MATA SULSEL, JENEPONTO – Pukul sembilan pagi, Kamis (11/6/2026) ruang pertemuan di lantai dua Kantor Cabang BRI Jeneponto mulai dipenuhi puluhan pasang mata. Mereka datang dengan berbagai latar belakang ibu-ibu pedagang pasar, guru, pensiunan, hingga anak muda yang sehari-hari bekerja sebagai agen BRILink.
Namun, satu hal yang menyatukan mereka semua kekhawatiran akan modus penipuan yang kian canggih.
Di depan layar proyektor, Ari Kusmayadi, Pimpinan Cabang BRI Jeneponto, berdiri dengan tenang. Di tangannya, sebuah ponsel pintar menjadi senjata utama. Bukan untuk memamerkan aplikasi baru, melainkan untuk membongkar satu per satu modus penipuan yang belakangan marak menimpa nasabah.
“Ibu-ibu, Bapak-bapak, hari ini saya tidak akan bicara soal bunga kredit atau saldo minimum. Hari ini kita bicara soal uang beneran—uang yang Bapak Ibu kumpulkan bertahun-tahun, yang bisa lenyap dalam hitungan detik hanya karena satu klik,” ujar Ari membuka sesi.
Suasana hening. Beberapa ibu saling berpandangan.
Panggilan Tak Dikenal: Awal Petaka
Ari memulai dengan cerita nyata. Seorang nasabah bernama Ibu Rahmawati (52), pensiunan guru di Kecamatan Tamalatea, hampir kehilangan seluruh tabungannya senilai Rp37 juta hanya karena menjawab panggilan dari nomor tak dikenal.
“Penipu mengaku dari pusat BRI. Katanya ada pembaruan sistem, minta Ibu Rahmawati menyebutkan nomor rekening, PIN, dan kode OTP yang dikirim ke ponsel. Dalam 10 menit, saldo Rp37 juta lenyap,” cerita Ari sambil memperlihatkan tangkapan layar percakapan palsu.
“Ingat, BRI tidak pernah meminta PIN, password, atau OTP melalui telepon, SMS, maupun WhatsApp. Ini harga mati, tidak bisa ditawar,” tegasnya.
Ia lalu menekankan satu prinsip sederhana namun krusial “Pegang teguh prinsip 3T: Tidak pernah memberikan PIN, Tidak pernah membagikan OTP, Tidak pernah mengklik tautan mencurigakan,” tegasnya.
Modus Baru: “Bantuan Pemerintah” dan “Kartu Mati”
Tak berhenti di situ, Ari memaparkan modus lain yang baru-baru ini marak di Jeneponto, modus undian berhadiah. Sejumlah nasabah menerima WhatsApp berisi tautan yang mengatasnamakan BRI dengan iming-iming hadiah Rp50 juta. Tautan itu ternyata phishing link yang langsung menyedot data perbankan korban.
“Saya sendiri pernah mendapat WhatsApp semacam itu dari nomor asing. Saya buka, tautannya mirip sekali dengan laman resmi BRI. Tapi bedanya, setelah saya isi data, yang muncul bukan hadiah, melainkan notifikasi ‘saldo Anda telah dipindahkan’,” ujar Ari, disambut geleng-geleng kepala para peserta.
Ia juga mengingatkan soal modus “kartu mati” atau pemblokiran rekening palsu. Penipu mengirim pesan seolah dari BRI yang menyatakan kartu ATM telah diblokir dan meminta nasabah menghubungi nomor tertentu. Saat dihubungi, korban diminta menyebutkan data rahasia.
“Faktanya, jika kartu benar-benar diblokir, nasabah cukup datang ke kantor cabang terdekat. Tidak perlu telepon-teleponan,” tambah Ari.
Nasabah Bukan Korban, Melainkan Garda Terdepan
Ari tak hanya memaparkan modus, ia juga membekali para nasabah dengan langkah-langkah pencegahan. Ia menekankan pentingnya verifikasi sebelum bertindak.
“Jika ada yang mengaku dari BRI, telepon, atau minta data, jangan panik. Matikan telepon, lalu hubungi langsung call center BRI di 14017, atau datang ke kantor cabang terdekat. Jangan bertindak berdasarkan rasa takut. Penipu memanfaatkan kepanikan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar nasabah rutin mengecek mutasi rekening melalui aplikasi BRImo, setidaknya seminggu sekali. Jika ditemukan transaksi mencurigakan meski nominalnya kecil, segera laporkan.
“Kadang penipu menguji nasabah dengan transaksi kecil dulu, misalnya Rp10 ribu. Jika tidak dilaporkan, mereka berani mengambil lebih banyak,” ujar Ari.
Setelah sesi edukasi, Jumriah (54), seorang pedagang di Pasar Sentral Karisa Jeneponto, mengaku lega. Ia mengaku hampir menjadi korban beberapa pekan lalu.
“Ada telepon mengaku dari BRI, tanya nomor rekening saya. Untung saya ingat kata Bu Sarinah, agen BRILink langganan saya, bahwa itu penipuan. Saya langsung matikan telepon. Tapi sejak itu saya tetap waswas, takut kalau-kalau ada apa-apa. Sekarang, setelah mendengar penjelasan Pak Ari, saya jadi lebih percaya diri. Saya tahu apa yang harus dilakukan,” tutur Jumriah, wajahnya tampak berseri.
Sementara itu, Amir, seorang guru madrasah, mengaku kini lebih teliti. “Dulu saya sering sembarangan klik tautan undian. Sekarang, saya akan berpikir seribu kali. Bahkan kalau ada SMS dari BRI, saya langsung cek ke aplikasi BRImo dulu. Ini edukasi yang sangat penting,” katanya.
Bukan Sekadar Sosialisasi, Tapi Gerakan Massal
Ari Kusmayadi menegaskan bahwa edukasi semacam ini tidak berhenti pada satu pertemuan. Pihaknya telah menyusun program rutin, termasuk menyasar komunitas agen BRILink dan kelompok ibu-ibu PKK di seluruh kecamatan. BRI Jeneponto juga membuka layanan konsultasi keamanan perbankan gratis bagi nasabah yang merasa ragu.
“Kami ingin menjadikan nasabah sebagai garda terdepan dalam melawan penipuan. Bukan sebagai korban. Karena ketika satu nasabah paham, ia bisa menyelamatkan puluhan orang lain di sekitarnya,” pungkas Ari.
Pelajaran Berharga dari Sebuah Ruang Pertemuan
Di luar, sinar matahari Jeneponto mulai meninggi. Peserta edukasi berangsur pulang, masing-masing membawa buku catatan kecil berisi tips keamanan. Wajah mereka tak lagi cemas, melainkan penuh keyakinan.
Di sudut ruangan, seorang ibu tua masih duduk, membaca brosur yang dibagikan. Ia tersenyum kecil, lalu menggenggam erat buku tabungan di tasnya.
“Sekarang saya tahu. Jangan klik, jangan percaya, jangan panik. Kalau ragu, lapor ke bank,” gumamnya.
Dan dari ruang sederhana itu, satu per satu nasabah BRI Jeneponto berubah dari calon korban menjadi benteng pertahanan paling kokoh melawan kejahatan digital. (*)

Tinggalkan Balasan