MATA SULSEL, JENEPONTO – Di sebuah jalan poros di Kelurahan Biringkassi, Kecamatan Binamu, terdapat sebuah bengkel yang tak pernah sepi pelanggan. Bukan suara deru mesin atau dentingan kunci pas yang menjadi ciri khasnya, melainkan aroma cat mobil yang semerbak dan suara semprotan spray gun yang berirama. Inilah “Asdar Duco & Cat Mobil” bengkel spesialis pengecatan yang kini menjadi primadona di Jeneponto. Di balik kilap cat kendaraan yang memikat, tersimpan kisah perjuangan seorang pria yang nyaris menyerah pada keterbatasan, hingga KUR BRI datang sebagai titik balik.
Awal Mula: Kompresor Tua dan Alat Semprot Seadanya
Asdar (35) bukanlah lulusan sekolah seni rupa atau teknik mesin. Keahliannya dalam mendempul, mengamplas, dan menyemprot cat diperoleh secara otodidak dari mengamati bengkel duco tetangga, merusak, lalu belajar dari kesalahan. Tangan-tangannya yang kasar justru memiliki kepekaan tinggi terhadap warna dan tekstur.
Namun, bengkelnya saat itu hanya berupa teras rumah yang sempit. Peralatannya memprihatinkan satu unit kompresor angin bekas yang tekanan udaranya tidak stabil, selang angin yang sudah tambal sulam, dan alat semprot cat model kuno bukan spray gun profesional, melainkan semprotan genggam sederhana yang biasa digunakan untuk pengecatan furnitur murahan.
“Bayangkan, saya mengecat mobil pakai alat semprot yang bocor di sana-sini. Hasilnya? Catnya tidak rata, sering belepotan di bagian yang tidak seharusnya, dan cepat mengelupas. Pelanggan sering komplain,” kenang Asdar dengan nada getir.
Untuk pekerjaan pengecatan skala kecil sekalipun, Asdar kesulitan mendapatkan hasil yang memuaskan. Ia juga tidak memiliki ruang pengecatan khusus, sehingga debu dan kotoran sering menempel di cat yang masih basah.
“Kalau ada pelanggan yang minta hasil mulus seperti bengkel resmi, saya cuma bisa menggeleng. Alat saya tidak mendukung,” tambahnya.
Hari-harinya lebih banyak diisi pekerjaan tambal ban dan ganti oli pekerjaan kasar yang jauh dari impiannya menjadi painter andal. Omzetnya pas-pasan. Tak jarang ia harus menolak order pengecatan karena takut hasilnya mengecewakan. Pelanggan mulai sepi. Asdar sadar bengkel duco-nya butuh lompatan besar, tapi dari mana modalnya?
Jalan Buntu dan Titik Terang
Selama bertahun-tahun, Asdar terperangkap dalam lingkaran setan keterbatasan modal. Ia bermimpi membeli spray gun profesional tipe HVLP (High Volume Low Pressure), kompresor bertenaga tinggi, oven cat portable, dan stok cat mobil berbagai merek. Namun, pinjaman bank terasa sulit dijangkau. Rentenir? Bunganya mencekik leher.
“Rasanya seperti mau terbang tapi sayapnya patah. Saya punya skill, punya pelanggan potensial, tapi alat bikin saya mandeg,” ujarnya.

Hingga suatu siang, seorang pelanggan setia yang merupakan pegawai BRI bercerita tentang Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Katanya bunganya rendah, prosesnya gampang, dan nggak perlu agunan. Saya pikir itu terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Masa ada bank yang mau ngasih modal tanpa jaminan?” cerita Asdar masih ingat keraguannya.
Namun, tekadnya lebih kuat dari rasa skeptis. Esok harinya, dengan pakaian tambal sulam dan tangan masih bernoda cat, Asdar mendatangi BRI Cabang Jeneponto. Ia membawa foto-foto hasil pekerjaannya yang buruk maupun yang lumayan dan secarik kertas berisi rencana usaha yang ditulis dengan tinta biru pudar.
“Mereka Tidak Merendahkan Saya”
Yang ditemui Asdar di kantor BRI bukanlah petugas bank yang angkuh. Sebaliknya, seorang mantri BRI bernama Bambang menyambutnya dengan ramah.
“Saya tunjukkan foto-foto bengkel saya, saya perlihatkan hasil semprotan yang belang. Saya bilang, ‘Pak, saya ingin jadi ahli duco. Tapi alat semprot saya hanya yang model murahan, hasilnya jelek.’ Petugas itu malah tersenyum dan bilang, ‘Semangatnya bagus. Kami bisa bantu. Yang penting ada kemauan untuk maju,’” kenang Asdar dengan mata berkaca-kaca.
Prosesnya berjalan cepat. Dalam hitungan hari, Asdar menerima kabar bahwa pengajuannya disetujui. Ia mendapatkan KUR BRI sebesar Rp30 juta.
“Saya hampir jatuh pingsan. Uang sebanyak itu… untuk saya? Ini pinjaman. Ini kepercayaan yang diberikan kepada saya,” ujarnya suara bergetar.
Transformasi: Dari Alat Semprot Sederhana ke Spray Gun Profesional
Dengan dana KUR, Asdar bergerak cepat bagaikan kilat. Ia membeli peralatan yang selama ini hanya ia impikan, yakni
– Spray gun profesional tipe HVLP dengan berbagai ukuran nozzle untuk hasil semprotan halus, rata, dan presisi tinggi
– Kompresor angin bertenaga tinggi dengan tekanan stabil dan tangki besar
– Oven cat portable untuk hasil finishing mengkilap sempurna
– Alat poles dan buffing untuk mengilapkan cat
– Ruang pengecatan khusus dengan sistem ventilasi dan filter debu
– Stok cat mobil lengkap dari warna solid, metalik, hingga efek pearl.
Perbedaan alat semprot lama dan baru sangat kontras. “Dulu alat semprot saya model sederhana yang udaranya tidak stabil. Saya harus mengatur tekanan secara manual dengan feeling. Hasilnya? Banyak cat yang terbuang percuma karena overspray, dan hasil akhirnya tidak rata,” jelas Asdar.
“Sekarang? Dengan spray gun HVLP, tekanan udaranya stabil, semprotan halus merata. Cat yang keluar efisien, tidak banyak terbuang. Hasilnya mulus seperti bengkel resmi. Pelanggan sampai bingung, ‘Bang, ini cat original atau cat ulang?’” ceritanya sambil tertawa.
Bengkelnya yang dulu kusam dan sempit kini berubah total. Dindingnya dicat putih bersih. Rak-rak penuh berisi cat berbagai merek. Ruang pengecatan terpisah dari area kerja lainnya. Amplas, dempul, thinner, dan peralatan duco tertata rapi.

Dari Penolakan ke Permintaan: Pelanggan Berdatangan
Transformasi peralatan membawa perubahan drastis pada kualitas pekerjaan. Pelanggan yang dulu kecewa kini kembali. Bahkan, mereka membawa teman dan keluarga. Bengkel duco Asdar mulai dikenal luas.
“Pernah ada pelanggan dari luar kota dari Takalar yang sengaja datang ke sini karena dengar katanya bengkel saya punya spray gun profesional dan oven cat. Hasilnya mulus dan tahan lama. Sebelumnya, dia biasa ke Makassar untuk pengecatan. Sekarang dia lebih milih ke saya,” cerita Asdar bangga.
Omzet hariannya meroket. Dari sebelumnya hanya Rp100-150 ribu per hari dari tambal ban dan ganti oli, kini ia bisa mengantongi Rp2,5 juta hingga Rp7 juta per mobil dari bahan dan jasa duco. Bahkan di musim liburan atau menjelang Lebaran, pesanan pengecatan bisa mencapai 2-3 mobil per hari.
Yang lebih membahagiakan, Asdar kini mempekerjakan dua orang asisten pemuda setempat yang sebelumnya menganggur. Mereka diajari teknik mengecat dengan spray gun, mengamplas, dan memoles. “Saya ingin berbagi ilmu. Dulu alat semprot saya sederhana dan hasilnya jelek. Sekarang alat sudah modern, sayang kalau ilmunya tidak diwariskan,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Uang, Keluarga yang Bangkit
Kisah Asdar bukan sekadar sukses bisnis. Ini adalah kisah tentang bagaimana akses keuangan yang tepat bisa mengubah nasib sebuah keluarga.
Dengan penghasilan yang stabil, Asdar kini bisa menyekolahkan kedua anaknya di sekolah favorit. Istrinya yang dulu membantu menambal ban kini bisa fokus mengurus rumah tangga dan anak.
“Anak saya yang pertama sudah masuk SMK. Yang kedua masih SD. Saya ingin mereka sekolah tinggi. Biar nggak susah seperti bapaknya dulu,” kata Asdar haru.
Yang paling membuatnya bangga, ia tidak pernah terlambat mencicil KUR BRI. “Sudah dua tahun saya bayar tepat waktu. Karena saya sadar, ini adalah utang KUR. Ini kepercayaan yang harus saya jaga,” tegasnya.
Mimpi yang Terus Membesar
Setelah sukses dengan pengecatan, Asdar mulai melebarkan sayap. Ia berencana menambah layanan coating cat dan detailing mobil. Ia juga ingin membeli ruang pengecatan booth yang lebih profesional.
Bahkan, ia mulai mengajarkan teknik duco kepada pemuda-pemuda di kampungnya secara gratis. Tidak hanya teori, ia mengajari cara menggunakan spray gun yang benar dari pengaturan tekanan, jarak semprot, hingga teknik gerakan tangan.
“Dulu saya belajar dari kesalahan karena alat seadanya. Sekarang saya ingin mereka belajar dari alat yang benar,” ujarnya.
“Saya ingin bengkel ini jadi pusat pelatihan duco. Biar anak-anak muda sini punya keterampilan dan nggak perlu merantau ke kota lain,” ujarnya dengan mata berbinar.
BRI: Mitra Sejati UMKM
Pimpinan BRI Cabang Jeneponto Ari Kusmayadi, ditemui terpisah, menyampaikan kebanggaannya terhadap nasabah seperti Asdar.
“KUR bukan sekadar kredit. Ini adalah instrumen pemberdayaan. Melihat Asdar yang dulu hanya mengecat dengan alat semprot murah dan hasilnya asal jadi, kini memiliki spray gun profesional dan bengkel duco modern, itu adalah kesuksesan kami juga,” ujar Ari kepada matasulsel.com, Kamis (4/6/2026).

“Kami selalu mendorong nasabah untuk naik kelas. Dari alat sederhana ke profesional. Dari usaha mikro ke usaha kecil. Dari pekerja sendiri hingga bisa mempekerjakan orang lain. Itulah dampak nyata KUR,” tambahnya.
BRI Cabang Jeneponto mencatat, penyaluran KUR untuk sektor jasa perbengkelan dan duco meningkat signifikan. Ribuan pelaku UMKM, termasuk perajin, petani, dan pengusaha mikro, telah merasakan manfaatnya. Program ini menjadi jembatan antara potensi lokal dan kesempatan ekonomi yang lebih besar.
Setiap Semprotan Cat adalah Perjuangan
Kini, setiap pagi Asdar membuka bengkelnya dengan semangat baru. Ia memandangi spray gun HVLP barunya yang terpajang rapi di rak. Alat itu bukan sekadar perkakas ia adalah simbol perubahan hidup.
Dulu, ia menyemprot cat dengan alat sederhana yang hasilnya belepotan. Sekarang, setiap gerakan tangannya presisi, setiap semprotan menghasilkan lapisan cat yang rata dan mengkilap. Dari alat semprot itulah Asdar menyulap mobil-mobil kusam menjadi berkilau dari kulit luar hingga kebanggaan pemiliknya.
“Saya ingin bilang kepada siapa pun yang sedang berjuang seperti saya dulu jangan menyerah. Kalau ada pintu bantuan terbuka, ambillah. Manfaatkan dengan baik,” ujar Asdar.
Karena dari sebuah kompresor tua dan alat semprot murahan, saya belajar bahwa kemandirian bukan soal seberapa besar modal kita, tapi seberapa besar tekad kita untuk berubah,” tutup Asdar tersenyum.
Di luar, sebuah mobil Honda Jazz RS warna fortis blue/bunglon baru saja selesai dicat. Kilapnya memantulkan sinar matahari pagi. Bengkel duco itu kembali berdenyut, menulis babak baru dalam hidup seorang painter yang tak pernah padam mimpinya dengan KUR BRI sebagai saksi bisu perjuangan. (*)

Tinggalkan Balasan