Rakyat.News - Staf Khusus Kepala BPOM RI, dr. Wahyudi Muchsin

BPOM RI Pastikan Harga Obat Tetap Stabil Meski Dolar Tembus Rp18.000

MATA SULSEL, MAKASSAR – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran akan kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, termasuk obat-obatan.

Menanggapi hal tersebut, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI memastikan harga obat tetap terkendali dan tidak mengalami lonjakan signifikan.

Staf Khusus Kepala BPOM RI, dr. Wahyudi Muchsin, mengatakan pemerintah bersama pelaku industri farmasi telah mengantisipasi dampak fluktuasi nilai tukar melalui berbagai langkah strategis agar masyarakat tetap memperoleh obat dengan harga terjangkau.

Menurutnya, Kepala BPOM RI, Prof Taruna Ikrar sejak awal telah membangun komunikasi intensif dengan pelaku usaha farmasi untuk menjaga stabilitas harga meski biaya bahan baku mengalami kenaikan.

“Ini isu yang telah lama kita prediksi. Kepala BPOM RI sudah melakukan berbagai upaya dengan membangun kerja sama dan pertemuan dengan para pelaku usaha. Mereka juga memiliki komitmen, meskipun harga bahan baku meningkat, tetap berusaha memaksimalkan agar harga obat tidak naik,” ujar Wahyudi kepada Rakyat.News di Makassar, Sabtu (6/6/2026).

Ia menjelaskan, industri farmasi berupaya mempertahankan produksi meski menghadapi tantangan pasokan bahan baku akibat pelemahan rupiah.

“Kalaupun bahan bakunya sulit diperoleh, mereka tetap berusaha bertahan,” katanya.

Wahyudi menegaskan, hingga saat ini BPOM optimistis kenaikan nilai tukar dolar tidak akan berdampak besar terhadap harga obat di pasaran.

“Dengan kenaikan dolar, harga obat tidak naik. Kalaupun ada penyesuaian, tidak akan signifikan,” ujarnya.

Menurutnya, BPOM terus berkomitmen menjaga agar masyarakat tetap mendapatkan obat yang murah, aman, dan berkualitas.

“BPOM berusaha menjaga agar obat tetap murah, berkualitas, dan ini sudah menjadi komitmen Kepala BPOM agar ketersediaan obat bagi masyarakat tetap terjaga,” katanya.

Ia bahkan optimistis harga sejumlah produk obat justru dapat ditekan melalui pemanfaatan bahan baku alami yang tersedia di dalam negeri.

“Tidak ada kenaikan, bahkan bisa saja turun karena kita memanfaatkan bahan alam dalam negeri. Misalnya bahan obat tertentu diganti dengan bahan lain yang kualitasnya sama sehingga ketergantungan terhadap bahan impor dapat dikurangi,” jelasnya.

Strategi tersebut, lanjut dr. Wahyudi, mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kesehatan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian industri farmasi nasional.

“Tidak hanya BPOM, tetapi juga ada dukungan dari Kementerian Kesehatan. Kami fokus menjaga kualitas obat tetap terjamin sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan akses terhadap obat dengan harga yang terjangkau,” tuturnya.

Selain menjaga stabilitas harga, BPOM juga memperkuat pengawasan peredaran obat di daerah, termasuk di Sulawesi Selatan.

Menurut Wahyudi, Balai Besar POM (BBPOM) Makassar terus bersinergi dengan aparat penegak hukum serta melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan obat dan makanan.

“Di Sulawesi Selatan kami memaksimalkan peran BBPOM Makassar dengan menggandeng kepolisian, kejaksaan, serta masyarakat yang aktif memberikan laporan. Setiap laporan yang masuk pasti kami tindak lanjuti,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengawasan rutin melalui pengambilan sampel juga terus dilakukan untuk memastikan produk yang beredar memenuhi standar keamanan dan mutu.

“Kami selalu melakukan uji sampel sehingga dapat diketahui mana produk yang aman dan mana yang berpotensi membahayakan masyarakat,” pungkas Wahyudi. (Farez)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *