Hari Jadi Jeneponto Ke 161, Melirik Sejenak yang Menggelayut di langit Turatea

Arifuddin Lau
1 Mei 2024 05:36
EDUKASI Letters 0 1136
7 menit membaca

By. Rudianto Aidid

Menyambut dan merayakan Hari Jadi Kabupaten Jeneponto, Pj. Bupati Jeneponto memprakarsai bermacam event untuk masyarakat Turatea yang membaur mengedapankan tentang kearifan lokal seperti menghadirkan beragam jenis makanan lokal (food), beragam pakaian adat (fation) dan beragam permainan yang bermuatan lokal (fun/Game). Hal ini layak difahami sebagai komitmen dan harapan Pj. Bupati Bapak Junaedi Bakri S.Sos., MH. Karaeng Le’leng yang menginginkan revitalisasi akan kearifan lokal yang dahulu sangat kuat sebagai suatu budaya Bangsa namun kini redup dengan epos disrupsi.

Bapak Pj. Bupati yang notabene adalah generasi Butta Turatea menyadari hal itu dan ingin mengembalikan suasana kebatinan kita semua bahwa budaya adalah sebagai karakter yang harus diperjuangkan kelestariannya. Setelah menyadari itu kemudian akan mungkin terkenang kembali memori kanak-kanak yang kental dengan aktivitas lokal dizaman kita masing-masing. Alih-alih menikmati masa itu justru menghadirkan kerinduan zaman kanak-kanak yang diceritakan dalam suatu kondisi ivent lokal dikekinian. Ini adalah suasana perasaan pribadi yang mungkin juga terjadi pada diri anda dan siapa saja ataupun pada Bapak Penjabat Bupati Kabupaten Jeneponto ketika dalam kebahagiaan suasana itu.

Seiring riuh gembira rakyat Turatea yang berpesta serasa bersambut gayuh beragam tanya yang menjadi beban sehingga layak menjadi perhatian kita semua saat ini utamanya tentang cita-cita dan keinginan luhur tiap pemerintahan untuk mengangkat kesejahteraan masyarakatnya. Kita ketahui usianya yang 161 tahun saat ini masih bergelayut di langit Turatea berbagai kesulitan untuk menempatkan Jeneponto dalam kondisi yang stabil.

Dalam hal patronase untuk Sustainable Development Goals (SDGs), indikator keberhasilan pembangunan berkelanjutan suatu daerah ketika memprioritaskan peningkatan ekonomi, peningkatan kehidupan sosial dan peningkatan perlindungan lingkungan yang sampai saat ini kita masih berjuang meniti jalan kesitu.
Kondisi ekonomi kita kala ini di intervensi dilevel lokal dan global, berbagai faktor internal maupun eksternal. Dialektika ekonomi saat ini membahas tentang multi faktor yang melibatkan multi disipliner sehingga tidak semudah melihat akar masalahnya.

Namun kita harus berani memilih dan melihat target yang Ingin dicapai dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, yang sebelumnya melalui proses telaah, monitoring dan mencatat secara berkala dan periodik dan akhirnya sampai pada evaluasi.

Tahapan tersebut mesti dilalui jika ingin mengetahui kekurangan dan kelebihan tiap waktu dari suatu aktivitas program sehingga membantu perencanaan yang akurat realistis pada periode selanjutnya. Dengan demikian ketika itu telah dilakukan maka sebenarnya sudah ada arah jalan yang ditetapkan dan harus kita tempuh oleh karena telah menjadi kesepakatan tiap pemangku kebijakan sebagai suatu dokumen perencanaan pembangunan Daerah sebagai root map strategis dan menjadi legalitas formil Peraturan Daerah.

Demikian halnya dengan SDGs pada pembangunan sosial kabupaten Jeneponto, dalam berbagai hal kondisinya juga terkoreksi oleh kondisi ekonomi masyarakat, kemudian status kesehatan dan pendidikan masyarakat secara umum. Namun secara khusus pendidikan masyarakat secara spiritual dapat membantu mengurangi masalah-masalah sosial dan mendukung kesehatan masyarakat.

Memperhatikan hal ini, pada masa sebelumnya telah ada gagasan baik dari Pemerintah Kabupaten Jeneponto untuk memperhatikan pendidikan spiritual dan memberi peran lembaga pendidikan pesantren yang banyak menghasilkan generasi-generasi Qurani. Bahkan menjadi strategis pembangunan manusia dengan program mencetak 1000 Hafidz/ah di era lalu. Ini baik untuk dilanjutkan oleh karena kekuatan generasi kita dimasa datang adalah seharusnya memiliki ketangguhan – multi power – oleh karena kita berada dalam suatu kondisi yang kadang membingungkan dan begitu serba cepat. Sadar atau tidak saat ini kita telah menghadapi kondisi yang kemudian disebut VUCA condition. Kondisi Apa itu?, Warren Bennis dan Burt Nanus dua orang ilmuan Bisnis dan leadership Amerika telah menganalisa dan hasil temuan tesisnya mendapati suatu kondisi dunia dengan istilah VUCA dari kata volatility, uncertainty, complexity, ambiguity.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tag Populer

Belum ada konten yang bisa ditampilkan.