JOIN Makassar Kolaborasi KONI Sulsel Gelar Diskusi Media, Ini yang Terungkap!

Redaksi
25 Sep 2022 08:36
ORGANISASI 0 49
3 menit membaca

MAKASSAR, MATA SULSEL – Dewan Pengurus Daerah Makassar Jurnalis Online Indonesia (JOIN) bersama Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Sulawesi Selatan, sukses menyelenggarakan diskusi media di Kafe Baca Jalan Adhyaksa nomor 2 Makassar, Sabtu 24 September 2022.

Acara Diskusi Media, Media Diskusi di inisiasi penuh oleh DPD JOIN Makassar ini, mengambil tema “Sulawesi Selatan Menuju Puncak Prestasi Harapan dan Tantangan” dengan menghadirkan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Selatan dan diwakili oleh Prof. Dr. H. Wasir Thalib, M.Si dan Dr. Ahmad Rum Bismar, M.Pd.

Acara diskusi media ini, merupakan sesi ke 5 dari rangkaian acara Diskusi Media Media Diskusi dengan pengarah diskusi Arwan D. Awing (Humas DPW JOIN Sulsel).

Sebagai pembicara pertama, Prof. Wasir membuka dengan pemaparan terkait Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Kabupaten Sinjai dan Kabupaten Bulukumba yang akan berlangsung pada tanggal 22 Oktober hingga 30 Oktober 2022.

“Jadi apabila kita hitung sisa 28 hari lagi, namun kita masih terkendala pada pendanaan. Karena KONI Sulsel itu hanya mendapat dana hibah dari Pemprov sebesar 5 M, padahal diketahui 1.6 M dana tersebut kita pakai untuk membayarkan utang kegiatan lalu, jadi sisanya itu sebesar 3.4 M yang digunakan untuk pembiayaan Porprov,” ucapnya.

“Apabila kita berkaca pada Porda 2018 di Pinrang, dana yang disediakan sekitar 20 M dan yang terserap untuk kegiatan Porda itu sekitar 12 M, tentu itu menjadi tantangan bagi KONI,” ulas Prof Wasir.

Ditambahkan pula, tantangan berikutnya yaitu kurangnya turnamen, kurangnya kualitas latihan para atlet dan tentu kesejahteraan para atlet di Sulsel.

“Faktor kesejahteraan inilah yang membuat para atlit kita bermigrasi ke daerah lain, padahal Sulsel merupakan pencetak atlet,” kuncinya.

Sementara itu Dr. Ahmad Rum yang akrab disapa Rum ini, menyoroti terkait sistem kepelatihan.

“Untuk mendapatkan atlet berprestasi tentu dibutuhkan sistem kepelatihan berbasis saintific atau berbasis ilmu pengetahuan. Tentu ini tak lepas lagi dari pendanaan bagi olahragawan kita,” terangnya.

“Contohnya saja untuk pemeriksaan doping saja, mesti kita kirim ke Korea, tentu ini memakan waktu dan kita telah kalah dari Thailand dan Malaysia yang telah memiliki tes doping ini,” tambahnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tag Populer

Belum ada konten yang bisa ditampilkan.