“Filosofi badik ini menandakan di depan harus tajam dan runcing untuk membuka jalan demi kesejahteraan rakyatnya. Manakala di tengah, punya keharusan untuk melindungi dan mengayomi. Manakala di belakang, sebagai gagang, pegangan, sekaligus pendorong untuk kemajuan rakyatnya. Simbol itu kepada Nurdin Halid untuk kepemimpinan di Sulsel,” tutur Daeng Tutu, pemain sinrilik saat mengiringi proses penyerahan cenderamata dari Andi Ago ke NH.

Pasangan Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar ini kemudian mengungkapkan, penyerahan badik pusaka tersebut menambah suntikan semangat dan keberanian dalam bertarung pada Pilgub Sulsel. Karena itu, dirinya berkomitmen tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang telah diperolehnya.

“Ini semakin mempertebal keberanian saya, badik sebagai simbol dan lambang kejantanan dan perlawanan. Bukan kepada siapa, tapi untuk melawan kemiskinan, kesenjangan, kezaliman, dan intimidasi yang dirasakan masyarakat Gowa,” kobarnya. (*)