OJK Pantau Kripto Mulai 12 Januari 2025 untuk Pastikan Kepatuhan Waktu

IHSG Tertekan, OJK Ungkap Sentimen Domestik Ikut Tekan Pasar Saham

MATA SULSEL, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa tekanan yang terjadi di pasar saham Indonesia tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga dipicu oleh sejumlah sentimen domestik yang turut membentuk persepsi investor.

Hal tersebut disampaikan menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 4,20 persen ke level 5.594,76 pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), yang mencerminkan tingginya tekanan di pasar modal nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan pergerakan pasar saat ini merupakan respons terhadap kombinasi berbagai faktor yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir, baik dari dalam maupun luar negeri.

Menurutnya, selain isu rebalancing indeks MSCI yang menjadi perhatian pelaku pasar, sejumlah indikator ekonomi domestik dan global juga turut diperhitungkan investor dalam mengambil keputusan investasi.

“Kondisi yang terjadi saat ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi faktor domestik maupun global,” ujar Hasan dalam konferensi pers yang digelar secara daring, Jumat (5/6/2026).

Ia menjelaskan, perkembangan berbagai indikator ekonomi serta dinamika global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar. Kondisi tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan.

Meski demikian, OJK mengingatkan investor agar tetap bersikap rasional dan objektif dalam menyikapi fluktuasi pasar, serta mengedepankan analisis yang komprehensif berdasarkan informasi yang valid dan terverifikasi.

“Kami mengimbau investor untuk tetap mengedepankan analisis yang memadai dan menggunakan informasi yang valid dalam setiap pengambilan keputusan investasi, terutama di tengah kondisi pasar yang bergejolak seperti saat ini,” katanya.

Di tengah tekanan yang terjadi, OJK menilai fundamental pasar modal Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat. Hal tersebut tercermin dari tingkat likuiditas pasar yang masih tinggi serta kinerja emiten yang secara umum menunjukkan tren positif.

Berdasarkan laporan keuangan triwulan I 2026, mayoritas perusahaan tercatat masih mampu membukukan laba. Secara agregat, pertumbuhan laba emiten tercatat meningkat lebih dari 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Secara fundamental, pasar modal Indonesia dan kinerja emiten masih solid. Mayoritas perusahaan terbuka masih mencatatkan pertumbuhan laba yang positif,” ujar Hasan.

Untuk menjaga stabilitas pasar, OJK telah menerapkan sejumlah kebijakan yang bersifat responsif terhadap kondisi terkini. Di antaranya memberikan fleksibilitas bagi emiten untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback) tanpa melalui persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Selain itu, OJK juga melakukan penyesuaian parameter trading halt, membatasi auto rejection bawah (ARB), serta menunda implementasi dan pelaksanaan praktik short selling guna meredam tekanan pasar yang berlebihan.

Hasan menegaskan OJK akan terus memantau perkembangan pasar dan menyiapkan langkah-langkah lanjutan dengan tetap mempertimbangkan kondisi pasar serta perlindungan investor.

“Seluruh kebijakan yang diambil tetap mempertimbangkan kesiapan pasar dan aspek perlindungan investor,” tutupnya. (*)


Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *