file 0000000073187209b82c3876cce17956

Dari Sudut Pasar ke Pelosok Desa: Kisah Agen BRILink yang Mengubah Wajah Transaksi Keuangan di Jeneponto

MATA SULSEL, JENEPONTO – Di sudut sebuah kios kecil di Pasar Sentral Jeneponto, pukul setengah enam pagi, Rabu (10/6/2026), Sarinah (45) sudah sibuk melayani antrean warga yang datang dengan membawa buku tabungan dan ponsel. Dengan sigap, jari-jarinya menari di atas layar mesin EDC milik BRI, sementara mulutnya tak berhenti menyapa setiap pelanggan.

“Bu, ini uangnya Rp300 ribu. Tolong transfer ke anak saya di Makassar,” ujar seorang pedagang sayur, masih mengenakan sarung yang diikat di pinggang.

Dalam hitungan detik, transaksi selesai. Sarinah pun tersenyum.

Empat tahun lalu, Sarinah hanyalah seorang ibu rumah tangga yang mengaku “gagap teknologi”. Kini, ia adalah salah satu dari sekian banyak agen BRILink yang menjadi pahlawan finansial di wilayahnya. Cerita Sarinah hanyalah sebagian kecil dari fenomena yang tengah melanda Kabupaten Jeneponto sebuah lompatan besar dalam layanan keuangan yang mengubah cara masyarakat bertransaksi.

Lonjakan Agen: Antara Kebutuhan dan Peluang

Dalam tiga tahun terakhir, jumlah Agen BRILink di Kabupaten Jeneponto meningkat secara signifikan. Jika pada 2023 tercatat sekitar 800-an agen, kini angka tersebut telah menembus 2.383 agen yang tersebar di berbagai kecamatan, dari Binamu, Turatea, Batang, Kelara, Bontoramba,Tamalatea, Arungkeke, Tarowang, Bangkala, Bangkala Barat hingga pelosok Rumbia.

Fenomena ini bukanlah kebetulan semata. Kepala Cabang BRI Jeneponto, Ari Kusmayadi, menyebut bahwa peningkatan ini didorong oleh kebutuhan masyarakat akan layanan keuangan yang cepat, dekat, dan tanpa birokrasi berbelit.

“Kami melihat bahwa antusiasme masyarakat Jeneponto terhadap layanan digital sangat tinggi. Namun, tidak semua orang memiliki akses ke ATM atau kantor bank. Di sinilah peran Agen BRILink menjadi vital. Mereka hadir sebagai perpanjangan tangan BRI hingga ke tingkat RW dan dusun,” ujar Ari saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (10/6/2026).

Ari menjelaskan bahwa pihaknya gencar melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada calon agen. Tidak hanya soal teknis transaksi, tetapi juga tentang manajemen keuangan dan etika bisnis.

“Kami tidak ingin agen hanya sekadar jadi ‘teller dadakan’. Kami ingin mereka menjadi mitra yang paham akan kebutuhan nasabah dan mampu memberikan solusi,” tambahnya.

Di sisi lain, testimoni para agen BRILink pun tak kalah menarik. Rusdi, seorang agen di Kecamatan Tamalatea, mengaku omzetnya meningkat hingga tiga kali lipat sejak bergabung menjadi agen. Dalam sehari, ia bisa melayani 30 hingga 50 transaksi, mulai dari setoran tunai, tarik tunai, hingga pembayaran tagihan listrik dan BPJS.

“Warga sini sekarang males ke kota karena macet dan ongkos mahal. Makanya mereka lebih milih ke saya. Alhamdulillah, dari komisi aja saya bisa dapat Rp1-2 juta per bulan,”* kata Rusdi, yang sebelumnya hanya bekerja sebagai petani.

Tak jauh berbeda, Hj. Rahmawati, agen BRILink di Desa Bontoramba, mengaku bahwa aktivitasnya sebagai agen telah membuka banyak peluang lain. Dari warung kecilnya yang tadinya hanya menjual gula dan kopi, kini ia juga menjual pulsa, token listrik, dan bahkan menerima pembayaran e-commerce.

“BRILink itu bukan cuma soal transfer. Ini soal kepercayaan. Orang datang, curhat, lalu saya bantu. Kadang ada yang nangis karena terharu bisa kirim uang ke anaknya yang kuliah di Jogja tanpa harus ke bank,” tuturnya sambil tersenyum.

Dari Pasar ke Pelosok

Data BRI menyebutkan, dari total 500 agen BRILink di Jeneponto, sekitar 40 persen berada di kawasan pedesaan. Ini menjadi bukti bahwa layanan keuangan bukan lagi monopoli warga kota. Para agen ini berperan sebagai jembatan antara masyarakat desa dengan sistem perbankan modern.

Salah satu bukti suksesnya adalah berkurangnya keluhan warga yang kesulitan mengambil uang di ATM, terutama saat momen-momen tertentu seperti lebaran, awal tahun ajaran, atau saat pembayaran pupuk bersubsidi.

“Dulu kalau mau ambil uang, harus antre dari jam 7 pagi di ATM. Kadang kehabisan. Sekarang, tinggal ke warung Pak Kades atau Bu Sarinah. Lebih cepat, lebih dekat,” kata Amirullah, seorang petani asal Kecamatan Rumbia.

Masa Depan: Lebih dari Sekadar Agen

Ari Kusmayadi optimistis bahwa tren peningkatan agen BRILink akan terus berlanjut. Ia menyebut bahwa BRI Jeneponto tengah mempersiapkan program “Super Agen,” agen yang tidak hanya melayani transaksi perbankan dasar, tetapi juga kredit mikro, asuransi mikro, hingga produk investasi sederhana.

“Intinya, kami ingin agen BRILink menjadi pusat keuangan digital di setiap desa. Mereka adalah ujung tombak inklusi keuangan di Jeneponto,” pungkas Ari.

Sementara itu, di kios kecilnya, Sarinah kembali melayani pelanggan. Kali ini, seorang ibu muda minta tolong dibelikan kuota internet.

“Ini zamannya serba digital, Bu. Mau bayar apa saja, lewat sini saja. Asal jangan lupa saldonya diisi,” canda Sarinah, disambut tawa pelanggannya.

Di balik layar EDC dan ponsel pintar, agen-agen BRILink ini tidak sekadar memproses transaksi. Mereka tengah menulis ulang kisah ekonomi rakyat satu klik, satu setoran, satu senyuman dalam satu waktu. (*)

 


Diterbitkan

dalam

oleh

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *