Rakyat.News - Agen BRILink Setia Cell 05

Kalimat Sederhana Jadi Senjata Agen BRILink Bentengi Warga dari Penipuan Digital: “Jangan Dulu Ditransfer”

MATA SULSEL, MAKASSAR – Siang itu suasana di BRILink Setia Cell 05, salah satu agen yang berada di Kota Makassar, tampak seperti hari-hari biasa. Sejumlah warga datang silih berganti. Ada yang ingin transaksi tarik tunai, transfer uang kepada keluarga, membayar tagihan listrik, hingga mengisi saldo dompet digital.

Di balik meja pelayanan, Amel (19) melayani satu per satu pelanggan dengan ramah. Baginya, pekerjaan itu bukan sekedar menerima uang lalu menyerahkan bukti transaksi.

Namun, ada tanggung jawab lain yang tidak tertulis selain menjaga box kasir dan catatan transaksi outlenya, yakni memastikan dirinya dan masyarakat tidak menjadi korban penipuan.

Sekitar sebulan yang lalu, instingnya bekerja.

Seorang perempuan paruh baya datang dengan maksud menarik uang tunai di outletnya. Namun, alur transaksi yang disampaikan terasa janggal. Ia mengaku sedang menunggu kiriman uang dari orang lain, tetapi ingin mengambil uang lebih dahulu dari agen.

Tidak gegabah, Amel memilih berhati-hati.

“Dia bilang dirinya mau dikirimi uang dari orang lain, terus mau ditarik di sini tapi uangnya di sini. Saya curiga dia mau nipu. Pas ada orang lain yang tansaksi, dia langsung kabur,” kenangnya saat ditemui di outlet Agen BRILink Setia Cell 05 yang berada di Jalan Abdullah Daeng Sirua, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (5/6/2026).

Peristiwa itu tentu menjadi pengingat bahwa di tengah meningkatnya transaksi digital, kewaspadaan manusia tetap menjadi benteng paling awal.

Tak hanya Amel, rekannya Afni (30) juga pernah menghadapi situasi serupa. Namun bedanya kali ini pelanggannya yang hampir mengalami penipuan secara daring dari orang lain.

Seorang ibu datang dengan tergesa-gesa hendak melakukan transfer sejumlah uang kepada seseorang yang belum pernah dia temuinya. Dari cerita yang disampaikan sang ibu, Afni langsung menangkap pola dugaan penipuan yang belakangan sering muncul di media sosial.

Afni menyebut jika korban dimintai transfer uang terlebih dahulu dengan janji akan memperoleh sesuatu setelah tiba di lokasi.

Dengan tegas, Afni memilih menghentikan transaksi tersebut.

“Ada upaya penipuan uang koin yang memang kemarin lagi viral. Jadi ada orang yang mau transaksi, tapi saya tahu dia mau ditipu. Orangnya ibu-ibu hampir ditipu karena disuruh transfer duluan baru (disuruh) datang ke lokasi,” ujarnya.

Ia kemudian menjelaskan kepada pelanggan tersebut mengenai modus yang sedang marak terjadi dan meminta agar transaksi dibatalkan.

“Saya larang ibunya untuk jangan ditransfer dulu, karena ibu itu tidak sadar hampir ditipu,” katanya.

Bagi Afni, langkah sederhana berupa bertanya lebih dulu kepada pelanggan bisa menjadi penyelamat dari kerugian yang nilainya tidak sedikit.

“Saya biasa kasih ingat ibu-ibu lain, karena hal begitu sering terjadi, Kita harus paham bahasa mereka kalau ada indikasi penipuan, biar tidak terjadi aksi penipuan,” tegasnya.

PULUHAN TRANSAKSI SEHARI

Setiap harinya, Agen BRILink Setia Cell 05 melayani sekitar 20 hingga 30 orang dengan beragam jenis transaksi.

Tarik tunai dan transfer menjadi layanan yang paling banyak digunakan masyarakat. Selain itu, pembayaran listrik, top up e-wallet, hingga layanan transaksi lainnya juga terus berlangsung dari pagi hingga malam.

Rakyat.News - Agen BRILink Setia Cell 05
Potret momen transaksi di Agen BRILink Setia Cell 05, Kota Makassar. (Foto: Andi Fatur Rezky AAR/Rakyat.News).

Mayoritas pelanggan adalah ibu rumah tangga dan masyarakat berusia di atas 30 tahun.

Di tengah derasnya digitalisasi layanan keuangan, kondisi tersebut menjadikan agen BRILink sebagai titik temu antara teknologi dan masyarakat yang masih membutuhkan pendampingan secara langsung.

Peran mereka perlahan meluas, bukan hanya sebagai penyedia layanan transaksi, tetapi juga sebagai ruang konsultasi sederhana tempat masyarakat bertanya dan memperoleh peringatan sebelum mengambil keputusan keuangan.

“Harapan saya tentu kita penting saling mengingatkan satu sama lain untuk terhindar dari upaya penipuan,” tambah Afni.

MARAKNYA PENIPUAN ONLINE

Fenomena tersebut menjadi semakin relevan ketika angka penipuan transaksi keuangan terus meningkat.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti Scam Centre (IASC) menunjukkan bahwa hingga Februari 2026 terdapat 9.568 laporan transaksi keuangan di Provinsi Sulawesi Selatan dan 537 di Sulawesi Barat.

Rakyat.News - OJK
Infografis ilustrasi data penipuan transaksi keuangan digital di Sulawesi Selatan dan Barat oleh OJK. (Foto: dok. Andi Fatur Rezky AAR).

Angka tersebut menjadi sinyal bahwa transformasi digital harus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi keuangan masyarakat.

Kepala OJK Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar), Moch Muchlasin menegaskan bahwa kemudahan layanan digital memang membawa manfaat besar, namun masyarakat dituntut semakin waspada terhadap berbagai modus penipuan yang terus berkembang.

Menurutnya, masyarakat harus selalu melakukan cek dan ricek apabila menerima permintaan data pribadi maupun instruksi transkasi yang mengatasnamakan lembaga jasa keuangan atau pun pribadi.

OJK mengingatkan bahwa lembaga keuangan tidak pernah meminta PIN, password OTP, maupun data pribadi melalui SMS atau aplikasi percakapan, serta mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan mengklik tautan yang dikirim pihak tidak dikenal.

Pada akhirnya, keamanan transaksi digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesadaran setiap individu dalam menjaga data atau mengambil keputusan.

PENTINGNYA SISTEM DIGITALISASI YANG KUAT

Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Hamid Paddu, menilai penguatan sistem keamanan digital harus menjadi prioritas di tengah semakin besarnya ketergantungan masyarakat terhadap layanan berbasis internet.

“Teknologi ekonomi kita adalah teknologi informasi digital juga. Untuk menghalau sistem keamanan agar ekonomi dan finansial tetap aman, kita harus punya sistem digital yang kuat,” tukasnya,

Ia mengatakan bahwa pemerintah dan regulator harus terus memperkuat sistem perlindungan masyarakat agar mampu menghadapi perkembangan kejahatan siber yang semakin canggih.

“Negara harus turun tangan untuk menghalau itu semua. Pemerintah harus lebih canggih dari para pembobol, supaya membuat keamanan masyarakat lebih aman untuk bertransaksi,” ungkap dia.

Menurut Prof Hamid, pihak OJK, Bank Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan perlu terus memperkuat sistem keamanan digital sekaligus meningkatkan edukasi kepada masyarakat.

Di balik meja kecil sebuah agen BRILink di sudut Kota Makassar, edukasi itu ternyata telah berlangsung setiap hari.

Bukan melalui seminar besar atau ruang kelas berpendingin udara, melainkan lewat percakapan singkat antara petugas dan pelanggan.

Sebuah pertanyaan sederhana.

Sebuah rasa curiga yang muncul tepat waktu.

Dan sebuah keputusan untuk berkata “Jangan dulu ditransfer”.

Di tengah maraknya penipuan digital, kalimat sederhana itu mungkin menjadi pelajaran literasi keuangan yang paling berharga, bahwa perlindungan terbaik sering kali lahir dari kepedulian untuk saling mengingatkan. (Farez)


Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *