PSMTI Sulsel Minta Polemik Seleksi Paskibraka Tak Digiring ke Isu Rasial

PSMTI Sulsel Minta Polemik Seleksi Paskibraka Tak Digiring ke Isu Rasial

MATA SULSEL, MAKASSAR – Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi Selatan mengingatkan masyarakat agar tidak menggiring polemik seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) ke arah isu rasial maupun diskriminasi etnis yang berpotensi memecah persatuan.

Pesan tersebut disampaikan Dewan Pakar PSMTI Sulsel sekaligus Wakil Bendahara Umum PSMTI Pusat, Ariella Hana Sinjaya, yang mewakili Ketua PSMTI Sulsel dalam menyikapi perdebatan yang berkembang terkait proses seleksi Paskibraka.

Menurut Ariella, persoalan yang muncul seharusnya disikapi secara objektif berdasarkan fakta dan data, bukan melalui asumsi yang kemudian berkembang menjadi narasi diskriminasi terhadap kelompok etnis tertentu.

“Saya atas nama Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) menghimbau seluruh masyarakat, seluruh organisasi, dan seluruh netizen di manapun berada untuk menghentikan isu rasisme ataupun diskriminasi. Kita semua adalah warga negara Indonesia dan sesama saudara tanpa memandang suku apa pun,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat Tionghoa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Karena itu, setiap proses seleksi, termasuk seleksi Paskibraka, semestinya dijalankan sesuai aturan yang berlaku dan berdasarkan kompetensi masing-masing peserta.

“Suku Tionghoa Indonesia adalah bagian dari NKRI. Tentunya kami berharap setiap seleksi, baik Paskibraka maupun seleksi lainnya, dilaksanakan sesuai prosedur dan berdasarkan kemampuan masing-masing peserta,” katanya.

Ariella mengaku prihatin karena polemik yang awalnya berkaitan dengan proses seleksi kini berkembang ke isu etnis yang dinilai dapat memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Menurutnya, tudingan diskriminasi tidak seharusnya disimpulkan tanpa adanya fakta yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami sangat menyayangkan ketika isu etnis kemudian diangkat dan berkembang menjadi narasi diskriminasi maupun rasisme. Saya sendiri orang Tionghoa, tetapi saya yakin dalam kasus ini tidak ada diskriminasi,” tegasnya.

Ia menilai perbedaan pandangan terkait hasil seleksi merupakan hal yang wajar, namun tidak sepatutnya berkembang menjadi isu yang berpotensi mengganggu kerukunan antarsuku dan antarkelompok masyarakat.

Karena itu, Ariella mengajak seluruh pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan dan pengguna media sosial, untuk lebih bijak dalam menyikapi polemik yang sedang berlangsung.

“Mari kita bergotong royong dan bersama-sama membangun NKRI. Apa yang terjadi dalam polemik Paskibraka ini hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita semua. Jangan terlalu cepat menggunakan isu diskriminasi atau rasisme sebelum seluruh fakta terungkap,” ujarnya.

PSMTI Sulsel berharap seluruh elemen masyarakat dapat menjaga suasana tetap kondusif dan mengedepankan semangat persatuan, sehingga polemik yang terjadi tidak berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas. (*)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *