JENEPONTO, matasulsel.com – Lebaran 1446 H di Jeneponto, bukan hanya tentang sholat Id di lapangan sepak bola Bambu Hijau Desa Bulo Bulo Kecamatan Arungkeke Kabupaten Jeneponto, 31 Maret 2025

Yang lebih seru adalah petualangan kuliner pasca lebaran yang membuat perut kami bekerja ekstra keras.

Perjalanan dimulai di rumah Mama Suri, pusat gravitasi keluarga besar kami. Bayangkan, sate ayam, palekko, bakso, buras, kerupuk, dan kue kering beraneka rasa memenuhi meja hingga hampir tumpah.

Rasanya seperti masuk ke negeri permen raksasa.

Setelah salam-salaman dan maaf memaafkan yang bercampur tawa dan canda dan mungkin sedikit air mata haru kami melanjutkan perjalanan ziarah kubur.

Awalnya, suasana agak sendu, doa-doa khusyuk dipanjatkan untuk orang tua, ipar, om, dan suami yang telah tiada.

Tapi, keajaiban terjadi, Foto bersama di tengah pekuburan, Kenapa tidak? Tiba-tiba, suasana kembali riuh, penuh tawa dan canda.
Ya, jiwa-jiwa orang Jeneponto memang tak pernah kehilangan semangat.

Perut mulai keroncongan. Untungnya, rumah Daeng Baji siap menampung sebelum santap siang di rumah Aba dan Ummi Janna sudah menanti, Udang rebus, coto ayam, dan ikan bakar yang lezatnya bikin lidah bergoyang.

Rasanya belum cukup waktu untuk mencerna, undangan makan malam sudah datang. Kali ini, giliran rumah Ummi Ani dan Aba Zaky di Kompleks Mutiara 77.

Dua keluarga besar, Bulo Bulo dan Lembangloe, bersatu kembali. Konro kuda, coto ayam, ketupat, dan buras kembali beraksi.

Perut sudah hampir meledak, tapi godaan konro kuda terlalu kuat untuk ditolak.

Keesokan harinya, petualangan kuliner masih berlanjut, pagi-pagi buta, telepon sudah berdering, ayam kampung bakar dan pallukacci di rumah Haji Koboy dan Mamamia sudah siap disantap.

Nikmatnya luar biasa, apalagi dengan sayur kelor andalan. Belum sempat mencerna ayam kampung, panggilan santap siang sudah datang lagi, kali ini di rumah Bapak Mus dan Etta Vi.

Tiktok-an, bagi-bagi THR, dan kehebohan para bocah pecah, ada Owner dari Desa Ara yang bagi-bagi THR, keluarga besan dari Bangkala juga hadir. Hidangan gantala jarang (kuda) jadi penutup yang sempurna.

Keesokan hari, semua berpamitan, mama Jua dan Owner Ara kembali ke Bulukumba, Bapak Jamal dan Mama Lina ke Pallangga Gowa. Semua keluarga pulang dengan hati yang penuh semangat dan persaudaraan. Semoga tahun depan, kita semua bisa berkumpul lagi, lebih sehat, dan lebih bahagia, Amin.

Dan semoga tahun depan, cerita seru bisa kembali hadir lebih lengkap untuk dibagikan. Ini semua terlalu indah untuk dikenang, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin. (Oji Pajeka).