MATA SULSEL, MAKASSAR – Suara gemericik air dari deretan kolam budidaya lobster air tawar terdengar bersahutan di sudut Desa Paccelekang, Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Di balik kolam-kolam sederhana itu, tersimpan cerita tentang sebuah desa yang perlahan mengubah cara pandang masyarakat terhadap potensi ekonomi lokal.
Desa yang dulu hanya memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang berjalan apa adanya, kini tumbuh menjadi ruang pemberdayaan masyarakat melalui beragam unit usaha. Mulai dari Agen BRILink budidaya lobster air tawar, hingga peternakan ayam petelur yang hasilnya kembali dinikmati warga.
Transformasi itu tentu tidak terjadi dalam semalam.
BUMDes Paccelekang yang berdiri sejak 2016 sempat mengalami masa-masa stagnan. Minimnya unit usaha yang prospektif membuat keberadaannya belum mampu memberikan dampak signifikan bagi masyarakat. Namun evaluasi besar dilakukan pasca pandemi COVID-19.
“Awalnya kami melihat apa saja potensi desa yang bisa dikembangkan. Akhir tahun 2021 kami memulai budidaya lobster air tawar dalam skala kecil dengan modal 195 indukan dan enam kolam,” ujar Kepala Unit Budidaya Lobster Air Tawar BUMDes Paccelekang, Alauddin Dg. Ngewa saat ditemui Rakyat.News, Senin (8/6/2026).
Keputusan itu menjadi titik balik.
Target panen pertama pada September 2022 berhasil diwujudkan dengan nilai produksi mencapai sekitar Rp30 juta dari 3.000 ekor lobster.
Setahun berselang, pada 2023 omzet meningkat menjadi Rp62 juta sebelum melonjak hingga Rp385 juta pada 2024.
Meski mengalami penyesuaian pada 2025 akibat perubahan pola kerja sama dengan mitra, BUMDes tetap mampu mencatat omzet sekitar Rp114 juta dan bahkan mengirimkan 1.5000 ekor lobster ke Jayapura.

Bagi Alauddin, keberhasilan itu bukan hanya sekedar angka biasa.
“Dalam BUMDes ini kami mengedepankan profit dan benefit. Kami ingin usaha ini menghasilkan keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” tegasnya.
Prinsip itulah yang kemudian melahirkan pola pemberdayaan berbasis kemitraan.
BUMDes menyuplai indukan lobster beserta fasilitas pendukung kepada warga, kemudian membeli kembali hasil budidaya mereka. Skema tersebut membuat masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi bagian dari rantai usaha desa.
Saat ini terdapat puluhan titik budidaya yang pernah dibangun. Sebagian memang tidak berlanjut karena tantangan teknis dan perubahan semangat masyarakat. Namun sekitar 20 titik masih aktif dan terus berkembang.
“Kami menyuplai mulai dari indukan sampai fasilitas pendukung. Hasil budidayanya nanti kami beli kembali dari masyarakat,” jelas Alauddin.
Menurutnya, tantangan terbesar justru bukan persoalan teknis budidaya, melainkan mengubah pola pikir masyarakat agar berani mencoba usaha baru yang memiliki prospek jangka panjang.
Di sisi lain, keberadaan usaha tersebut memberikan dampak sosial.
BUMDes menggunakan sebagian hasil usahanya untuk membantu masyarakat kurang mamou melalui pembagian paket sembako berisi beras, telur, minyak goreng dan kebutuhan pokok lainnya.
“Hasil budidaya tahun 2024 kami gunakan untuk memberikan bantuan sembako kepada sekitar 20 warga yang berhak menerima,” ujar Kasi Pembangunan Desa Paccelekang sekaligus Pengawas BUMDes, Arifin.
Selain itu, BUMDes juga memproduksi paka sendiri untuk budidaya ikan dan lobstern sehingga menciptakan efisiensi sekaligus membuka peluang usaha baru di tingkat desa.
Lobster air tawar yang dibudidayakan dijual dengan harga Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per ekor. Bibitnya didatangkan langsung dari Jawa sebelum dikembangkan secara mandiri di desa.
Perjalanan BUMDes Paccelekang kemudian mendapat dorongan baru ketika mengikuti Program Desa BRILian pada 2024.
Arifin mengisahkan, sebelumnya BUMDes telah bekerja sama dengan BRI melalui unit usaha jasa keuangan Agen BRILink sejak 2017.
Kehadiran layanan tersebut memudahkan masyarakat melakukan tarik tunai, transfer, pembayaran cicilan, hingga berbagai transaksi lainnya tanpa harus pergi jauh ke ATM atau unit bank terdekat.

Namun melalui Program Desa BRILian, ruang pengembangan desa menjadi semakin luas.
“Pada tahun 2024 kami ditawari mengikuti Program Desa BRILian. Alhamdulillah desa kami berhasil masuk 10 besar terbaik tingkat nasional dan mendapatkan dana pembinaan sebesar Rp10 juta yang kami gunakan untuk mengembangkan unit usaha,” ungkapnya.
Dalam proses penilaian itu, inovasi budidaya lobster air tawar menjadi daya tarik utama karena dinilai mampu meningkatkan potensi lokal sekaligus memberdayakan masyarakat.
Bagi Alauddin, manfaat Program Desa BRILian tidak berhenti pada penghargaan semata.
“Feedback yang kami rasakan mulai dari pendampingan usaha, pendampingan kelembagaan, dukungan pemasaran, hingga peluang memperluas jejaring karena relasi yang dimiliki BRI sangat luas,” lanjutnya.
Kini, BUMDes Paccelekang mulai memikirkan hilirisasi produk dengan rencana membangun usaha rumah makan berbasis lobster air tawar agar nilai tambah tidak berhenti di sektor budidaya saja.
Target jangka panjangnya bahkan lebih besar.
Dari 150 indukan pada awal usaha, mereka ingin meningkatkan kapasitas menjadi 5.000 indukan agar mampu memasuki pasar yang lebih luas.
“Kalau dari pengiriman 1.500 ekor saja kami bisa bertahan empat tahun, kami membayangkan bagaimana jika kapasitas itu meningkat menjadi 5.000 ekor,” kata dia.

Manfaat keberadaan BUMDes juga dirasakan langsung oleh masyarakat.
Salah seorang warga, Amirullah, mengaku program budidaya lobster telah membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar.
“Dampaknya tentu terasa bagi masyarakat, khususnya melalui budidaya lobster yang dikembangkan oleh BUMDes,” ujarnya singkat.
Semangat yang tumbuh di Desa Paccelekang sejalan dengan visi Program Desa BRILian yang mendorong desa menjadi lebih mandiri, inovatif dan berbasis ekonomi masyarakat.
DESA NAIK KELAS DENGAN DESA BRILIAN
Regional Chief Executive Office (RCEO) BRI Region 15 Makassar, D Argo Prabowo, menjelaskan bahwa hingga Maret 2026 terdapat 528 Desa BRILian binaan BRI.
“Desa BRILian merupakan desa yang sudah melek digital, memiliki Agen BRILink dan aktif dalam pengembangan ekonomi masyarakat,” terang dia.
Menurut Argo, desa yang aktif membangun inovasi usaha akan mampu menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakatnya.
“Desa yang aktif, desa inovatif, punya usaha sehingga masyarakatnya bisa terbantu dengan hadirnya usaha tersebut,” tuturnya.
Untuk memperkuat kapasitas desa, kata Argo, BRI menyediakan berbagai program literasi mulai dari literasi dasar, literasi bisnis, hingga literasi digital agar pelaku usaha desa dapat berkembang dan naik kelas.
Di Paccelekang, makna Desa BRILian akhirnya tidak sekedar menjadi label sebuah program.
Ia hadir dalam bentuk kolam-kolam budidaya yang terus menghasilkan, warga yang mulai berani berwirausaha, bantuan yang kembali kepada masyarakat, hingga harapan bahwa desa mampu tumbuh kepada masyarakat, hingga harapan bahwa desa mampu tumbuh dengan kekuatan yang dibangun dari potensi lokalnya sendiri.
Di sanalah pembangunan desa menemukan wajahnya yang paling sederhana sekaligus bermakna: ketika sebuah inovasi mampu menggerakkan ekonomi, memberdayakan masyarakat, dan mengubah sebuah desa menjadi ruang lahirnya harapan baru. (Farez)

Tinggalkan Balasan