MATA SULSEL, MAKASSAR – Di sudut Jalan Bung, Kota Makassar, aroma berbagai jenis parfum memenuhi sebuah outlet sederhana yang kini tampak ramai didatangi pelanggan.
Pada balik ratusan botol bibit parfum yang tersusun rapi, tersimpan kisah tentang keberanian seorang pelaku UMKM yang memilih bertahan, berkembang dan membuka peluang bagi orang lain.
Muh Irsyad Mardin masih mengingat betul awal perjalanan usahanya.
Pada 22 November 2021, ia memulai usaha parfum isi ulang dengan menjadi mitra Executif Parfum yang sekarang menjadi Syntif dari hanya sebuah outlet kecil berukuran sekitar 3 x 1,5 meter. Dengan modal keberanian dan ketekunan, ia merintis usaha tersebut sedikit demi sedikit sambil membangun kepercayaan pelanggan.
Tak ada yang instan.
Hari demi hari dilalui dengan melayani pembeli yang datang silih berganti. Dari usaha sederhana itu, perlahan namanya mulai dikenal hingga akhirnya mampu berkembang menjadi tiga outlet, dua di kawasan Bung dan satu lagi di Samata.
Pertumbuhan itu bukan hanya menghadirkan omzet yang lebih besar, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.
Setiap cabang tersebut dijaga oleh seorang karyawan yang direkrut dari lingkungan sekitar sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat.
Namun perjalanannya menuju titik itu tidak selalu mudah.
Ketika masa perpanjangan kontrak outlet di Samata tiba pada akhir 2025, Irsyad dihadapkan pada kebutuhan dana yang cukup besar.
Ia harus membayar biaya sewa putlet sebesar Rp32 juta, sementara modal yang dimilikinya belum mencukupi.
“Saya mau membayar outlet saat itu Rp32 juta, namun saya masih kekurangan sekitar Rp17 juta, jadi saya memutar otak hingga kemudian memilih mengambil KUR BRI,” kenang Irsyad saat ditemui di outletnya.
Di tengah kondisi tersebut, Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi jalan keluar bagi Irsyad.
Dirinya mengajukan pinjaman sebesar Rp25 juta untuk menjaga keberlangsungan usahanya.
Proses yang cepat membuatnya terkejut.
“Saya cukup kumpul KTP dan Kartu Keluarga, kemudian usaha saya disurvei. Tidak lama kemudian berhasil dan cair hanya dalam waktu tiga hari,” ujar Irsyad.
Baginya, kecepatan proses bukan satu-satunya nilai tambah.
“Bunganya juga sangat ringan, jadi benar-benar membantu pelaku usaha seperti kami,” katanya.
Dana KUR yang diterimanya kemudian dimanfaatkan untuk memastikan outlet tetap beroperasi dan usaha terus berkembang.
“KUR BRI ini tentu sangat membantu bagi kami,” tegasnya.
Meski demikian, Irsyad berharap informasi mengenai mekanisme KUR dapat semakin diperluas kepada masyarakat agar lebih banyak pelaku UMKM memahami manfaat pembiayaan tersebut.
“Harapan saya semoga penjelasan mengenai KUR bisa lebih detail lagi kepada masyarakat. Tetapi secara keseluruhan sangat baik dan sangat membantu kami sebagai pelaku usaha,” katanya.
Keputusan itu terbukti menjadi titik balik.
Outlet yang semula sederhana berubah menjadi lebih luas, lebih nyaman dan mampu menampung lebih banyak produk.
Jika sebelumnya hanya tersedia sekitar 35 botol bibit parfum, kini Syntif Bung memiliki lebih dari 190 varian aroma, mulai dari kategori reguler hingga premium.
Tidak hanya parfum isi ulang, usaha tersebut juga berkembang dengan menyediakan parfum karpet, parfum helm, deterjen, hair and body care, hingga parfum khusus hewan peliharaan.
Harga produknya pun beragam, mulai Rp11 ribu hingga ratusan ribu rupiah sehingga mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Perkembangan usaha itu berdampak langsung pada peningkatan penjualan.
Irsyad menyebut omzetnya meningkat sekitar 30 hingga 40 persen dibanding sebelumnya.
Setiap hari, sekitar 10 hingga 15 pelanggan datang berbelanja. Omzet harian sekitar Rp500 ribu dan pada periode tertentu mampu menembus hingga Rp20 juta dalam sebulan dengan hari buka outlet 6 hari seminggu.

Mayoritas pelanggan berasal dari kalangan mahasiswa, pekerja hingga masyarakat umum yang mencari alternatif parfum berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.
Tidak hanya pembeli langsung di outletnya, produknya ini telah diminati hingga dikirim ke berbagai daerah, termasuk ke sejumlah kota-kota besar di Pulau Jawa, Kalimantan hingga Papua.
Bagi Irsyad, keberhasilan tersebut bukan hanya soal keuntungan pribadi.
Bertahannya usaha berarti lapangan pekerjaan tetap tersedia bagi karyawan yang menggantungkan penghasilan di outlet miliknya.
Semakin berkembang usaha, semakin besar pula peluang ekonomi yang tercipta di lingkungan sekitar.
Namun seiring berjalannya waktu, kini ketiga outlet milik Irsyad dipusatkan menjadi satu, yakni di Syntif Bung.
Bukan tanpa alasan, Irsyad mengaku keputusan itu untuk memudahkan operasional dan pengawasan tokonya, mengingat jarak satu toko ke toko lainnya terbilang cukup jauh.
Kini semua harapan dan semangat itu terpusatkan pada satu lokasi, yakni toko parfum Syntif Bung, yang menjadi wadah perjuangan Irsyad untuk terus tumbuh dan berkembang.
Kisah Syntif Bung menjadi salah satu potret bagaimana akses pembiayaan mampu mengubah arah perjalanan sebuah usaha mikro.
KUR MENJANGKAU UMKM LEBIH LUAS
Bagi BRI, pembiayaan bukan sekedar menyalurkan kredit, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem UMKM agar terus bertumbuh.
Regional Chief Executive Officer (RCEO) Regional 15 Makassar, D Argo Prabowo, menegaskan bahwa pihaknya hadir mendampingi pelaku usaha sejak tahap awal hingga mampu naik kelas.
Menurutnya, KUR menjadi instrumen penting untuk memperluas akses permodalan yang mudah, cepat dan terjangkau bagi UMKM produktif sehingga mereka dapat meningkatkan kapasitas usaha, memperluas pasar, dan menciptakan lapangan kerja baru di daerah.
Argo menyebut BRI juga terus mendorong pelaku usaha agar tidak hanya memperoleh pembiayaan, tetapi juga pendampingan dan penguatan kapasitas bisnis sehingga keberlanjutan usahanya dapat terjaga dalam jangka panjang.
Komitmen tersebut tercermin dari besarnya penyaluran KUR BRI.
Pada 2025, BRI Regional Office Makassar berhasil menyalurkan KUR sebesar Rp16,8 trilliun, melampaui target pemerintah sebesar RP14,6 trilliun.
“Pada 2025, BRI Regional Office Makassar menyalurkan KUR sebesar Rp16,8 triliun, melampaui target pemerintah yang ditetapkan sebesar Rp14,6 triliun,” jelasnya.
Hingga April 2026, penyaluran KUR kembali mencapai Rp4,8 trilliun atau sekitar 104,1 persen dari target proporsional.
Sebagian besar penerima KUR berada pada segmen pinjaman Rp25 juta hingga Rp50 juta, kelompok yang didominasi pedagang kecil, pemilik warung, usaha kuliner, hingga berbagai usaha mikro lainnya yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Data tersebut memperlihatkan bahwa di balik angka trilliunan rupiah yang tersalurkan, terdapat ribuan cerita tentang pelaku usaha yang bertahan, berkembang, dan membuka peluang hidup bagi orang lain.
Berawal dari ruang sempit berukuran tiga meter, kini aroma ratusan varian parfum memenuhi ruanga yang lebih besar.
Bukan hanya wangi yang tersebar, tetapi juga harapan bahwa ketika akses permodalan bertemu dengan kerja keras, sebuah usaha kecil dapat tumbuh menjadi sumber penghidupan bagi orang banyak. (Farez)

Tinggalkan Balasan