IMG 20260609 WA0064

SENGKA KI RI JENEPONTO

Penulis : Haerullah Lodji (Direktur Eksekutif Pattiro Jeka)

“Jeneponto Experience : Membangun Pusat Kunjungan Wisata dan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya, Komunitas dan Pengalaman di Selatan Sulawesi Selatan”

Ada daerah yang menawarkan pemandangan, ada daerah yang menawarkan hiburan, ada pula daerah yang menawarkan sejarah.

Namun hanya sedikit daerah yang mampu menawarkan pengalaman yang utuh, pengalaman yang tidak hanya dilihat, tetapi dirasakan, dikenang, dan diceritakan kembali.

Hari ini, Jeneponto sedang bergerak menuju arah itu. Selama bertahun-tahun Jeneponto sering dipahami melalui citra lama, tanah yang panas, wilayah yang keras, dan masyarakat yang dianggap tegas dalam karakter.

Citra tersebut bukan sepenuhnya keliru dalam konteks sejarah, namun tidak lagi cukup untuk menggambarkan Jeneponto masa kini. Sebab di balik hamparan tanah Butta Turatea, sedang tumbuh sebuah wajah baru yang lebih terbuka, kreatif, ramah, dan penuh harapan.

Wajah baru itulah yang dirangkum dalam sebuah ajakan sederhana namun sarat makna “SENGKA KI RI JENEPONTO”
Sebuah ungkapan lokal yang berarti “Mari Singgah atau Berkunjung ke Jeneponto.”

Lebih dari sekadar slogan promosi, kalimat ini merupakan representasi dari karakter masyarakat Jeneponto yang terbuka menerima tamu, menghargai persahabatan, dan ingin berbagi pengalaman terbaik kepada siapa pun yang datang.

Karena sesungguhnya masa depan pariwisata tidak lagi bertumpu pada pembangunan objek semata. Wisatawan modern mencari sesuatu yang lebih mendalam. Mereka mencari cerita, pengalaman, interaksi, keunikan budaya, dan hubungan emosional dengan tempat yang mereka kunjungi.

Di sinilah Jeneponto memiliki peluang besar. Jeneponto tidak hanya memiliki alam yang indah. Jeneponto memiliki pengalaman.

Dari kawasan pegunungan Rumbia hingga pesisir selatan yang berbatasan laut Flores batas Kabupaten Bantaeng dan Takalar, pengunjung dapat menikmati lanskap yang beragam dalam satu wilayah yang relatif mudah dijangkau.

Gunung Bulu Pengka, Gunung Bulubialo, Bontolojong Camp, Kampung Kopi Rumbia Camp, kawasan hutan pinus Pacumikang, serta berbagai jalur petualangan alam menghadirkan pengalaman wisata yang memadukan keindahan, ketenangan, dan petualangan dalam satu paket yang utuh.

Di wilayah pesisir, Pantai Garasikang, Pantai Tamarunang, Pantai Tarowang Tino, serta bentangan garis pantai lainnya menghadirkan suasana yang berbeda.

Laut, angin, dan ruang terbuka memberi kesempatan bagi pengunjung untuk menikmati sisi Jeneponto yang lebih santai dan reflektif.

Namun kekuatan Jeneponto tidak berhenti pada alam. Di pusat kota, wajah modern mulai tumbuh dengan cepat. Stadion Mini Turatea yang kini menjadi ruang interaksi publik, kawasan Jalan Pelita yang hidup pada malam hari, taman-taman kota yang semakin tertata, serta tumbuhnya kafe dan ruang kreatif menghadirkan suasana baru yang membuat kota Jeneponto semakin nyaman untuk dikunjungi.

Jalan Pelita bahkan mulai menjelma menjadi koridor ekonomi kreatif dan wisata kuliner yang mempertemukan anak muda, komunitas, pelaku UMKM, keluarga, dan wisatawan dalam satu ruang yang hidup.

Kawasan ini menunjukkan bahwa Jeneponto tidak hanya berkembang sebagai daerah agraris, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya ekonomi kreatif berbasis masyarakat.

Di sisi lain, Kota Tua Jeneponto menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata sejarah dan literasi budaya. Jejak kerajaan, cerita masa lalu, dan identitas Turatea dapat menjadi fondasi penting dalam membangun narasi wisata yang memiliki karakter kuat dan berbeda dari daerah lain.

Yang membuat Jeneponto semakin unik adalah keberhasilannya mempertahankan warisan budaya yang hidup di tengah perubahan zaman. Salah satu simbol terkuatnya adalah kuda.

Di banyak daerah, kuda hanya menjadi bagian dari sejarah. Di Jeneponto, kuda tetap hidup sebagai identitas budaya, olahraga, ekonomi, bahkan kuliner.

Pasar Kuda Tolo di Kecamatan Kelara merupakan salah satu ruang budaya yang sangat khas, di tempat ini, masyarakat tidak hanya melakukan transaksi ekonomi, tetapi juga menjaga tradisi yang telah berlangsung lintas generasi.

Tradisi pacuan kuda, olahraga berkuda, hingga berkembangnya komunitas berkuda memanah menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat bertransformasi menjadi atraksi wisata yang bernilai ekonomi tinggi.

Inilah bentuk nyata pariwisata berbasis budaya. Bukan budaya yang dipertontonkan secara artifisial, melainkan budaya yang masih hidup dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Pada saat yang sama, ekonomi kreatif Jeneponto terus menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan. Industri desain grafis, percetakan, sablon, fotografi, film, seni pertunjukan, kriya, kerajinan tangan, kuliner lokal, hingga produk UMKM mulai berkembang sebagai sektor ekonomi baru yang memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkarya.

Potensi ini perlu diintegrasikan dalam sebuah gerakan besar pembangunan daerah.

Karena itu lahirlah gagasan : JENEPONTO EXPERIENCE
Creative Tourism Movement

Sebuah gerakan kolaboratif yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Gerakan ini dibangun di atas keyakinan bahwa masa depan Jeneponto tidak hanya berada pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kemampuan menciptakan pengalaman yang berkesan bagi setiap pengunjung.

– Alam menjadi pengalaman.
– Budaya menjadi pengalaman.
– Kuliner menjadi pengalaman.
– Komunitas menjadi pengalaman.
– Kreativitas menjadi pengalaman.

Melalui pendekatan tersebut, Jeneponto diarahkan menjadi destinasi yang hidup sepanjang tahun melalui festival, event olahraga, pameran UMKM, wisata komunitas, wisata budaya, wisata alam, wisata kuliner, dan wisata kreatif yang saling terhubung dalam satu ekosistem pembangunan.

Visi besarnya adalah menjadikan Jeneponto sebagai, “The Experience Gateway of South Sulawesi”
Gerbang pengalaman terbaik di Sulawesi Selatan.

– Sebuah daerah yang tidak hanya dilewati, tetapi menjadi tujuan.
– Sebuah daerah yang tidak hanya dikunjungi, tetapi dirindukan.
– Sebuah daerah yang tidak hanya dilihat, tetapi dirasakan.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif tidak diukur dari jumlah bangunan yang berdiri, tetapi dari jumlah masyarakat yang merasakan manfaatnya, jumlah anak muda yang memperoleh peluang baru, jumlah UMKM yang berkembang, serta jumlah pengunjung yang pulang membawa cerita baik tentang Jeneponto.

Dan ketika hari itu tiba, maka “SENGKA KI RI JENEPONTO” tidak lagi sekadar ajakan berkunjung. Ia akan menjadi identitas baru daerah.

Sebuah identitas yang lahir dari keramahan masyarakat, kekayaan budaya, keindahan alam, kreativitas generasi muda, dan semangat bersama untuk membangun Jeneponto yang lebih maju, lebih bahagia, dan lebih berdaya saing.

Sengka ki Ri Jeneponto.
Datanglah sebagai tamu.
Pulanglah membawa pengalaman.(*)


Diterbitkan

dalam

oleh

Tags:

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *