MATA SULSEL, JAKARTA – Polemik mengenai intensitas kunjungan (kunker) luar negeri Presiden Prabowo Subianto memasuki babak baru. Usai mendapat sorotan dari diplomat senior Dino Patti Djalal, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya angkat bicara dan membeberkan sejumlah capaian yang diklaim menjadi hasil langsung dari diplomasi Presiden selama satu setengah tahun terakhir.
Melalui pernyataan yang disampaikan di akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet, Teddy menjawab satu per satu kritik yang sebelumnya dilontarkan Dino terkait frekuensi lawatan luar negeri, biaya perjalanan, hingga efektivitas diplomasi yang dijalankan pemerintah.
Salah satu isu yang disorot adalah anggaran perjalanan Presiden. Teddy menegaskan bahwa seluruh biaya tambahan di luar alokasi resmi negara ditanggung langsung oleh Presiden Prabowo secara pribadi.
“Jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” kata Teddy.
Tak hanya soal biaya, Teddy juga membantah anggapan bahwa kunjungan luar negeri dilakukan dengan rombongan besar. Menurutnya, jumlah delegasi yang mendampingi Presiden saat ini telah dipangkas lebih dari separuh dibandingkan periode sebelumnya.
Ia menyebut, jika pada masa lalu jumlah rombongan bisa melampaui 120 orang dalam satu kunjungan, saat ini jumlahnya dibatasi sekitar 50 hingga 60 orang.
Lebih jauh, Teddy menilai diplomasi internasional tidak bisa semata diukur dari frekuensi perjalanan.
Menurutnya, situasi global yang penuh ketidakpastian menuntut pemimpin negara membangun komunikasi dan hubungan personal dengan para pemimpin dunia.
Ia mencontohkan berbagai konflik yang terjadi di sejumlah kawasan, mulai dari Eropa Timur hingga Timur Tengah, yang membuat jalur komunikasi antarnegara menjadi semakin penting.
Untuk membuktikan efektivitas diplomasi tersebut, Teddy memaparkan sejumlah capaian yang menurutnya diraih Indonesia selama pemerintahan Prabowo.
Di antaranya adalah bergabungnya Indonesia sebagai anggota tetap BRICS, penyelesaian kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa yang menghasilkan tarif nol persen untuk sejumlah komoditas, hingga realisasi investasi yang disebut mencapai Rp2.430 triliun dalam kurun waktu 1,5 tahun terakhir.
Selain itu, ia juga menyinggung penguatan alat utama sistem persenjataan (alutsista), peningkatan kerja sama strategis dengan berbagai negara, serta peran Indonesia dalam isu kemanusiaan Palestina.
Menurut Teddy, berbagai bantuan kemanusiaan yang dikirim Indonesia ke Palestina, termasuk pengiriman logistik melalui jalur udara, kapal rumah sakit, hingga pemberian akses pendidikan bagi warga Palestina, tidak terlepas dari hasil diplomasi yang dibangun pemerintah dengan banyak negara.
Ia juga mengungkapkan keberhasilan diplomasi Indonesia dalam membantu pemulangan warga negara Indonesia yang sempat diamankan otoritas Israel di laut bebas beberapa waktu lalu. (*)

Tinggalkan Balasan