransaksi, maka semakin besar pula peluang dagangannya habis terjual.

“Alhamdulillah sangat bersyukur ada qris jadi lebih mudah orang membayar, semoga lewat qris tentu nanti pelanggan juga bisa tambah banyak,” imbuhnya.

BRIMO UNTUK SEMUA KEBUTUHAN: QRIS HINGGA TRANSFER

Pengalaman serupa dirasakan Muh Muchtasim (26), mahasiswa pendidikan Profesi Guru (PPG) asal Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, yang kini tinggal di Kota Makassar.

Dalam kesehariannya, aplikasi BRImo telah menjadi aplikasi yang hampir selalu dia gunakan, terutama untuk melakukan pembayaran QRIS.

Tidak hanya  QRIS, aplikasi BRImo juga kerap ia gunakan untuk keperluan mulai dari mengirim uang kepada keluarga di kampung halaman, membayar tagihan listrik, membeli pulsa atau paket data, hingga melakukan pencatatan keuangan.

“Saya menggunakan aplikasi BRImo sudah lebih dari 4 tahun. Sangat membantu saya kalau mau belanja, apalagi sekarang sudah jarang pegang cash,” kata Muchtasim.

Rakyat.News - BRImo
Ilustrasi penggunaan aplikasi BRImo. (Foto: Andi Fatur Rezky AAR/Rakyat.News).

Menurut dia, perubahan paling terasa adalah semakin luasnya penggunaan QRIS di kalangan pelaku UMKM.

Jika dahulu pembayaran digital identik dengan pusat perbelanjaan modern atau restoran besar sekalipun, kini kode QR dapat ditemukan pada hampir di mana saja.

“Sekarang kalau saya liat apa-apa sudah qris, bukan hanya di toko besar atau seperti restoran bagus begitu, tapi sekarang di warung pinggir jalan atau bahkan di umkm gerobakan sekarang sudah ada,” ujarnya.

Kehadiran QRIS membuat aktivitas belanja menjadi lebih praktis.

Bahkan, ia mengaku sering mengurungkan niat membeli sesuatu ketika sebuah tempat usaha belum menyediakan layanan pembayaran digital.

“Kadang kalau (outlet) tidak bisa (menggunakan) qris itu saya biasanya batal beli, apalagi tidak ada cash di dompet saya simpan,” tambahnya.

Baginya, BRImo dan QRIS bukan lagi sekedar alternatif pembayaran semata, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Ia berharap semakin banyak pelaku UMKM yang mengadopsi pembayaran digital agar masyarakat semakin mudah bertransaksi di mana pun.

“Semoga makin banyak UMKM yang menggunakan QRIS ya. Jadi bukan cuma toko-toko atau outlet besar saja, tetapi biar yang UMKM gerobakan seperti penjual siomay, gorengan atau nasi bungkus dan lain-lain itu sudah punya atau bayar pakai QRIS,” tutup dia.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, kisah Sammang dan Muchtasim menunjukkan bahwa transformasi keuangan tidak selalu dimulai pusat bisnis atau pun restoran modern.

Kadang, perubahan itu justru lahir dari sebuah gerobak cendol di pinggir jalan dan sebuah ponsel sederhana di tangan mahasiswa.

Dua hal yang kini terhubung oleh satu kebiasaan baru: cukup membuka BRImo, memindai QRIS, lalu transaksi selesai dalam hitungan detik.

UPAYA INKLUSI DAN DIGITALISASI BRI

Transformasi yang dialami Sammang dan Muchtasim sejatinya merupakan bagian dari upaya yang lebih luas dalam mendorong inklusi keuangan dan digitalisasi transaksi.

Regional Chief Executive Officer BRI Region 15 Makassar, D Argo Prabowo, mengatakan bahwa pihaknya secara aktif mendorong pemasangan QRIS kepada para pelaku usaha yang memiliki aktivitas transakasi harian maupun mingguan.

“Kami juga menginstruksikan kepada seluruh tenaga marketing kami instruksikan kalau ada nasabah yang punya transaksi harian atau mingguan kami mereka memasang QRIS di situ,” bebernya.

Menurut Argo, QRIS tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran, tetapi juga menjadi sarana edukasi agar masyarakat kian terbiasa dengan transaksi non-tunai.

“Salah satu tugas kita di inklusi keuangan itu bagaimana menekan meminimalisir penggunaan uang tunai atau cashless, salah satunya dengan QRIS, BRImo dan cara-cara lain yang ada kita siapkan,” tukasnya.

BRI sendiri terus memperkuat ekosistem digital melalui berbagai layanan, mulai dari QRIS, mesin EDC, aplikasi BRImo hingga platfor digital lainnya.

Hasilnya pun terlihat dari tren stransaksi yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Kalau kita melihat trennya, peningkatannya itu luar biasa, tahun ke tahun luar biasa dari sisi transaksi juga luar biasa bahkan secara nasional juga BRI dapat apresiasi positif karena transaksi dan alat akseptasikseptasi yang meningkat tajam,” tutup Argo. (Farez)


Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *