MATA SULSEL, JENEPONTO – Di sebuah lapak kecil di Pasar Karisa Jeneponto, pukul sembilan pagi, Senin (8/6/2026) Hj. Sitti (45) tengah sibuk melayani pembeli. Di tangannya, bukan lagi segenggam uang kembalian yang ia raih, melainkan QRIS BRI. Ia menunjukkan kode QR yang menempel di etalase dagangannya.
“Cek, sudah masuk, Dek,” katanya sambil tersenyum pada pembeli yang baru saja membayar dua kilogram cabai rawit. Layar ponselnya menampilkan notifikasi: “Pembayaran QRIS BRI berhasil. Rp35.000.”
Dulu, Hj. Sitti harus menyediakan kantong plastik berisi uang receh. Kini, ia hanya perlu memastikan bahwa melalui transaksi digital QRIS uang tersebut sudah masuk. “Saya pusing dulu kalau pegang uang kecil. Sekarang tinggal scan, beres. Anak saya yang ngajarin pakai QRIS,” ujarnya sambil terkekeh.
Pemandangan serupa juga terlihat di sebuah warung kopi di pinggir Jalan Lanto Dg. Pasewang. Pemuda bernama Aris (28) baru saja memesan segelas kopi susu dan sepiring pisang goreng. Bukannya merogoh saku, ia mengarahkan kamera ponselnya ke selembar kertas laminasi yang bertuliskan “QRIS BRI”.
“Ini lebih praktis. Saya enggak perlu bawa uang tunai, apalagi kalau malam. Tinggal scan, keluar struk digital, aman,” kata Aris.
Meski sederhana, perubahan ini adalah gelombang besar yang tengah melanda kabupaten yang dikenal dengan tradisi “bosara” ini. Dan di balik gelombang itu, berdiri seorang lelaki berkacamata yang setiap hari berkeliling, bukan untuk mengecek target, tapi untuk memastikan tak ada pedagang yang tertinggal.

Peran Sang Pimpinan: Ari Kusmayadi, “Sang Jembatan Digital”
Di Kantor Cabang BRI Jeneponto yang terletak di pusat kota, Ari Kusmayadi, Pimpinan Cabang BRI Jeneponto, baru saja menyelesaikan rapat pagi. Di mejanya, terdapat setumpuk laporan, tetapi di layar ponselnya, ia lebih sering memantau grafik adopsi QRIS.
“Trennya sangat positif. Dalam enam bulan terakhir, jumlah merchant QRIS BRI di Jeneponto meningkat signifikan. Ekosistem digital ini tumbuh bukan karena kami paksa, tapi karena masyarakat mulai merasakan manfaat langsungnya,” ujar Ari dengan nada tenang, Senin (8/6/2026).
Ari bukan tipe pemimpin yang hanya duduk di balik meja. Ia sering turun langsung ke lapangan ke pasar, bahkan ke desa-desa terpencil untuk mendampingi para pedagang yang baru pertama kali bersentuhan dengan teknologi digital.
“Saya ingat betul, ada seorang nenek di Kecamatan Binamu yang jual pisang goreng. Handphonenya jadul, tapi saya bilang, ‘Nek, coba pinjam HP anaknya dulu’. Akhirnya diajari oleh anaknya, dan sekarang dia bersemangat karena dagangannya laku dibeli anak muda yang bawa HP doang,” cerita Ari sambil tersenyum.
Menurut Ari, kunci keberhasilan adopsi QRIS bukan terletak pada fitur canggih, melainkan pada pendampingan dan edukasi yang humanis.
“Banyak pedagang yang takut dulu. Takut uangnya hilang, takut teknisnya sulit. Tapi setelah dicoba, mereka bilang ‘Oh, ternyata gampang Pak’. Nah, di situlah tugas kami menjembatani rasa takut itu dengan rasa percaya,” katanya.
Data dan Dampak: Terbangunnya Ekosistem Digital
Sejak awal tahun 2026, BRI Cabang Jeneponto mencatat peningkatan jumlah merchant QRIS hingga 45 persen dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya. Angka ini menjadikan Jeneponto sebagai salah satu kabupaten dengan adopsi QRIS yang mulai tumbuh di wilayah Sulawesi Selatan.
“Tidak hanya di pusat kota, pedagang di Kecamatan Kelara, Tarowang. dan Pasar Allu Bangkala juga mulai beralih. Ini menandakan bahwa literasi digital masyarakat Jeneponto semakin baik,” tambah Ari.

Peningkatan ini juga berdampak pada omzet pedagang kecil. Sejumlah pedagang melaporkan bahwa pelanggan mereka bertambah, terutama dari kalangan anak muda dan pekerja migran yang kerap mengirim uang ke keluarga lewat QRIS.
“Ini ekosistem yang menguntungkan semua pihak. Pedagang lebih aman karena tidak pegang uang tunai banyak, pembeli lebih praktis, dan perputaran uang tercatat rapi. Tidak ada alasan lagi untuk tidak ikut,” ujar Ari meyakinkan.
Masa Depan: Jeneponto Menuju Cashless Society
Ari Kusmayadi optimis bahwa dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Kabupaten Jeneponto akan bertransformasi menjadi salah satu daerah dengan penetrasi pembayaran digital tertinggi di Sulawesi Selatan.
“Kami menggandeng pemerintah daerah, komunitas, dan tokoh masyarakat. Di setiap acara, kami sisipkan edukasi QRIS. Perlahan, kebiasaan ini akan menjadi gaya hidup,” ungkapnya.
Ia mencontohkan, saat acara pasar murah atau bazar UMKM, BRI selalu menyediakan stan khusus pembuatan QRIS gratis. Bahkan, bagi pedagang yang belum memiliki smartphone memadai, BRI menyediakan perangkat QRIS Static berupa stiker yang bisa ditempel di lapak.
“Pedagang tidak perlu HP mahal. Cukup punya rekening BRI dan mau belajar. Sisanya, kami yang urus,” pungkas Ari.
Di luar kantor, mentari mulai condong ke barat. Hj. Sitti sudah menghitung omzet hariannya. Ia hanya butuh lima menit mengecek notifikasi ponsel untuk tahu pendapatannya. Tak ada lagi tumpukan uang lusuh yang harus disetrika, tak ada lagi hitung-hitungan manual rentan salah.
“Pokoknya kalau anak saya pulang ke rumah, saya selalu bilang, ‘Ajari ibu satu lagi, caranya yang baru’. Saya sudah telat, tapi saya nggak mau ketinggalan,” ujarnya bersemangat.
Di warung kopi, Aris membayar kopi keduanya. Layar ponsel menyala, suara “nada QR” berbunyi pendek selesai transaksi. Ia pun bangkit, pamit pulang, dan meninggalkan warung yang tetap ramai.
Sementara itu, di ujung kota, Ari Kusmayadi masih duduk di meja kerjanya. Ia membuka laptop, melihat grafik yang terus menanjak, lalu tersenyum. “Ini baru permulaan, Insya Allah Jeneponto bisa menjadi contoh,” bisiknya. (*)

Tinggalkan Balasan