“Wisata terbaik bukanlah wisata yang membuat orang datang.
Tetapi wisata yang membuat orang ingin kembali”.
Dalam rilis opini dan tayangan vidio pendek sebelumnya tentang SENGKA KI RI JENEPONTO, ada gagasan sederhana yang menarik dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Ruang publik tumbuh, komunitas bergerak, UMKM berkembang, dan destinasi wisata baru mulai bermunculan, namun di tengah perkembangan tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang lebih mendasar.
Apa yang mesti dihadirkan Jeneponto dalam membangun destinasi wisata baru?
Ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang perlu dibangun?
Pertanyaan itulah yang kemudian melahirkan diskusi panjang antara Matasulsel.id dengan seorang “Sahabat Jelajah Gagasan”, seorang pemikir dan praktisi yang selama ini aktif mengembangkan berbagai perspektif tentang pembangunan daerah, pariwisata berbasis pengalaman, ekonomi kreatif, budaya, dan komunitas.
Dalam percakapan yang berlangsung hangat dan mendalam, muncul sebuah gagasan yang kemudian berkembang menjadi narasi besar:
SENGKAKI RI JENEPONTO.
Bukan sekadar slogan wisata, bukan pula sekadar ajakan berkunjung, melainkan sebuah cara baru memandang Jeneponto sebagai ruang pengalaman hidup yang unik, autentik, dan berbeda.
Berikut petikan lengkap wawancaranya.
Oji : Assalamu Alaikum, sahabat. Apa kabar?
Sahabat Jelajah Gagasan : Wa Alaikum Salam. Alhamdulillah baik.
Terima kasih sahabat Oji. Saya juga sangat senang bisa kembali berdiskusi tentang Jeneponto, karena setiap kali kita berbicara tentang daerah ini, selalu ada ruang baru yang bisa dieksplorasi.
Dan menurut saya, itu pertanda bahwa Jeneponto sebenarnya menyimpan potensi yang jauh lebih besar daripada yang selama ini kita lihat.
Oji : Menarik sekali.
Saya ingin memulai dari hal yang paling sederhana.
Beberapa waktu terakhir kita banyak mendiskusikan tentang “SENGKAKI RI JENEPONTO”.
Sebenarnya apa yang membuat Anda ada tertarik dengan kalimat sederhana ini?
Sahabat Jelajah Gagasan : Karena saya melihatnya bukan sebagai slogan.
Justru itu yang menarik.
Ketika pertama kali mendengar kalimat “SENGKA KI RI JENEPONTO”, saya tidak mendengar promosi wisata.
Saya mendengar sebuah undangan.
Saya mendengar keramahan.
Saya mendengar budaya.
Saya mendengar identitas.
Dan itu sangat berbeda.
Kebanyakan slogan pariwisata dibuat oleh konsultan.
Tetapi kalimat seperti “SENGKAKI RI JENEPONTO” lahir dari kehidupan masyarakat itu sendiri.
Karena itu ia terasa hidup.
Oji : Jadi menurut Anda, kekuatan utamanya bukan pada kata-katanya?
Sahabat Jelajah Gagasan : Betul, Kekuatan sesungguhnya ada pada nilai yang dikandungnya, karena ketika seseorang mengatakan:
“SENGKAKI RI JENEPONTO”
yang ia sampaikan sebenarnya bukan:
“Datanglah melihat tempat kami.”
Tetapi:
“Datanglah menjadi bagian dari kehidupan kami.”
Nah, menurut saya ini jauh lebih kuat.
Karena wisatawan modern tidak lagi mencari tempat.
Mereka mencari pengalaman.
Oji : Selama ini daerah-daerah berlomba membangun objek wisata baru. Mengapa Anda justru banyak berbicara tentang pengalaman?
Sahabat Jelajah Gagasan : Karena wisata dunia sedang berubah.
Dulu orang bepergian untuk melihat.
Sekarang orang bepergian untuk merasakan.
Orang tidak lagi mengejar foto semata.
Mereka mencari cerita.
Mencari pengalaman.
Mencari interaksi dengan masyarakat lokal.
Mencari sesuatu yang autentik.
Di sinilah peluang besar Jeneponto.
Karena Jeneponto memiliki sesuatu yang semakin langka di dunia modern, yaitu keaslian.
Oji : Apa yang Anda maksud dengan keaslian?
Sahabat Jelajah Gagasan : Keaslian adalah kehidupan yang masih berjalan secara alami.
Pasar Kuda Tolo misalnya, banyak orang melihatnya sebagai pasar.
Saya melihatnya sebagai ruang budaya hidup.
Di sana ada tradisi.
Ada identitas.
Ada hubungan sosial.
Ada cerita turun-temurun.
Itu jauh lebih berharga daripada sekadar bangunan wisata.
Begitu juga dengan kehidupan masyarakat pegunungan Rumbia, Bontolojong, Bulu Bialo, Pacumikang Kampung Kopi, Air terjun Bossolo, komunitas berkuda, komunitas pemanah, CFD, stadion mini Turatea hingga ruang-ruang interaksi di Jalan Pelita.
Semua itu adalah pengalaman hidup yang tidak bisa direkayasa.
Oji : Jadi menurut Anda, apa yang sebenarnya harus dijual oleh Jeneponto?
Sahabat Jelajah Gagasan :Baik, Bukan gunung, bukan pantai, bukan kafe.
Yang harus dijual adalah pengalaman.
Karena gunung ada di banyak daerah.
Pantai ada di banyak daerah.
Kafe ada di hampir semua kota.
Tetapi pengalaman menjadi masyarakat Turatea selama beberapa hari atau bahkan sekecap, itu hanya bisa ditemukan di Jeneponto.
Oji : Anda bahkan pernah menyebut bahwa Jeneponto bukan sekadar kabupaten wisata.
Apa maksudnya?
Sahabat Jelajah Gagasan : Saya melihat Jeneponto memiliki peluang lebih besar daripada sekadar menjadi daerah wisata.
Saya membayangkan Jeneponto sebagai : Kabupaten Pengalaman (Experience Regency).
Daerah yang membuat orang pulang membawa cerita.
Bayangkan seseorang datang ke Jeneponto.
Ia menikmati kopi di Rumbia.
Menyaksikan aktivitas Pasar Kuda Tolo.
Berkunjung ke Kota Tua Jeneponto.
Menikmati suasana Jalan Pelita.
Berinteraksi dengan masyarakat lokal.
Merasakan suasana religius di Kampung Seribu Masjid.
Ketika pulang, yang diingat bukan hanya tempat-tempat itu.
Yang diingat adalah perasaan yang muncul selama berada di Jeneponto.
Oji : Bagaimana posisi ekonomi kreatif dalam konsep tersebut?
Sahabat Jelajah Gagasan : Ekonomi kreatif adalah mesin penggerak.
Pariwisata tanpa ekonomi kreatif hanya menghasilkan kunjungan.
Tetapi ketika ekonomi kreatif tumbuh, maka kunjungan berubah menjadi manfaat ekonomi.
UMKM tumbuh.
Anak muda mendapat peluang usaha.
Desainer berkembang.
Fotografer berkembang.
Pelaku seni berkembang.
Komunitas berkembang.
Karena itu saya melihat masa depan Jeneponto bukan hanya wisata berbasis alam.
Tetapi wisata berbasis kreativitas masyarakat.
Oji : Anda juga pernah menyampaikan gagasan “Jeneponto Experience”. Mengapa konsep ini penting?
Sahabat Jelajah Gagasan : Karena saya percaya bahwa masa depan pariwisata bukan lagi destination economy.
Tetapi experience economy.
Yang dicari wisatawan bukan tempat, yang dicari adalah pengalaman.
Maka seluruh potensi Jeneponto perlu dirangkai menjadi satu pengalaman besar.
Mulai dari pegunungan Rumbia.
Pasar Kuda Tolo.
Kuliner khas.
Jalan Pelita.
Kota Tua Jeneponto.
Komunitas kreatif.
Wisata olahraga.
Budaya berkuda.
Festival masyarakat.
Semuanya menjadi bagian dari satu narasi besar, Jeneponto Experience.
Oji : Jika harus merumuskan satu visi besar untuk Jeneponto, apa yang akan Anda pilih?
Sahabat Jelajah Gagasan : Saya akan memilih visi :
“Jeneponto, The Experience Gateway of South Sulawesi.”
(Gerbang pengalaman terbaik di Sulawesi Selatan).
Karena saya ingin Jeneponto tidak hanya menjadi daerah yang dilewati.
Tetapi menjadi daerah yang dicari.
Tidak hanya dikunjungi.
Tetapi dirindukan.
Oji : Terakhir, apa pesan Anda untuk masyarakat Jeneponto?
Sahabat Jelajah Gagasan : Jangan pernah meremehkan apa yang dimiliki daerah sendiri.
Sering kali kekuatan terbesar sebuah daerah bukan berada pada bangunan atau infrastrukturnya.
Tetapi berada pada manusianya.
Pada budaya yang diwariskan.
Pada cerita yang masih hidup.
Pada keramahan yang masih terjaga.
Jeneponto memiliki semua itu.
Tinggal bagaimana seluruh elemen daerah mampu melihatnya sebagai kekuatan bersama dan mengembangkannya secara kolaboratif.
Dan saya percaya, masa depan itu bisa dimulai dari satu kalimat sederhana :
SENGKAKI RI JENEPONTO.
Karena pada akhirnya, wisata terbaik bukanlah wisata yang membuat orang datang, tetapi wisata yang membuat orang ingin kembali.
Epilog
Wawancara ini mungkin bermula dari pertanyaan tentang wisata dan ekonomi kreatif. Namun di penghujung percakapan, yang ditemukan bukan sekadar gagasan tentang destinasi, melainkan sebuah cara baru memandang Jeneponto.
Bahwa di balik pegunungan, pantai, pasar kuda, kopi, jalan-jalan kota, dan geliat komunitas yang tumbuh, terdapat sesuatu yang lebih mendasar : jiwa masyarakat Turatea yang tetap hangat, terbuka, dan penuh cerita.
Barangkali itulah makna terdalam dari “SENGKAKI RI JENEPONTO”.
Sebuah undangan sederhana yang tidak hanya mengajak orang datang, tetapi mengajak mereka kembali merasakan.
Merasakan alamnya.
Merasakan budayanya.
Merasakan manusianya.
Dan pada akhirnya, merasakan Jeneponto Jeneponto yang sesungguhnya,
Merasakan Jeneponto, menemukan Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan